Hampir Semua Komoditas Alami Inflasi

Hampir Semua Komoditas Alami Inflasi

Daftarhargakomoditi.web.id – Perlu anda ketahui hampir semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi pada Juli 2019. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi inflasi sebesar 0,31 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 138,59. Dari 82 kota IHK, 55 kota mengalami inflasi dan 27 kota mengalami deflasi.

“Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,88 persen dengan IHK sebesar 148,33. Sementara, inflasi terendah terjadi di Makassar sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 139,39 persen,” ungkap Kepala BPS Suhariyanto. Suhariyanto melanjutkan, deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 1,55 persen dengan IHK sebesar 158,34. Sementara, deflasi terendah terjadi di Gorontalo sebesar 0,02 persen dengan IHK sebesar 132,42.

1. Ayam bakar menyumbang inflasi terbesar pada komoditas makanan
Suhariyanto menjelaskan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,24 persen. Terjadi kenaikan indeks dari 147,27 pada Juni 2019 menjadi 147,63 pada Juli 2019. Subkelompok makanan mengalami inflasi 0,32 persen, minuman tidak beralkohol sebesar 0,17 persen, dan tembakau dan minuman beralkohol sebesar 0,08 persen.

“Kelompok ini menyumbang inflasi 0,04 persen. Komoditas yang dominan terhadap inflasi yaitu ayam bakar sebesar 0,01 persen,” jelasnya.

2. Upah tukang bukan mandor menyumbang inflasi terbesar
Sementara, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,14 persen. Terjadi kenaikan indeks dari 132,34 pada Juni 2019 menjadi 132,52 pada Juli 2019.

Suhariyanto menjelaskan, semua kelompok tersebut mengalami inflasi. Di antaranya biaya tempat tinggal 0,11 persen, bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 0,07 persen, perlengkapan rumah tangga sebesar 0,12 persen, dan penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,36 persen.

“Kelompok ini menyumbang inflasi 0,04 persen. Komoditas yang dominan terhadap inflasi yaitu upah tukang bukan mandor sebesar 0,01 persen,” jelasnya.

3. Emas perhiasan menyumbang inflasi terbesar pada kelompok sandang
Pada kelompok sandang, kata Suhariyanto, mengalami inflasi sebesar 0,70 persen. Terjadi kenaikan indeks dari 125,10 pada Juni 2019 menjadi 125,97 pada Juli 2019. Kelompok sandang laki-laki menyumbang inflasi sebesar 0,24 persen, sandang wanita sebesar 0,21 persen, sandang anak-anak sebesar 0,18 persen, dan barang pribadi dan sandang lain sebesar 1,87 persen.

“Kelompok ini menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang dominan terhadap inflasi yaitu emas perhiasan sebesar 0,03 persen,” kata Suhariyanto.

Baca Juga : Harga Komoditas Turun Penerimaan Pajak Menjadi Rendah

4. Uang sekolah dan bimbel menyumbang inflasi
Suhariyanto melanjutkan, terjadi inflasi 0,92 persen pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga. Terdapat kenaikan indeks dari 126,33 pada Juni 2019 menjadi 127,49 pada Juli 2019.

Menurut Suhariyanto, seluruh subkelompok mengalami inflasi, di antaranya subkelompok pendidikan sebesar 1,16 persen, kursus atau pelatihan sebesar 2,39 persen, perlengkapan atau peralatan pendidikan sebesar 0,66 persen, rekreasi sebesar 0,03 persen, dan olahraga sebesar 0,09 persen.

“Kelompok ini pada Juli 2019 menyumbang inflasi sebesar 0,07 persen. Komoditas yang dominan terhadap inflasi yaitu uang sekolah SMA sebesar 0,02 persen, uang sekolah SD, uang sekolah SMP, dan bimbingan belajar masing-masing sebesar 0,01 persen,” jelasnya.

