Harga Cabai di Pasar Tradisional Turun

Harga Cabai di Pasar Tradisional Turun

Daftarhargakomoditi.web.id – Harga cabai rawit merah kembali menunjukan tren penurunan di pasar tradisional. Kini harganya sudah di angka Rp 50 ribu per kilogram (kg). Penurunan ini diikuti jenis cabai lain. “Sekarang sudah turun Rp 50 ribu per kg. Yang keriting sama Rp 50 ribu. Rawit hijau Rp 45 ribu,” jelas Ida Rahayu (42) di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat.

Ida memperkirakan harga menurun karena pasokan sudah mulai banyak. Bulan lalu, harga cabai rawit merah terpantau masih Rp 90 ribu per kg. Namun masih ada pedagang yang menjual dengan harga di atas Rp 50 ribu per kg. Rosni (34) menyebut harga cabai rawit merah seharga Rp 65 ribu per kg, sementara harga cabai keriting merah seharga Rp 50 ribu per kg dan rawit hijau seharga Rp 55 ribu per kg.

Untuk bawang merah, Ida menjual seharga Rp 25 ribu per kg. Bawang putih biasa dan kating ia jual masing-masing seharga Rp 25 ribu dan Rp 32 ribu per kg. Harga sayuran yang Ida jual juga relatif murah, yakni timun seharga Rp 8 ribu, tomat Rp 10 ribu, dan kentang seharga Rp 15 – Rp 16 ribu. Namun, Rosni memberi catatan bahwa harga jeruk nipis sedang naik. “Jeruk nipis lagi naik. Jualnya Rp 30 eibu per kilo. Biasanya Rp 25 ribu, Rp 22 ribu, juga dikasih,” ujar Rosni.

Baca Juga : Harga Ayam Rp 35 Ribu perKg di Pasar Tomang Barat

Harga Cabai Rawit Merah Turun Jadi Rp 70 Ribu per Kg

Sebelumnya, harga cabai rawit merah perlahan menurun di pasar tradisional. Berdasarkan pantauan akhir bulan lalu jarga cabai masih Rp 90 ribu per kilogram (kg), kini harga sudah menyentuh Rp 70 ribu per kg. Marni (40) berkata turunnya harga cabai dipengaruhi pasokan yang kembali meningkat karena panen.

“Cabai rawit merah Rp 70 ribu per kg. Turun. Kemarin kan sampai Rp 80 ribu per kg. Mungkin di sono sudah mulai banyak, panennya mulai lagi. Kemarin belum panen,” ucapnya Harga cabai rawit hijau juga turun menjadi Rp 40 ribu per kg, padahal sebelumnya harga menyentuh Rp 80 ribu per kg. Sementara, hargai cabai merah keriting dijual Rp 60 ribu per kg. Marni berkata komoditas bawang pun masih stabil, yakni bawang merah seharga Rp 25 ribu per kg, bawan putih Rp 30 ribu per kg, dan bawang putih kating Rp 35 ribu per kg.

Kemarau Panjang Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 110 Ribu per Kg

Kemarau Panjang Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 110 Ribu per Kg

Daftarhargakomoditi.web.id – Musim kemarau berkepanjangan rupanya turut mendongkrak harga berbagai macam komoditas sayuran di pasar tradisional. Khususnya untuk cabai, harganya kini melambung sampai di atas Rp 110 ribu per kg. lagi dan lagi harga cabai kembali melambung naik sehingga membuat para pedagang sayur dipasar setempat cukup kesulitan untuk mendapatkan keuntungan.sudah berminggu minggu namun harga cabai tak kunjung turun juga. Akankah harga cabai kembali normal seperti semula ?

Seperti yang diungkapkan Nur (59 tahun), seorang pedagang sayuran di Pasar Kwitang Dalam, Jakarta Pusat. Dia menceritakan, harga cabai rawit merah saat ini dijualnya Rp 110 ribu per kg sejak sekitar 4 hari lalu.

