Harga Minyak Dunia Menguat Karena OPEC

Harga Minyak Dunia Menguat Karena OPEC

Daftarhargakomoditi.web.idHarga minyak menjadi kuat karena OPEC. Menguatnya harga minyak Indonesia di cek oleh bursa New York Mercantile Exchange dan pengecekan tersebut berdasarkan data mulai dari januari sudah menguat.

Dengan adanya keputusan ini, menjadikan harga minyak WTI kontrak Januari di rilisan bursa New York Mercantile Exchange menguat 0,09 (0,16%) ke posisi US$ 57,39/barel.

Sedangkan harga minyak jenis Brent, rilisan pasar ICE Future di London dalam posisi melemah 0,46 (0,73%) di level US$ 63,57/barel.

Sejak bulan lalu memenag perdagangan minyak mampu naik dengan kisaran rata-rata 5,6%. Di rapat evaluasi yang pertama lalu memang sudah diketahui jika akan ada pemangkasan stok produksi minyak mentah sebesar 1,8 juta bph, jika minyak mampu naik 17%.

Penguatan harga minyak mentah dunia memang juga dipengaruhi dukungan kuat dari pihak Arab Saudi dan Rusia didalam melanjutkan waktu pemangkasan jumlah produksi minya sebanyak 1,8 juta bph. Semula memang akan sampai bulan Maret 2018 dan sesudah keputusan akan sampai akhir tahun 2018 nanti.

Baca juga : Flynn Redam Melambungnya Harga Minyak

Sebelum adanya pertemuan, memang sehari sebelumnya ada pertemuan tertutup 6 menteri dan diketahui kalau Rusia dan Iran sama sekali tak menginginkan adanya perpanjangan pemangkasan produksi minyak yang usai di Maret 2018 nanti. Namun dua negara ingin jika ada sebuah evaluasi ulang lagi di bulan Juni 2018.

Dalam laporan, pihak Nigeria dan Libya akan memulai aksi pembatasan produksi di awal tahun 2018. Jika masih banyak negara yang tidak setuju masa perpanjangan batasan sampai akhir tahun, maka selepas Maret pembatasan ini akan tidal diberlakukan lagi.

EIA melaporkan jika sejak pekan lalu produksi minyak AS sudah mengalami kenaikan sebesar 24 ribu bhp ke kisaran 9,68 kuta bph. Dan angka produksi ini memang masih ada di bawah total produksi dari Rusia dan Arab Saudi.

Flynn Redam Melambungnya Harga Minyak

Flynn Redam Melambungnya Harga Minyak

Daftarhargakomoditi.web.idHarga minyak yang meningkat membuat parah masyarakat resak. Memang minyak yang naik tidak setinggi yang di pikirkan namun bagi sebagian masyarakat yang tidak mampu hal ini cukup membuat beban bagi kehidupan. Berikut mengapa minyak bisa naik di karenakan dibawah ini.

peningkatan ini memberikan manfaat bagi beberapa pihak. Dampaknya adalah terungkapnya kasus Michael Flynn yang mampu membuat pasar dunia goyah.

Sedang harga minyak jenis Brent dalam pasaran ICE Futures London juga nampak mengalami pelemahan sekitar $1,10 poin (1,76%) ke posisi $63,73 / barel. Meski selama seminggu lalu, minyak Brent alami mengalami kenaikan sebesar 0,4%.

Usai rapat evaluasi pertama mengenai pemangkasan produksi minyak 1,8 juta bph, saat itu harga minyak mengalami kenaikan 18% dan ini harga terbaik sejak Mei lalu. Masih menguatnya harga minyak dunia saat ini memang masih dipengaruhi adanya perpanjangan masa pemangkasan sampai akhir tahun 2018 nanti.

Pengaruh keputusan Rusia didalam keputusan perpanjangan, mampu melegakan pasar usai Rusia ragu jika keputusan itu hanya akan berlaku sampai akhir 2017 ini. Dengan keputusan ini produksi minyak AS bakal akan terus ditambah dan akibatnya pasokan minyak dunia kedepan akan masih berlimpah.

Baca juga : Harga Bawang Putih Terus Naik

Rusia juga senang akan keputusan OPEC yang mengajak kerja sama Libya dan Nigeria didalam batasan pasokan karena dua negara tersebut memang selama ini menjadi dua negara dengan pasokan besar dan angka kapasitas keduanya memang ada di atas batasan normal dunia.

Dalam rilisan terakhir EIA, mengenai angka produksi minyak mentah dari AS, di pekan lalu saja angka produksi di negara Paman Sam sudah naik sebesar 24 ribu bph ke 9,68 juta bph.

Harga Bawang Putih Terus Naik

Harga Bawang Putih Terus Naik

Daftarhargakomoditi.web.id – Semakin hari harga bawang putih semakin naik menjelang lebaran yang semakin dekat terus naik apakah akan naik terus sampai di kisaran berapakah bawang putih ini akan tetap naik. Berikut kali ini Daftarhargakomoditi.web.id akan memberikan ulasan lengkapnya dibawah ini.