5. Tarif angkutan kota dominan menyumbang deflasi
Dari semua kelompok pengeluaran, hanya transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar 0,36 persen. Terjadi penurunan indeks dari 134,66 pada Juni 2019 menjadi 134,18 pada Juli 2019. “Kelompok ini menyumbang deflasi sebesar 0,06 persen,” kata Suhariyanto.

Dari empat subkelompok pada kelompok ini, subkelompok yang mengalami deflasi adalah transportasi sebesar 0,58 persen. Menurut Suhariyanto, hal itu disebabkan menurunnya tarif angkutan antar kota yang menyumbangkan deflasi 0,04 persen.

Sementara, subkelompok komunikasi dan pengiriman mengalami inflasi sebesar 0,10 persen dan subkelompok sarana dan penunjang transportasi sebesar 0,12 persen. Subkelompok jasa keuangan tercatat tidak mengalami perubahan.

“Komoditas yang dominan menyumbang deflasi yaitu tarif angkutan antar kota sebesar 0,04 persen, tarif angkutan udara sebesar 0,03 persen, dan tarif kereta api sebesar 0,01 persen. Sementara, komoditas yang dominan menyumbang yaitu sepeda motor sebesar 0,01 persen,” jelasnya.

Harga Komoditas Turun Penerimaan Pajak Menjadi Rendah

Harga Komoditas Turun Penerimaan Pajak Menjadi Rendah

Daftarhargakomoditi.web.id – Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan perpajakan sampai dengan Juli 2019 sebesar Rp810,7 triliun. Angka tersebut baru mencapai 48,6 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, yang dipatok sebesar Rp1,643 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan realisasi penerimaan perpajakan hingga dengan Juli 2019 tumbuh sebesar 3,9 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tumbuh 14,6 persen.

“Penerimaan pajak dan perpajakan masih di bawah 50 persen, pertengahan tahun ini. Kalau kita lihat breakdown penerimaan perpajakan tumbuh 3,9 persen lebih rendah dari tahun lalu 14,6 persen,” katanya di Gedung Kementerian Keuangan.

1. PPH hingga Juli mencapai Rp440,17 triliun
Ia memaparkan, untuk realisasi penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) sampai dengan Juli 2019 mencapai Rp440,17 triliun, tumbuh 4,66 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

“Jika dilihat lebih detail, PPh migas menyumbangkan Rp404,67 triliun, tumbuh 5,27 persen dari Juli tahun lalu. Sementara PPh non migas menyumbang Rp 35,50 triliun, terkontraksi 1,84 persen,” ungkapnya.

Baca Juga : Ekspor Pertanian Indonesia Selalu Meningkat

2. Pemerintah telah memberikan insentif perpajakan
Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut juga menjelaskan, sepanjang Januari-Juli pemerintah memberikan insentif perpajakan dalam kerangka belanja perpajakan atau tax expenditure dengan memberikan fasilitas perpajakan. Hal itu, menurutnya, guna mendorong ekonomi inklusif untuk meningkatkan daya saing, dan membangun iklim investasi.

“Reformasi pajak akan terus kami lakukan guna meningkatkan kinerja penerimaan,” kata dia.

3. Melemahnya sektor komoditas menjadi kendala penerimaan pajak Januari – Juli
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jendral pajak Robert Pakpahan mengatakan, yang menjadi kendala penerimaan pajak hingga Juli 2019, karena sektor pajak berbasis komoditas seperti batu bara dan minyak masih dalam tren melemah.

“Sektor yang berbasis komoditas semuanya melemah, sementara sektor konstruksi masih cenderung merestitusi pajak,” tuturnya.

Banyaknya Pendapatan Impor Tahun Lalu Capai Puluhan Miliar

Banyaknya Pendapatan Impor Tahun Lalu Capai Puluhan Miliar

Daftarhargakomoditi.web.id – Tahun lalu Komoditas Indonesia mengalami kemajuan pesat sekali sampai menghasilkan puluhan miliar, mari kita simak kabar tersebut seperti yang tertulis dibawah ini.

