Ekspor Pertanian Indonesia Selalu Meningkat

Ekspor Pertanian Indonesia Selalu Meningkat

Daftarhargakomoditi.web.id – Kondisi pertanian Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir patut diakui makin meningkat dan termasuk yang terbaik di kancah internasional. Peningkatan kualitas pertanian Indonesia tersebut terlihat nyata dari melonjaknya ekspor produk ke berbagai negara yang berlangsung setiap tahunnya.

Hampir setiap tahunnya ada saja berbagai jenis komoditas pertanian terbaru dapat diekspor dan ternyata memang dibutuhkan banyak negara di dunia. Hal tersebut disampaikan pengamat pertanian dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian (Perhepi) Pekanbaru, Riau, Ujang Paman Ismail.

Ujang mengatakan, banyak dari jenis komoditas pertanian Indonesia yang selama ini dirasa tidak memiliki keunggulan ekspor, terbukti berbanding terbalik dalam lima tahun terakhir.

“Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mampu mengubah produk komoditas di setiap daerah bernilai ekspor. Itu salah satu indikator bahwa pertanian kita terbaik di dunia sebab bisa menggali potensi di daerah,” ujarnya.

Ekspor produk pertanian mampu mengukuhkan 42,5 juta ton pada 2018
Menurut Ujang, pertanian di Indonesia tidak sekadar hanya fokus memproduksi angka komoditas saja, tetapi juga kualitasnya berdampak baik terhadap perbaikan kesejahteraan daerah.

“Semua dioptimalisasi dari pertanian. Tidak cuma meningkatkan angka produksi saja, tapi daerah juga didorong supaya menampilkan komoditas unggulannya ke dunia. Di situ petani akan sejahtera,” tuturnya.

Baca Juga : Neraca Dagang Indonesia Bulan Lalu

Kendati memang masih ada komoditas lain yang memerlukan impor, Ujang menilai, perlu ditelusuri maksud dari kebijakan tersebut. Misalnya saja apakah untuk kebutuhan stabilitas harga, stok yang cukup atau limpahan dari tahun sebelumnya.

Sebelumnya, mengemuka informasi bahwa Indonesia masuk dalam kategori lima negara eksportir hasil pertanian terbaik di dunia. Penilaian itu diambil berdasarkan data dari FAO, Investpedia, dan IndexMundi.

Mengacu ke data BPS, pada 2013 jumlah volume ekspor produk pertanian Indonesia ialah 33,5 juta ton. Kemudian pada 2016 mengalami dua kali kenaikan mencapai 36,1 juta ton dan 40,4 juta ton. Begitu juga pada 2017, ekspor produk pertanian bertambah lagi jumlahnya yakni 41,3 juta ton. Pada 2018, ekspor produk pertanian mampu mengukuhkan jumlah sebesar 42,5 juta ton.

Ekspor RI Turun 3 Persen Lebih di Januari 2019

Ekspor RI Turun 3 Persen Lebih di Januari 2019

Daftarhargakomoditi.web.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara total ekspor Indonesia pada Januari 2019 mengalami penurunan 3 persen lebih dibandingkan Desember 2018 dan Januari 2018 sebesar 4,7 persen. ‎Pada Januari 2019, ekspor Indonesia sebesar USD 13,8 miliar, sedangkan di Desember 2018 sebesar USD 14,3 miliar.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, penurunan ekspor Januari 2019 tersebut disebabkan oleh menurunnya ekspor migas sebesar 29,3 persen, yaitu dari USD 1,74 miliar menjadi USD 1,23 miliar.

“Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 29,76 persen, menjadi USD 75,1 juta dan ekspor minyak mentah 77,25 persen menjadi USD 72,1 juta. Demikian juga ekspor gas turun 17,77 persen menjadi USD 1,08 miliar,” ujar dia di Jakarta,

Sementara ekspor nonmigas, lanjut dia, mengalami naik 0,38 persen, dari USD 12,5 miliar menjadi USD 12,6 miliar. Peningkatan ekspor nonmigas tersebut khususnya terjadi pada kelompok bijih, kerak dan abu logam sebesar USD 80,3 juta atau 37,8 persen. Sedangkan penurunan ekspor terbesar terjadi pada mesin-mesin dan pesawat mekanik sebesar USD 127,1 juta atau 22,42 persen.