“Cabai rawit (merah) sekarang dapatnya dari pemasok Rp 105 ribu (per kg), dijual Rp 110 ribu (per kg). Saya cuman dapat (untung) Rp 5 ribu perak. Udah ada 4 hari harganya segini,” terang dia

“Biasanya paling mahal Rp 70 ribu (per kg). Tapi pernah Rp 125 ribu harganya, sekitar 5 bulan lalu. Ini semua gara-gara musim kemarau,” dia menambahkan.

Sama seperti cabai rawit merah, komoditas cabai lainnya seperti cabai merah keriting dan rawit hijau juga harganya terus melambung sejak beberapa hari terakhir.

“Cabai merah keriting Rp 80 ribu (per kg). Udah sekitar dua minggu, biasanya Rp 60-70 ribu (per kg). Kalau cabai rawit hijau dapatnya (dari pemasok) Rp 80 ribu (per kg), dijual Rp 85 ribu (per kg),” papar Nur.

Baca Juga : Jelang Akhir Pekan Harga Daging Ayam Naik

Harga Dari Pemasok

Cerita serupa ikut dilontarkan seorang pedagang lain di pasar yang sama, Toyyibah (44 tahun). Meski secara harga jual sedikit dibawah Nur, namun sang pedagang tetap mengeluhkan harga cabai yang belum terkontrol.

“Cabai rawit merah sekarang dapatnya (dari pemasok) Rp 75 ribu per kg. Jualnya Rp 80 ribu per kg. Masih naik, masih tinggi,” ujar Toyyibah.

“Kalau cabai merah keriting jualnya Rp 70 ribu per kg, dapat dari sononya Rp 65 ribu. Kemarin malah sempat dapatnya Rp 80 ribu (per kg). Rawit hijau (harga jualnya) Rp 80 ribu (per kg). Pada tinggi semua sekarang harga cabai,” pungkasnya.

Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu

Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu

Daftarhargakomoditi.web.id – Kenaikan harga cabai di beberapa wilayah di Indonesia semakin tajam. Jika sebelumnya cabai bisa dijangkau di angka Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram, maka kali ini, masyarakat harus merogoh kocek hingga Rp 100 ribu per kilogram.

Berbagai faktor disinyalir menjadi penyebab meroketnya harga komoditas ini, namun Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengklaim produksi cabai masih aman.

“Produksi cabai aman, yang penting terpenuhi,” ujar Amran

Sebelumnya, dilaporkan kenaikan cabai yang drastis membuat pedagang dan pembeli terkejut, terutama bagi pemilik warung makan.

Beberapa pedagang mengeluhkan sepinya pembeli, namun sisanya yakin harga akan kembali normal ketika musim panen raya tiba. Sementara, pembeli kini beralih ke cabai kering sebagai alternatif pengganti cabai merah segar.

Baca Juga : Ekspor RI Turun 3 Persen Lebih di Januari 2019

Harga Cabai Meroket di Pasar Tradisional, Kok Bisa?

Harga cabai rawit kembali meroket di pasar tradisional di ibu kota Jakarta. Bila sebelumnya harga cabai masih di kisaran Rp 40 ribu, sekarang sudah menembus Rp 70 ribu per kilogram (kg).

“(Harga) cabai masih tinggi, pasokannya kurang. Kurang pasokannya jadinya begini harganya,” jelas Sofyan (39) di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat.

Harga cabai rawit merah di lapaknya adalah Rp 70 ribu per kg, sama dengan harga cabai keriting merah. Sementara, harga cabai keriting hijau dan rawit hijau lebih murah.

“Cabai hijau keriting Rp 36 ribu per kg. Rawit hijau Rp 55 ribu per kg agak mendingan enggak terlalu mahal,” jelasnya.

Meski ada pembeli yang jadi enggan membeli cabai, Sofyan mengaku tak bisa menurunkan harga, sebab itu akan menyulitkannya untuk belanja cabai dari pemasok.