Komoditas Impor Indonesia – Hallo salam sejahtera dan bahagia buat sahabat Juraganers seluruh Indonesia dimanapun kalian berada, terimakasih telah mengunjungi laman artikel pada kanal ekspor impor. Tentu, bagi kalian yang tertarik seputar dunia perdagangan internasional, artikel kali ini dapat membuka wawasan anda seputar hal tersebut.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas apa saja sih jenis komoditas impor Indonesia yang memiliki nilai impor tertinggi pada tahun 2018? Dan apa saja komoditi yang sering diimpor ke dalam negeri sang saka merah putih? Temukan jawabannya disini!

Meskipun Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah atau bisa disebut sebagai negara kaya raya serta banyak sekali komoditas ekspor Indonesia yang melalang ke berbagai belahan negara lain seperti kopi, karet, nikel, rotan dan lain-lain.

Namun, Indonesia juga harus melakukan proses impor barang dari luar negeri mulai produk pangan, bahan baku penolong hingga barang modal. Nah Juraganers, kira- kira apa saja komoditas impor Indonesia yang paling banyak dibeli dari luar negeri?

Berikut 15 barang yang paling banyak diimpor berdasarkan data BPS secara akumulatif sepanjang awal tahun 2018

5 komoditas pangan impor di Indonesia sepanjang Januari 2018

Hingga sekarang, Indonesia masih harus terus melakukan impor beberapa komoditas barang konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Berikut 5 jenis komoditas impor Indonesia yang memiliki nilai tinggi sepanjang bulan Januari 2018.

1. Daging lembu beku tanpa tulang sebesar US$ 15,1 miliar

Sudah lama diketahui bahwa sistem produksi sapi dalam negeri belum bisa diandalkan. Segmen usaha peternakan masih belum diminati secara komersil maka tak heran kalau Indonesia masih harus melakukan impor untuk komoditas pangan satu ini. Peningkatan kebutuhan konsumen terus meningkat apalagi waktu khusus terjadi lonjakan permintaan seperti bulan puasa atau hari raya tiba.

2. Susu bubuk sebesar US$ 11,3 juta

Komoditas impor Indonesia yang juga masih tinggi adalah kebutuhan susu bubuk. Kualitas susu sapi Indonesia masih kalah jauh dengan negara penghasil susu terbesar, Selandia Baru. Jangan heran kalau negeri ini masih harus melakukan impor susu dalam bentuk skim (bubuk) dari Selandia Baru dan Australia. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, setidaknya 80% kebutuhan susu di Indonesia merupakan hasil impor luar negeri.

Baca Juga : Bahan Komoditas Naik Daya Tarik Pun Menurun

3. Beras khusus sebesar US$ 4,7 juta

Negara agraris namun tidak mampu melakukan swasembada beras memang patut disoroti. Beras menjadi salah satu komoditas impor Indonesia yang selalu menduduki jajaran sepuluh besar komoditi impor setiap tahun. Negara yang mensuplai beras di Indonesia antara lain Vietnam, Thailand, Pakistan, India, Myanmar dan lain-lain.

4. Apel sebesar US$ 4,6 juta

Indonesia juga mengimpor apel dari Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan buah dalam negeri.

5. Anggur US$ 4 juta

Meski diberitakan angka pada Januari 2018 cenderung menurun dari angka impor pada Desember 2017, anggur tetap menjadi komoditas impor Indonesia tertinggi untuk buah-buahan. Negara yang memasok anggur antara lain China, Peru, Amerika Serikat dan lain-lain.

Tentu masih ada banyak bahan pangan yang diimpor Indonesia dari luar negeri seperti beras, gandum, daging ayam, susu, buah-buahan dan sebagainya. Kebijakan impor memang harus disoroti agar stabilitas harga lokal tetap seimbang. Namun, nilai impor bisa berubah sewaktu-waktu mengingat kebutuhan masyarakat yang tidak menentu.

Pada bulan-bulan penuh permintaan seperti hari raya, kebutuhan barang impor khususnya produk pangan atau konsumsi ini bisa saja meningkat drastis.