Komoditas nonmigas lain yang mencatatkan peningkatan nilai ekspor yaitu bahan kimia organik sebesar USD 74,8 atau 32,12 persen, besi dan baja sebesar USD 51,3 juta atau 10,84 persen, kendaraan dan bagiannya USD 46,8 juta atau 7,7 persen, serta alas kaki USD 42,1 juta atau 9,85 persen.

Sementara komoditas yang mengalami penurunan selain mesin dan pesawat mekanik yaitu peralatan listrik USD 94,7 juta (12,81 persen, berbagai produk kimia USD 36,8 juta (11,06 persen), bahan bakar mineral USD 34,4 juta (1,76 persen) dan nikel USD 26,7 juta (41,04 persen).

“Jadi yang mengalami kenaikan yaitu ‎Biji kerak ekspor ke China dan Filipina; kimia organik ke China, Jepang dan India; besi baja ke China, Korea Selatan dan Taiwan. Yang turun itu mesin dan pesawat mekanik ke Jepang, Singapura dan Thailand serta mesi dan peralatan listrik ke Jepang, Singapura dan Amerika Serikat,” tandas dia.

Baca Juga : RI Mulai Penyelidikan Tindakan Pengamanan Perdagangan Produk Impor Evaporator

Defisit Neraca Dagang di Januari 2019 Capai USD 1,16 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD 1,16 miliar pada Januari 2019.

Defisit neraca dagang tersebut salah satunya disebabkan oleh turunnya ekspor Indonesia di awal tahun.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pada Januari 2019, total ekspor Indonesia sebesar USD 13,87 miliar. Angka ini turun 4,74 persen dibandingkan Januari 2018 yang sebesar USD 14,55 miliar dan Desember 2018 yang sebesar USD 14,33 miliar.

Sementara untuk impor, pada Januari 2019 tercatat sebesar USD 15,03 miliar. Angka ini juga turun 2,19 persen dibandingkan Desember 2018.

“Maka necara perdagangan pada Januari 2019 mengalami defisit sebesar USD 1,16 miliar,” ujar dia di Kantor BPS Jakarta,

Suhariyanto menyatakan, defisit neraca dagang pada Januari 2019 ini sedikit meningkat dibandingkan dengan defisit pada Desember 2018 yang sebesar USD 1,03 miliar.

“Defisit di Januari 2019 ini disebabkan oleh defisit migas sebesar USD 454 juta dan juga defisit nonmigas sebesar USD 704 juta,” kata dia.

Selain itu, menurut dia, d‎ari Desember 2018 ke Januari 2019, harga beberapa komoditas nomigas mengalami kenaikan, tapi ada juga yang menurun.

perbedaan komoditi dan komoditas,

Mengenal Arti Komoditas Yang Sesungguhnya

Daftarhargakomoditi.web.id – Setelah membahas mengenai aktifitas aktifitas komoditas di Indonesia, kali ini mari kita membahas mengenai apa itu komoditas. Komoditas adalah benda nyata yang mudah diperdagangkan baik yang berukuran besar maupun kecil. Benda ini dapat diserahkan secara langsung maupun dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu atau bisa dipertukarkan dengan produk lain yang jenisnya sama.

Jadi, secara singkatnya, komoditas adalah produk yang diperdagangkan. Elemen ini memiliki karakteristik tersendiri. Salah satunya ialah harga ditentukan oleh penawaran dan permintaan pasar dan bukan ditentukan oleh penyalur (pemasok).

Kata komoditas sendiri mulai digunakan di Inggris pada abad ke 15. Asal kata ini ialah dari bahasa Perancis, yaitu commodite. Artinya ialah “sesuatu yang menyenangkan” baik dalam kualitas maupun layanan.

Sedangkan di Indonesia, istilah ini berarti barang dagangan, benda niaga, bisa juga berupa bahan mentah. Penggolongannya berdasarkan standar perdagangan internasional.

Apa Saja Jenis Jenis Dari Komoditas

Sebenarnya istilah komoditas bukan hanya berlaku dalam perdagangan internasional. Dalam perdagangan antar daerah pun juga membutuhkan komoditas untuk diperjualbelikan. Hal yang melatar belakangi terjadinya kegiatan ini ialah adanya perbedaan sumber daya alam.

Baca Juga : Harus Ada Pengendalian Harga Komoditas Agar Target Inflasi Tak Meleset

Keterbatasan sumber daya alam tersebut membuat terjadinya permintaan kepada komoditas tertentu. Akhirnya terjadilah perdagangan baik lokal, antar provinsi, bahkan antar negara.