“Entar kalau jual murah, entar enggak bisa belanja. Berat juga (bagi pembeli) kalau mahal. Enak mah kalau murah-murah, stabil,” ucapnya.

Penjual lain, Partini (36), menjual cabai rawit merah dan hijau dengan kisaran harga sama, yakni Rp 70 ribu per kg. Cabai merah keriting dijual sedikit lebih mahal yakni Rp 80 ribu per kg.

Ia berkata pelanggan tetap membeli dengan porsi lebih kecil. “Tetap dibeli, cuman dikurangin doang. Jual setengab kilo atau seperempat, beli se-ons juga boleh,” ujarnya.

Sayur Mayur Juga Tinggi

Sofyan menjual bawang merah dan putih seharha Rp 35 ribu per kg. Sementara bawang putih kating dijual seharga Rp 40 ribu.

Harga komoditas sayur mayur juga masih relatif tinggi, yakni tomat srharha Rp 17 ribu per kg, harga kentang Rp 16 ribu per kg, dan harga timun masih di atas Rp 10 ribu per kg dari biasanya Rp 7.000.

Partini menjual bawang merah dan bawang putih di kisaran Rp 38 ribu per kg, dan bawang kating seharga Rp 45 ribu per kg. Ia pun turut mengungkapkan harga sayur mayur sedang naik.

Harga wortel Rp 16 ribu per kg, naik dari biasanya Rp 12 ribu per kg. Tomat harganya Rp 18 ribu per kg, naik dari biasanya Rp 12 ribu per kg. Timun yang biasanya Rp 8 ribu per kg juga menjadi Rp 12 ribu per kg.

“Harapannya agar turun, kalau murah kan yang jualnya enak, kalau mahal kan repot, nombokinterus,” ujar Partini.

Bersautan Di Pasar Jokowi dan Sandiaga

Bersautan Di Pasar Jokowi dan Sandiaga

Daftarhargakomoditi.web.id – Kandidat untuk pencalonan presiden Joko Widodo dan kandidat wakil presiden nomor 02, Sandiaga Uno ‘saling berteriak’ tentang harga di pasar. Masalah harga kebutuhan sehari-hari di pasar menengah adalah salah satu tema utama tahun politik ini.

Seperti diketahui, Sandiaga kerap berbicara soal keadaan ekonomi di Indonesia. Dia kerap keluar masuk pasar untuk menunjukkan harga-harga kebutuhan yang mahal sehingga membuat orang menjerit.

Seperti pada Jumat (23/11) kemarin, Sandiaga mengunjungi Pasar Besar Kota Malang. Ia mengaku mendapat keluhan harga sayur yang yang naik.

“Alhamdulilah kondisi pasar ramai. Tetapi pedagang bilang bahwa sejumlah barang harganya naik, yakni buncis dan wortel,” kata Sandiaga usai mengecek kondisi Pasar Besar Kota Malang.

Dikatakan Sandi, kenaikan buncis dan wortel seperti disampaikan para pedagang berkisar pada angka 20-30 persen.

“Yang sebelumnya seharga Rp 10 ribu jadi 15 ribu per kilo. Ada yang dari Rp 10 naik jadi Rp 12 ribu per kilonya. Saya melihat perlu dan tugas pemerintah untuk harga-harga bisa terjangkau,” ucapnya.

Sandiaga juga menemui pedagang tempe. Dari pedagang tersebut, Cawapres Prabowo Subianto itu mendapatkan informasi jika harga tempe juga sedikit naik dibandingkan hari sebelumnya.

“Sedikit mahal nggak masalah, karena ini (tempe) menyehatkan,” kata Sandiaga.

su harga sayur dan kebutuhan pokok di pasar disebut dijadikan ‘gorengan’ politik jelang Pilpres 2019. Sandiaga menyebut kondisi seperti itu adalah kenyataan yang ada di lapangan.