5 Komoditas Impor Bahan Baku Indonesia Sepanjang Tahun 2018

Bahan baku atau merupakan jenis bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi. Untuk komoditas impor Indonesia di sektor bahan baku atau penolong Indonesia yang memiliki akumulatif tinggi pada bulan Januari 2018 sebagai berikut.

1. Peralatan helikopter sebesar US$ 143 juta

Anda pasti sudah tahu bahwa negeri ini memerlukan suplai peralatan helikopter dari negara lain karena PT DI belum mampu memproduksi pesawat atau helikopter sendiri. Ya, PT DI didesak mampu merancang helikopter sendiri untuk mengurangi impor helikopter dan pesawat dari luar negeri. Selama ini, PT DI dianggap memiliki banyak kelemahan dalam proyek perakitan pesawat dan helikopter.

2. Kain katun sebesar US$ 133 juta

Kain katun menjadi komoditas impor Indonesia terkait kebutuhan tekstil. Hal ini disebabkan oleh harga tekstil impor dari China lebih murah dibandingkan lokal. Selain itu, lahan di Indonesia tidak mampu memproduksi kapas dengan baik dibandingkan dengan Amerika Serikat dengan kapasitas lahan yang sama. Tak heran jika impor kapas untuk bahan baku kain katun juga sangat tinggi.

3. Kedelai sebesar US$ 97 juta

Indonesia merupakan negara penghasil tempe terbesar di dunia namun masih bergantung pada impor kedelai. Miris, ya? Hal ini disebabkan oleh kebutuhan kedelai yang mencapai 2,5 juta ton setiap tahun, sedangkan pertanian Indonesia hanya mampu menyumbangkan total 700-800 ribu ton saja per tahun.

Beberapa penyebab ditengarai menjadi alasan rendahnya produksi kedelai dalam negeri seperti lahan penanaman yang minim, penyediaan benih varietas unggul dan pupuk para petani yang kurang maksimal hingga kebijakan penetapan harga kedelai pada setiap panen yang membuat petani kehilangan gairah menanam komoditas ini.

4. Peralatan elektronik lainnya US$ 87 juta

5. Bagian Peralatan elektronik US$ 69 juta

Dua sub nomor 4 dan 5 ini merupakan komoditas impor Indonesia yang selalu dilakukan sejak dulu hingga sekarang. Saat ini, industri elektronik Indonesia masih harus bergantung pada impor komponen elektronik luar negeri. Padahal, industri elektronik merupakan jenis usaha yang terus mengalami peningkatan sepanjang tahun.

5 Komoditas Impor Barang Modal Indonesia Sepanjang Januari 2018

Barang modal memiliki pengertian barang yang dihasilkan untuk menghasilkan barang lain bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumen secara langsung.

Berikut ini, 5 komoditas impor Indonesia terkait barang modal yang menduduki akumulatif tinggi sepanjang awal tahun ini.

1. Laptop sebesar US$ 67 juta

Kebutuhan masyarakat Indonesia pada sistem komputer terus meningkat. Gempuran produk luar negeri khususnya Negeri Tirai Bambu membuat masyarakat membeli teknologi yang dibandrol dengan harga murah tersebut.

2. Telepon sebesar US$ 45 juta

Sebagai negara dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial. Kemajuan teknologi penyiaran dan telekomunikasi membuat barang berupa telepon begitu digilai masyarakat Indonesia. Impor produk telepon atau smartphone Indonesia mencapai angka puluhan juta dolar Amerika Serikat.

3. Mesin logam US$ 1,2 juta

4. Penggilingan US$ 300 ribu

5. Mesin air panas US$ 200 ribu

Indonesia masih menjadi negara yang mengimpor berbagai mesin yang bisa digunakan untuk mengolah sumber daya alam atau energi. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia masih harus bersaing dengan negara lain untuk mampu mengolah sumber daya manusia secara maksimal.

Tak mengherankan jika Indonesia masih harus mengimpor berbagai peralatan mesin dan teknologi dari luar. Selain 15 komoditas impor Indonesia yang disebutkan di atas, sektor impor migas juga masih sangat tinggi.