Secara umum, ada banyak jenis-jenis komoditas yang diperdagangkan. Beberapa jenis yang sering ditemui ialah :

  • Komoditas hasil pertanian => Biasanya berupa makanan, seperti beras, kopi, gula, kedelai, gandum, bunga, dan lain-lain.
  • Komoditas berupa energi => Batu bara, bensin, diesel, dan lain-lain
  • Komoditas logam hasil tambang => Emas, platinum, silver, dan lain-lain.
  • Komoditas logam hasil industri => Tembaga, aluminium, timah, seng, nikel dan lain-lain.
  • Komoditas hasil peternakan => Makanan ternak, ternak sapi, dan lain-lain.
  • Itulah jenis-jenis secara umum dari komoditas. Di dalamnya juga termasuk komoditas dari hasil perkebunan dan kehutanan. Jadi, cakupan produk yang diperdagangkan sangat luas. Umumnya ialah berupa bahan baku atau bahan mentah.

Kriteria-Kriteria Komoditas Untuk Diperdagangkan

Komoditas bisa pula diartikan sebagai hasil usaha masyarakat untuk dipasarkan. Selanjutnya akan memberikan keuntungan tersendiri. Untuk itu, sebagai komoditas, sebuah barang harus memiliki kriteria ini untuk bisa jadi barang niaga, seperti :

  • Memiliki daya saing tinggi di pasar
  • Memanfaatkan potensi dari sumber daya lokal
  • Memiliki nilai tambah bagi masyarakat
  • Bisa membawa keuntungan dan manfaat terutama dalam menghasilkan pendapatan
  • Resiko-Resiko dalam Perdagangan Komoditas

Dalam perdagangan barang niaga tak bisa lepas dari resiko-resiko yang bisa terjadi. Salah satunya ialah gagal janji. Hal ini bisa terjadi lantaran ada fluktuasi harga di pasaran. Harga ini sendiri sangat ditentukan oleh permintaan maupun penawaran.

Daftar Komoditas yang Ekspornya Naik dan Turun 2019

Daftar Komoditas yang Ekspornya Naik dan Turun Dibulan Februari

Daftarhargakomoditi.web.id – Mari kita bahas mengenai Komoditas yang sedang naik turun nya dan dampak terbesarnya saat ini adalah pada bulan Februari.

Kinerja ekspor Indonesia mengalami penurunan pada Februari 2019 jika dibandingkan bulan sebelumnya. Pada bulan lalu, ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 12,53 miliar atau menurun 10,03 persen dibandingkan ekspor pada Januari 2019 dan turun 11,33 persen dibandingkan Februari 2018.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, ekspor nonmigas Februari 2019 tercatat sebesar USD 11,44 miliar. Angka ini turun 9,85 persen dibandingkan Januari 2019. Demikian juga jika dibandingkan dengan ekspor nonmigas periode yang sama di 2018 mengalami penurunan 10,19 persen.

“Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Februari 2019 mencapai USD 26,46 miliar atau menurun 7,76 persen dibandingkan periode yang sama di 2018. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD 24,14 miliar atau menurun 7,07 persen,”

Dia menjelaskan, penurunan ekspor nonmigas Februari 2019 terhadap bulan sebelumnya terjadi pada bahan bakar mineral yang turun USD 282,1 juta atau 14,54 persen. Kemudian lemak dan minyak hewan atau nabati turun USD 208,9 juta atau 13,27 persen, alas kaki USD 138,7 juta atau 29,53 persen, bijih, kerak dan abu logam turun USD 149,5 juta atau 50,32 persen serta bahan kimia organik turun USD 98,4 juta atau 31,98 persen.

Meski secara total mengalami penurunan, namun ada juga komoditas ekspor Indonesia yang mengalami kenaikan pada Februari 2019. Kenaikan paling besar terjadi pada perhiasan dan permata sebesar USD 227,5 juta atau 53,03 persen, tembaga sebesar USD 62,9 juta atau 87,38 persen, bubur kayu/pulp turun USD 38,7 juta atau 25,06 persen, timah turun USD 33,1 juta atau 39,4 persen dan bahan kimia anorganik turun USD 21,1 juta atau 28 persen.

