perbedaan komoditi dan komoditas,

Mengenal Arti Komoditas Yang Sesungguhnya

Daftarhargakomoditi.web.id – Setelah membahas mengenai aktifitas aktifitas komoditas di Indonesia, kali ini mari kita membahas mengenai apa itu komoditas. Komoditas adalah benda nyata yang mudah diperdagangkan baik yang berukuran besar maupun kecil. Benda ini dapat diserahkan secara langsung maupun dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu atau bisa dipertukarkan dengan produk lain yang jenisnya sama.

Jadi, secara singkatnya, komoditas adalah produk yang diperdagangkan. Elemen ini memiliki karakteristik tersendiri. Salah satunya ialah harga ditentukan oleh penawaran dan permintaan pasar dan bukan ditentukan oleh penyalur (pemasok).

Kata komoditas sendiri mulai digunakan di Inggris pada abad ke 15. Asal kata ini ialah dari bahasa Perancis, yaitu commodite. Artinya ialah “sesuatu yang menyenangkan” baik dalam kualitas maupun layanan.

Sedangkan di Indonesia, istilah ini berarti barang dagangan, benda niaga, bisa juga berupa bahan mentah. Penggolongannya berdasarkan standar perdagangan internasional.

Apa Saja Jenis Jenis Dari Komoditas

Sebenarnya istilah komoditas bukan hanya berlaku dalam perdagangan internasional. Dalam perdagangan antar daerah pun juga membutuhkan komoditas untuk diperjualbelikan. Hal yang melatar belakangi terjadinya kegiatan ini ialah adanya perbedaan sumber daya alam.

Baca Juga : Harus Ada Pengendalian Harga Komoditas Agar Target Inflasi Tak Meleset

Keterbatasan sumber daya alam tersebut membuat terjadinya permintaan kepada komoditas tertentu. Akhirnya terjadilah perdagangan baik lokal, antar provinsi, bahkan antar negara.

Secara umum, ada banyak jenis-jenis komoditas yang diperdagangkan. Beberapa jenis yang sering ditemui ialah :

  • Komoditas hasil pertanian => Biasanya berupa makanan, seperti beras, kopi, gula, kedelai, gandum, bunga, dan lain-lain.
  • Komoditas berupa energi => Batu bara, bensin, diesel, dan lain-lain
  • Komoditas logam hasil tambang => Emas, platinum, silver, dan lain-lain.
  • Komoditas logam hasil industri => Tembaga, aluminium, timah, seng, nikel dan lain-lain.
  • Komoditas hasil peternakan => Makanan ternak, ternak sapi, dan lain-lain.
  • Itulah jenis-jenis secara umum dari komoditas. Di dalamnya juga termasuk komoditas dari hasil perkebunan dan kehutanan. Jadi, cakupan produk yang diperdagangkan sangat luas. Umumnya ialah berupa bahan baku atau bahan mentah.

Kriteria-Kriteria Komoditas Untuk Diperdagangkan

Komoditas bisa pula diartikan sebagai hasil usaha masyarakat untuk dipasarkan. Selanjutnya akan memberikan keuntungan tersendiri. Untuk itu, sebagai komoditas, sebuah barang harus memiliki kriteria ini untuk bisa jadi barang niaga, seperti :

  • Memiliki daya saing tinggi di pasar
  • Memanfaatkan potensi dari sumber daya lokal
  • Memiliki nilai tambah bagi masyarakat
  • Bisa membawa keuntungan dan manfaat terutama dalam menghasilkan pendapatan
  • Resiko-Resiko dalam Perdagangan Komoditas

Dalam perdagangan barang niaga tak bisa lepas dari resiko-resiko yang bisa terjadi. Salah satunya ialah gagal janji. Hal ini bisa terjadi lantaran ada fluktuasi harga di pasaran. Harga ini sendiri sangat ditentukan oleh permintaan maupun penawaran.

Harus Ada Pengendalian Harga Komoditas Agar Target Inflasi Tak Meleset

Harus Ada Pengendalian Harga Komoditas Agar Target Inflasi Tak Meleset

Daftarhargakomoditi.web.id – Kembali lagi kita membahas komoditas komoditas dibulan lalu agar kita mengetahui tentang pengendalian keseimbangan Komoditas yang ada, karena kita sebagai warga Indonesia haruslah mengetahui kemajuan kemajuan maupun hambatan yang dihadapi Indonesia mengenai Komoditas.

Berikut ini merupakan pembahasan mengenai Komoditas Komoditas yang telah terjadi pada bulan juni 2019 lalu :

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi selama bulan Juni 2019 sebesar 0,55 persen, angka ini lebih rendah dibanding Mei 2019 di 0,68 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender yaitu Januari-Juni 2019 mencapai 2,05 persen.

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, mengakui bahwa inflasi yang terjadi pada Juni 2019 tersebut masih disebabkan oleh bahan komponen seperti makanan. Di mana, beberapa harga komoditas makanan masih ikut terkerek karena adanya Lebaran.