Pada awal tahun 2018 ini, sektor migas melonjak drastis sehingga neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit hingga 670 juta USD. Nilai tersebut terjadi setelah nilai ekspor minyak mentah dan hasil minyak cenderung sedikit dibandingkan nilai impor pada produk yang sama.

Komoditas impor Indonesia terus berubah sepanjang waktu baik sektor konsumsi, bahan baku penolong dan barang modal. Informasi mengenai 15 jenis komoditas yang memegang nilai tertinggi sepanjang awal tahun 2018 di atas bisa menjadi bahan referensi Anda.

oke sayur

Beli Sayur Dengan Aplikasi ?

Daftarhargakomoditi.web.id – Aplikasi ini terhubung dengan puluhan pedagang dari pasar Kranggan dan Klaten. Mereka menyediakan sekitar 150 produk yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, makanan laut, daging, bahan masakan, dan produk organik.

Sekelompok mahasiswa UGM menciptakan sebuah aplikasi yang memudahkan orang untuk berbelanja di pasar tradisional. Aplikasi yang diberi nama OkeSayur itu bisa digunakan warga Yogyakarta dan Klaten untuk mendapatkan buah dan sayuran segar langsung dari pedagang pasar.

“Aplikasi ini tidak hanya memudahkan orang berbelanja tetapi juga ikut melestarikan pasar tradisional,” ujar Nindi Kusuma Ningrum, Co-Founder OkeSayur.

Lewat aplikasi, konsumen bisa memasukkan pesanan yang diinginkan. Pemesanan produk bisa dilakukan sebelum pukul 08.00 WIB setiap hari atau bisa juga satu hari sebelumnya.

Jika pesanan datang setelah pukul 08.00 WIB, maka produk akan dikirim satu hari setelahnya. Pembayaran bisa dilakukan via transfer bank atau langsung saat pengantaran barang belanjaan.

Baca juga : Menjelang Pemilu Harga bawang Naik

Bagi masyarakat yang menginginkan belanja di OkeSayur bisa mengunduh aplikasi ini di playstore. Selain itu, pengunjung juga bisa website okesayur.com dan chatting via WhatsApp.

“Layanan belanja di pasar tradisional pakai aplikasi ini sudah bisa dijangkau di Sleman, Bantul, serta Kulonprogo,” ucap Nindi.

Aplikasi OkeSayur sudah diunduh lebih dari 1.000 orang. Meskipun demikian, rata-rata transaksi per hari baru berkisar lima orang.

Menurut Nindi, aplikasi ini tergolong baru dan belum dikenal banyak orang. Kebanyakan konsumen justru dari Klaten karena pertama kali mereka beroperasi di daerah itu.

OkeSayur yang dikembangkan Nindi bersama dengan Fadlan Hawali, Alvin Novandi, Silvia, Muhammad Fuad Husein, Donatus Yoga, serta Losyiana Luh Jingga, mulai beroperasi pada November 2017. Tiga bulan pertama, mereka mengadakan uji coba pasar.

Setelah dilakukan pembenahan, aplikasi ini beroperasi lagi mulai Agustus 2018 sampai sekarang. Keterbatasan literasi digital pedagang pasar, membuat Nindi memperkerjakan tiga orang kurir sebagai penghubung pedagang pasar dengan konsumen.

“Kurir atau shopper itu yang berbelanja di pasar,” tuturnya. Namun, untuk pedagang pasar yang sudah melek digital, pemesanan langsung dihubungkan dengan pedagang yang bersangkutan dan kurir hanya mengambil barang pesanan saja.

Nindi berencana memperluas jangkauan layanan pelanggan, tidak hanya di wilayah Yogyakarta dan Klaten saja, melainkan juga menjangkau pasar lokal di daerah-daerah pinggiran.

“Harapannya, OkeSayur bisa memberi manfaat bagi petani juga dengan langsung menghubungkan hasil pertanian ke konsumen tanpa melalui tengkulak,” tutur Nindi.