“Saya nggak mau tanggapi karena yang cerita soal sembako itu bukan kami, tapi kan dari ibu-ibu yang ngomong, yang bicara seperti itu. Dan tadi kalau lihat Facebook Live saya di event kami di Wonosobo, saya tanya ke mereka ‘ibu-ibu bilang sembako mahal itu karena ada saya apa ibu merasakan’? Memang sembako mahal,” kata Sandiaga, Senin (19/11).

“Ini adalah kisah, kisah yang harus kami cermati sebagai aspirasi. Dan kami harus hadir sebagai calon pemimpin dengan solusi, bukan dengan mengeluh, karena ini memang tahun politik dan ini adalah siklusnya politisi ramai,” sambungnya.

Jokowi memang sempat menyatakan harga sembako dijadikan ‘gorengan’ politik. Padahal menurutnya ia benar-benar menjaga kestabilan harga di pasar.

“Sedih juga kita, kalau sudah masuk ke tahun-tahun politik, apa pun ‘digoreng’. Harga sembako ‘digoreng’. Sarapan pagi saya adalah angka-angka. Harga beras, harga cabai, harga daging, harga sayur, semuanya pagi pasti masuk ke meja saya,” ungkap Jokowi, Senin (19/11).

“Kalau harga naik sedikit, Rp 100 perak saja, pasti detik itu juga saya akan telepon Kepala Bulog, akan saya telepon Menteri Perdagangan, saya telepon Menteri Pertanian. Hati-hati, harus ada operasi pasar untuk mengendalikan ini,” tambahnya.

Seakan tak mau kalah dengan Sandiaga, Jokowi juga sering mendatangi pasar untuk mengecek harga-harga di pasar. Beberapa kali dia juga melakukan counter atas pernyataan Sandiaga, termasuk soal harga tempe.

Baca juga : Jangan Lewatkan Wisata Kuliner Malam Di Busan

Seperti hari ini, Jokowi mengunjungi Pasar Gintung Tanjung Karang, Bandar Lampung. Ia menjelaskan harga sayur mayur yang harganya murah. Menurut Jokowi, harga tempe hanya Rp 3 ribu per papan, sehingga ia memborongnya sampai membeli Rp 100 ribu.

“Cabai lebih murah, tempe juga. Tempe hanya Rp 3.000, saya nggak tahu, tapi tempe lebih murah di Lampung. Sayur, bayam atau kangkung, ikat itu Rp 2.500, di sini Rp 1.500 sama Rp 2.000. Ada yang Rp 1.000, Rp 1.500, ada yang Rp 2.000. Nggak tahu, di sini lebih murah,” tutur Jokowi.

Jokowi pun menceritakan pengalamannya berbelanja di Pasar Gintung Tanjung Karang tadi pagi. Harga-harga di lokasi itu disebutnya stabil.

“Tadi saya beli cabai Rp 23.000. Saya beli 1 kilogram, ternyata itu satu tas kresek gede banget. Ini beli, habis berapa bulan. Yang naik daging ayam dari Rp 28.000 jadi Rp 32.000, biasa namanya harga ada yang naik dan turun, tapi secara rata-rata stabil,” kata Jokowi.

Kemudian Jokowi menyindir pihak-pihak yang kerap membicarakan harga-harga mahal di pasar, padahal belum tentu pernah datang langsung. Ia meminta jangan ada yang menakut-nakuti masyarakat dengan isu harga mahal di pasar tradisional.

Orang nggak pernah ke pasar, nongol-nongol ke pasar, keluarnya ngomong mahal. Nggak pernah ke pasar. Nggak mungkin orang superkaya datang tahu-tahu datang ke pasar, nggak mungkinlah. Datang ke pasar, nggak beli apa-apa, pas keluar bilang mahal, mahal, mahal. Haduuh…,” ujar Jokowi saat memberikan arahan di depan TKD Jokowi-Ma’ruf di Graha Wangsa, Bandar Lampung, Sabtu (24/11).