Pekan ketiga ramadhan sejumlah harga komoditas dibeberapa daerah terlihat sudah mengalami kenaikan secara perlahan. Harga komoditas pangan seperti, cabai, bawang, dll terlihat sudah mengalami lonjakan. Harga bawang putih di beberapa pasar tradisional di Kota Solo terpantau mengalami lonjakan. Kenaikan harga komoditas bawang putih impor itu terutama untuk jenis kating yang bukan termasuk sasaran stabilisasi pangan pemerintah sesuai harga eceran tertinggi (HET)

Menurut keterangan salah seorang pedagang dipasar Legi, Sri Rahayu menjelaskan, harga bawang honam saat ini perlahan sudah mulai turun dan dibandrol dengan harga Rp 20.000 perkg. Berbeda ketika diawal ramadhan yang sempat menyentuh Rp 25.000 perkg. Sebab pasokan bawang putih impor dari Vietnam sudah banyak.

Selama ini, operasi pasar yang dilakukan pemerintah hanya mengincar bawang putih honam dengan HET maksimal Rp 38.000 perkg. Namun permintaan masyarakat justru lebih banyak terhadap bawang putih jenis kating, yang berasal dari China.

Baca juga : Sangat Sulit Mencari Beras Bagus

Masyarakat banyak yang memilih bawang jenis kating, sebab dari rasa lebih enak dibanding jenis honam. Stok kating dari China sudah lama kosong, sehingga banyak para pedagang yang menawarkan kating dari Korea yang seharga Rp 45.000 perkg.

Walau bawang putih kating mengalami lonjakan, namun untuk harga kebutuhan pokok lainnya masih terpantau normal, dan tidak terlalu mengalami kenikan harga yang signifikan.

Sangat Sulit Mencari Beras Bagus

Sangat Sulit Mencari Beras Bagus

Daftarhargakomoditi.web.idBeras bagus sulit di temukan di karenakan tidak banyak petani yang ingin menamamnya karena beras ini tidak banyak orang yang mau menurut petani kebanyakan orang lebih memilih beras biasa dari pada beras kelas utama. Berikut kali ini Daftarhargakomoditi.web.id akan memberikan ulasan lengkapnya dibawah ini.

Sangat sulit untuk menghitung jumlah produksi beras khusus, hal tersebut karena jumlah petani yang menanam beras ini masih terhitung minim, sementara beras khusus sangat beragam. Saat ini pemerintah masih terus melakukan diskusi untuk mengelompokan beragam jenis beras khusus tersebut. karena banyak petani yang berbeda beda menanam beras khusus, dan produksinya masih sulit dihitung.

Pengelompokan beras khusus mengalami kendala dari jenisnya, sebab jenis beras khusus cukup banyak. Ditambah dengan data terbaru yang belum dimiliki. Menghitung dari produksi sulit, karena petani beras khusus masih sedikit. Benih beras ini tidak dikeluarkan oleh pemerintah. beras merah dan beras hitam dikeluarkan pemerintah tetapi tidak banyak

Saat ini luas areal sawah untuk beras khusus masih terbilang minim. dari 8 juta hektar luas sawah, hanya ada sekitar 100.000-300.000 hektar sawah yang ditanami beras khusus dan sisanya di tanam jenis padi biasa. Banyaknya jumlah petani yang menanam beras khusus masih mengikuti permintaan dipasar. Namun untuk saat ini, masih sedikit masyarakat di Indonesia yang tertarik mengonsumsi beras khusus.

Baca juga : Memburuknya Harga Jagung

Sementara itu, proses menanam beras khusus juga lebih sulit dibandingkan dengan beras biasa. Seperti menanam beras organik yang harus melalui uji coba laboratorium dulu sebelum mendapatkan sertifikat organik. beras organik juga memiliki berbagai tingkatan.

Ada juga beras semi organik, yang dimana proses penanamannya tidak menggunakan pupuk nonorganik, namun bila terserang hama, petani dapat menggunakan pestisida

Memburuknya Harga Jagung

Memburuknya Harga Jagung

Daftarhargakomoditi.web.idMemburuknya harga jagung membuat petani jagung di Indonesia mengalami kewalahan di karenakan tidak dapatnya penghasilan lagi karena petani jagung terutama di Gorontalo hanya mengharapkan jagung untuk memenuhi kebutuhan. Berikut kali ini Daftarhargakomoditi.web.id akan memberikan ulasan lengkapnya dibawah ini.

Trend harga jagung dunia yang melandai bikin petani di Gorontalo enggan jual hasil produksi untuk ekspor. Alhasil, neraca perdagangan luar negeri propinsi Serambi Madinah tersebut defisit dalam dua bulan berturut-turut.

Data badan Pusat Statistik (BPS) tunjukkan, dari sejak Desember 2016 sampai Februari 2017, ekspor Gorontalo nihil. Jadi, secara kumulatif pada dua bulan pertama 2017, ekspor Gorontalo menurun 100%. Di bulan Januari-Februari 2016, Gorontalo masih tetap cetak ekspor bungkil kopra sebesar US$870. 000.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI), Suryono menyampaikan kinerja ekspor Gorontalo begitu di pengaruhi oleh komoditas jagung sebagai andalah propinsi itu. Untuk sekarang ini harga jagung internasional benar-benar masih tak menarik untuk para pengusaha, ” tuturnya, Senin 10/4/2017.