Baca Juga : Pergerakan nikel Memiliki Kemungkinan Memicu sinyal perang dagang

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD 0,33 Miliar di Februari

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Februari 2019 surplus sebesar USD 0,33 miliar. Hal ini berbanding terbalik dari Januari 2019 yang defisit sebesar USD 1,16 miliar dan Februari 2018 yang defisit USD 120 juta.

“Sesudah 4 bulan kita mengalami defisit, Alhamdulillah bulan ini kita mengalami surplus. Kita berharap bulan-bulan berikutnya kita mengalami surplus,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS,

Dia menjelaskan, pada Februari 2019, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 12,53 miliar. Sedangkan impor sebesar USD 12,2 miliar.‎

“Pada Februari 2019, total ekspor sebesar USD 12,53 miliar. Dibandingkan Januari 2019, berarti ada penurunan 10,03 persen,” ungkap dia.

Sedangkan impor pada Februari 2019 juga menurun drastis yaitu 18,61 persen dibandingkan impor di Januari 2019.

Dia menjelaskan, neraca perdagangan ini dipengaruhi harga komoditas baik migas maupun nonmigas pada Februari 2019. ‎Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga seperti‎ nikel, tembaga, seng, karet dan sawit. Sedangkan yang mengalami penurunan yaitu minyak kernel dan batu bara.

“Komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan ada, tapi ada juga komoditas yang mengalami penurunan. Minyak mentah dan nonmigas ini berpengaruh pada nilai ekspor dan impor Indonesia,” tandas dia.

Ekspor Komoditas Merosot

Ekspor Komoditas Merosot

Daftarhargakomoditi.web.idEkspor beberapa komoditas menurun pada Januari 2019. Ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas di seluruh dunia. Biro Pusat Statistik mencatat ekspor bahan bakar mineral, yang merupakan mayoritas ekspor nonmigas, dengan penurunan bulanan 1,76 persen menjadi US $ 1,92 miliar pada Januari 2019. Secara tahunan, Ekspor bahan bakar mineral menurun 4,5 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengungkapkan penurunan ekspor bahan bakar mineral tak terlepas dari melemahnya harga batu bara yang turun 2,76 persen pada Januari 2019 dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, harga batu bara juga turun 7,76 persen. Padahal, secara volume ekspor batu bara masih meningkat sebesar 14,35 persen.

“Volume ekspor batu bara masih meningkat, tetapi karena harganya turun, nilainya menjadi turun,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya.

Kemudian, harga minyak kelapa sawit juga turun 13,59 persen dibandingkan periode yang sama. Padahal, volumenya masih meningkat 23,77 persen.

“(Turunnya ekspor CPO) Itu yang menyebabkan ekspor lemak dan minyak hewan/nabati turun 9,56 persen dibandingkan tahun lalu menjadi US$1,57 miliar,” jelasnya.

Penurunan harga juga terjadi pada komoditas karet sebesar 7,76 persen secara tahunan. Bahkan, secara volume pun turun 8,8 persen. Hal tersebut menyebabkan ekspor karet dan barang dari karet anjlok 11,05 persen menjadi US$473, 7 persen.

“Kalau harga turun pasti akan mengurangi minat petani. Kalau sudah tanam, capek, tetapi harganya tidak sepadan, dia akan ogah-ogahan,” imbuh Suhariyanto.

Suhariyanto mengungkapkan berdasarkan prediksi sejumlah lembaga, harga komoditas hingga akhir tahun ini akan cenderung menurun.

“Apalagi kalau nanti pertumbuhan negara-negara utama melambat. Bagaimanapun kalau pertumbuhan China melambat permintaan ekspor Indonesia juga akan turun,” terang dia.

Baca juga : Gerut Harga Sawit Kuartal 1 perang Dagang AS-China

Menyadari tren penurunan harga komoditas tersebut, pemerintah terus mendorong ekspor dari industri pengolahan dengan berbagai kebijakan. Pasalnya, ekspor industri lebih bernilai tambah.

“Kami sangat sadar ekspor Indonesia itu terlalu berbasis pada komoditas yang membuat daya tawar kita kurang,” tandasnya.

Melemahnya kinerja ekspor komoditas berimbas pada merosotnya ekspor non migas Januari 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 4,5 persen menjadi US$12,63miliar. Secara keseluhan kinerja ekspor Indonesia turun 4,7 persen secara tahunan menjadi US$13,87 miliar.