“Jadi makanan yang paling tinggi. Kalau yang lain saya belum lihat,” kata Menko Darmin saat ditemui di Kantornya,

Darmin juga menekankan agar inflasi secara tahun kalender selama Januari-Juni 2019 sebesar 2,05 persen dapat dipertahankan hingga akhir 2019. Dengan demikian, perlu adanya upaya pengendalian terhadap beberapa harga komoditas. Sebab, pemerintah sendiri mematok inflasi hingga akhir 2019 mencapai 3,5 plus minus 1 persen.

“Artinya harus ada upaya-upaya pengendalian. Ya kalau enggak bisa diturunkan bisa di atas 4 persen bisa-bisa,” pungkasnya.

Baca Juga : Daftar Komoditas yang Ekspornya Naik dan Turun Dibulan Februari

Sebelumnya, Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, komponen bahan makanan mengalami inflasi sebesar 1,63 persen dengan andil terhadap inflasi secara keseluruhan sebesar 0,38 persen.

“Inflasi umum 0,55 persen, di situ kita mendeteksi inflasi tertinggi untuk bahan makanan karena masih ada dalam masa Lebaran, dengan inflasi 1,63 persen,” ujar dia di Kantor BPS.

Dia menjelaskan, dari komponen bahan makanan, penyumbang inflasi terbesar yaitu cabai merah sebesar 0,2 persen. Kemudian diikuti oleh ikan segar sebesar 0,05 persen dan aneka sayuran sebesar 0,1 persen.

“Kenaikan inflasi cabai merah 0,2 persen, kemudian ikan segar sebesar 0,05 persen. Selebihnya tomat sayur, cabai hijau 0,1 persen. Tapi di sisi lain ada bawang putih yang harganya sudah turun. Kemarin deflasi sebesar 0,06 persen dan daging serta telur ayam ras 0,02 persen,” jelas dia.

Jangan mengabaikan apa yang sedang terjadi di Negara kita, ayo peduli untuk mengetahui keseimbangan Negara kita tercinta.

oke sayur

Beli Sayur Dengan Aplikasi ?

Daftarhargakomoditi.web.id – Aplikasi ini terhubung dengan puluhan pedagang dari pasar Kranggan dan Klaten. Mereka menyediakan sekitar 150 produk yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, makanan laut, daging, bahan masakan, dan produk organik.

Sekelompok mahasiswa UGM menciptakan sebuah aplikasi yang memudahkan orang untuk berbelanja di pasar tradisional. Aplikasi yang diberi nama OkeSayur itu bisa digunakan warga Yogyakarta dan Klaten untuk mendapatkan buah dan sayuran segar langsung dari pedagang pasar.

“Aplikasi ini tidak hanya memudahkan orang berbelanja tetapi juga ikut melestarikan pasar tradisional,” ujar Nindi Kusuma Ningrum, Co-Founder OkeSayur.

Lewat aplikasi, konsumen bisa memasukkan pesanan yang diinginkan. Pemesanan produk bisa dilakukan sebelum pukul 08.00 WIB setiap hari atau bisa juga satu hari sebelumnya.

Jika pesanan datang setelah pukul 08.00 WIB, maka produk akan dikirim satu hari setelahnya. Pembayaran bisa dilakukan via transfer bank atau langsung saat pengantaran barang belanjaan.

Baca juga : Menjelang Pemilu Harga bawang Naik

Bagi masyarakat yang menginginkan belanja di OkeSayur bisa mengunduh aplikasi ini di playstore. Selain itu, pengunjung juga bisa website okesayur.com dan chatting via WhatsApp.

“Layanan belanja di pasar tradisional pakai aplikasi ini sudah bisa dijangkau di Sleman, Bantul, serta Kulonprogo,” ucap Nindi.

Aplikasi OkeSayur sudah diunduh lebih dari 1.000 orang. Meskipun demikian, rata-rata transaksi per hari baru berkisar lima orang.

Menurut Nindi, aplikasi ini tergolong baru dan belum dikenal banyak orang. Kebanyakan konsumen justru dari Klaten karena pertama kali mereka beroperasi di daerah itu.

OkeSayur yang dikembangkan Nindi bersama dengan Fadlan Hawali, Alvin Novandi, Silvia, Muhammad Fuad Husein, Donatus Yoga, serta Losyiana Luh Jingga, mulai beroperasi pada November 2017. Tiga bulan pertama, mereka mengadakan uji coba pasar.

Setelah dilakukan pembenahan, aplikasi ini beroperasi lagi mulai Agustus 2018 sampai sekarang. Keterbatasan literasi digital pedagang pasar, membuat Nindi memperkerjakan tiga orang kurir sebagai penghubung pedagang pasar dengan konsumen.

“Kurir atau shopper itu yang berbelanja di pasar,” tuturnya. Namun, untuk pedagang pasar yang sudah melek digital, pemesanan langsung dihubungkan dengan pedagang yang bersangkutan dan kurir hanya mengambil barang pesanan saja.

Nindi berencana memperluas jangkauan layanan pelanggan, tidak hanya di wilayah Yogyakarta dan Klaten saja, melainkan juga menjangkau pasar lokal di daerah-daerah pinggiran.

“Harapannya, OkeSayur bisa memberi manfaat bagi petani juga dengan langsung menghubungkan hasil pertanian ke konsumen tanpa melalui tengkulak,” tutur Nindi.