Jangan Lewatkan Wisata Kuliner Malam Di Busan

Jangan Lewatkan Wisata Kuliner Malam Di Busan

Daftarhargakomoditi.web.id – Di tengah cuaca dingin di akhir musim semi, sebuah keluarga kecil Indonesia yang telah menetap di Busan selama beberapa tahun mengundang saya untuk pergi ke pasar malam. Pada awalnya saya berpikir bahwa hanya pasar malam yang memiliki konsep pasar, biasanya pasar malam di kompleks perumahan. Saya salah Ini adalah pasar Bupyeong Kkantong, pasar malam yang berlokasi di pasar tradisional Korea dengan beragam penerimaan saya. Sebagai pecinta makanan jalanan dan keahlian memasak, tentu saja, ini adalah kebahagiaan khusus bagi saya secara pribadi di setiap perjalanan.

Terletak tak jauh dari Pasar Gukje, Bupyeong Kkantong Market merupakan pasar tradisional yang sudah ada sejak tahun 1910 lalu. Kawasan pasar tersebut juga dikenal dengan nama Bupyeong Kkantong Yasijang, dengan istilah Yasijang yang memiilki arti pasar malam. Sementara Kkantong mengacu pada makanan kaleng yang saat itu banyak dijual di pasar tersebut ketika jaman perang Korea masih berlangsung.

Meskipun merupakan pasar tradisional tertua di Busan, seiring waktu Bupyeong Kkantong berkembang menjadi pasar yang menyuguhkan kekayaan aneka jajanan baik itu rasa lokal maupun dari berbagai negara. Bisa dikatakan bahwa ini pasar internasional yang dibalut dengan konsep tradisional yang menyenangkan. Kios-kios berbaur dengan stand makanan ringan dari mancanegara dengan baik. Harmonisasi kehidupan pasar yang humanis.

Saya menghampiri stand kebab turki yang penjualnya orang Turki dan tentunya fasih berbicara Korea. Interaksi dengan pedagang asli Korea pun terlihat dengan baik tanpa memandang perbedaan. Tak saja kebab Turki, Di sini kamu dengan mudah menemui masakan Vietnam, China, Jepang dan aneka ragam jajanan dari Timur Tengah. Dari aneka makanan dengan rasa gurih hingga manis pun mengoda untuk segera dicicipin.

Beroperasi sejak pukul 07.30 pagi hingga tengah malam, Bupyeong Kkantong Market sebenarnya bukanlah dikhususkan sebagai pasar malam. Baru ketika menjelang malam tempat ini dipenuhi stand aneka jajanan makanan tempat ini dikenal dengan jajanan malamnya.

Baca juga : Pasar Di Tenga Sawa Cuma Di Purworejo

Menyenangkan adalah suasana pendar cahaya lampu di malam hari yang membuat kegiatan belanja aneka jajanan lebih mengasyikan dan seru jika dibandingkan siang hari. Sementara jika di sepanjang siang, seperti pasar tradisional tempat ini dipenuhi oleh kios-kios yang menjual bahan kebutuhan dapur dan sayur-sayuran segar.

Oh, ya meskipun stand makanan lebih banyak kala menjelang malam hari, namun bukan berarti kamu tidak bisa berwisata kuliner lho ketika siang hari. Di dekat pasar juga ada beberapa kios yang menjual makanan yang tetap mengiurkan dan mengoda mata serta mengembirakan perut.

Pasar Bupyeong Kkantong cukup terkenal dikalangan masyarakat lokal maupun turis mancanegara sehingga baik datang di kala siang hari maupun malam hari. Karena tetap menyisakan cerita yang mengasyikan dan seru soal wisata kuliner dan berbelanja.