Baca juga : Bersautan Di Pasar Jokowi dan Sandiaga

Data BPS , ekspor jagung selama 2016 juga nihil. Alhasil, ekspor Gorontalo terkoreksi sampai 86. 27% jadi tinggal US$4, 30 juta.Sepanjang tahun 2015, ekspor Gorontalo meraih US$31, 28 juta dimana 85, 24% salah satunya datang dari ekspor jagung. Nyaris semua ekspor Gorontalo pada 2015 di kirim ke Filipina.

Biro Statistik Filipina melansir, mulai sejak 2016 impor jagung mulai berpindah ke Thailand. Pada 2015, impor jagung Filipina Indonesia meraih 44, 5% dari total impor 518. 756 ton. dalam kurun waktu satu tahun berselang impor jagung dari Indonesia nihil sedang impor jagung dari Thailand meraih 76, 58% dari keseluruhan impor sebesar 717. 944 ton.

Anjloknya Haraga Minyak Mentah

Anjloknya Haraga Minyak Mentah

Daftarhargakomoditi.web.id – Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April 2019 ditutup US $ 1,78 menjadi US $ 55,48 per barel di New York Mercantile Exchange, level terendah sejak 14 Februari. .

Harga minyak Brent untuk pengiriman April 2019 berakhir turun US $ 2,36 ke level US $ 64,76 per barel di bursa ICE Futures Europe di London. Referensi mentah global ini dikutip pada tingkat premium US $ 9,28 terhadap WTI.

Melalui Twitter, Trump meminta Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk tidak terlalu agresif dengan harga minyak. Melalui akunnya, Trump juga memperingatkan bahwa dunia tidak bisa menerima kenaikan harga.

Retorika Trump dengan kartel minyak tersebut telah memengaruhi perubahan harga yang besar tahun lalu, ketika ia menekan OPEC untuk menjaga minyak tetap mengalir demi membantu konsumen.

“Cuitan itu pada dasarnya menusuk balon yang telah mendorong harga naik pekan lalu,” ujar Tamar Essner, seorang analis di Nasdaq Inc., New York.

“Rally minyak sebagian besar ditopang pemberitaan bahwa Arab Saudi pada khususnya akan fokus pada pengurangan ekspor dan melampaui apa yang semula mereka janjikan pada Desember,” lanjut Essner.

Intervensi Trump dilancarkan setelah harga minyak naik sekitar 22% tahun ini karena langkah pengurangan produksi oleh OPEC dan sekutunya, meredanya kekhawatiran soal dampak ekonomi akibat perang perdagangan AS-China, dan pengenaan sanksi oleh Washington terhadap minyak asal Venezuela.

Kini, tekanan dari Trump sekali lagi membuat Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya terikat.

Sehubungan dengan pergerakan harga baru-baru ini, baik minyak acuan AS dan internasional telah berada di dekat wilayah jenuh beli (overbought).

Pada Jumat (22/2), indeks kekuatan relatif 14 hari untuk minyak berjangka Brent London diperdagangkan naik ke dekat 70, level kunci yang menunjukkan kemungkinan overbought.

“[Trump] telah berhasil berbicara tentang pasar yang lebih rendah, tidak diragukan lagi,” ujar Bob Yawger, direktur divisi berjangka di Mizuho Securities USA.

“Dengan minyak mendekati atau di wilayah overbought, Anda membutuhkan percikan seperti cuitan-nya pagi ini yang kurang lebih menekan OPEC,” tambah Yawger.

Menurut Giovanni Staunovo, seorang analis di UBS Group AG, pasar mungkin akan melihat sikap yang kurang agresif soal pengurangan pasokan dari Saudi. Komentar Trump dipandang mungkin akan menghentikan negara ini melakukan pengurangan yang lebih dalam.

“Tapi saya masih berpikir Arab Saudi memiliki insentif untuk melihat harga minyak yang lebih tinggi, dan melakukan pemangkasan yang disepakati pada Desember, ketika OPEC dan mitranya sepakat untuk memangkas minyak sebesar 1,2 juta barel per hari,” jelas Staunovo.

Risiko untuk OPEC datang dalam bentuk No Oil Producing and Exporting Cartels Act (NOPEC). RUU yang diangkat kembali oleh legislator AS ini dapat membuat OPEC tunduk pada undang-undang antimonopoli Sherman yang digunakan lebih dari seabad lalu.

Dukungan Kongres untuk RUU itu meningkat tahun lalu setelah harga minyak mendekati level tertingginya dalam empat tahun, dan Trump secara terbuka mengecam OPEC.

Di masa lalu, Gedung Putih menentang undang-undang NOPEC, dengan pemerintahan George W. Bush dan Barack Obama mengancam akan memvetonya. Kekhawatiran OPEC kini adalah bahwa Trump dapat bersikap berbeda dengan para pendahulunya.