Yang membuat betah untuk menelusuri pasar tradisional di Korea termasuk Bupyeong Kkantong Market adalah kebersihan yang terjaga dengan baik. Selain bisa menikmati kuliner yang mengiurkan dan mengenyangkan, di pasar tersebut kamu juga bisa lho berburu souvenir untuk oleh-oleh.

Kios-kios pakaian, souvenir dan aneka barang tertata dengan rapi. Menelusuri kawasan tersebut sungguh menyenangkan, dan hati – hati lupa waktu. Untuk harga pun terbilang terjangkau dan ramah bagi turis.

Malam itu, keramahan keluarga kecil dari Indonesia yang membuat saya terjebak pada kehidupan humanis pasar tradisional Korea, Bupyeong Kkantong Market memberi rasa hangat di hati. Pada dinginnya cuaca saat itu, mengingatkan saya pada sebungkus Tolak Angin yang menyisakan rasa hangat di tenggorokan dan badan.

Kebaikan keluarga kecil itu mentraktir saya aneka ragam jajanan dari kue ikan hingga kebab yang dibeli di Bupyeong Kkantong sebagai bekal perjalanan di kereta menuju Seoul, menyisakan kesan yang mendalam.

Pasar Di Tenga Sawa Cuma Di Purworejo

Pasar Di Tenga Sawa Cuma Di Purworejo

Daftarhargakomoditi.web.id – Pasar Inis terletak di desa Brondongrejo, Kabupaten Purwodadi. Meski berada di tengah lapangan, rute ini mudah ditemukan. Ketika Anda tiba di Jalan Jogja KM 7, pengunjung tinggal di barat sekitar 3 km dan Anda akan menemukan pasar tradisional di tengah hamparan sawah.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Inis, Ester Yuni Astuti (55) menuturkan kata Inis berasal dari Bahasa Jawa yang berarti sejuk, adem dan tertiup angin sepoi-sepoi. Karena letaknya yang berada di pedesaan dan dikelilingi persawahan serta pepohonan, maka pasar ini disebut Pasar Inis.

“Dinamakan Pasar Inis karena suasananya silir atau sejuk karena banyak pepohonan di sekitar tempat ini. Jadi adem,” kata Ester ketika ditemui daftarhargakomoditi.web.id di lokasi, Minggu (21/4/2019) lalu. Berbagai makanan tradisional pun dijajakan pedagang yang memakai kebaya lengkap dengan capingnya di dalam saung-saung yang berjajar rapi. Uniknya, setiap pengunjung yang datang harus menukar uang rupiah dengan dit pring atau uang dari bambu yang digunakan untuk transaksi di pasar yang hanya buka setiap hari Minggu pukul 05.00 hingga 11.00 WIB ini.

“Makanannya macem-macem, ada sego urap, sego telang, lupis, growol, jamu, wedang telang dan lain-lain pokoknya yang tidak ada di tempat lain. Sebelum masuk pasar pengunjung bisa menukar uang rupiah dengan dit pring untuk transaksi, pecahannya mulai dari Rp 2 ribu sampai Rp 20 ribu. Untuk Bulan Ramadan besok bukanya sore sampai berbuka,” jelasnya. Setelah membeli makanan, pengunjung bisa menikmatinya sambil duduk di deretan bangku bambu yang telah ditata rapi dalam Halte Inis. Selain berbagai makanan dan minuman tradisional, di pasar ini juga disediakan permainan tradisional seperti egrang, teklek panjang hingga arena mobil untuk anak-anak. Sembari menikmati menu ‘ndeso’, pengunjung bisa menikmati pula sajian musik tradisonal angklung melung. Untuk memperingati Hari Kartini sekaligus merayakan ulang tahun Pasar Inis yang pertama, berbagai perlombaan pun digelar.

Baca juga : Perbedaan Pasar Tradisional Jerman Dan Indonesia

“Hari ini tambah meriah karena ada puncak peringatan hari ulang tahun Pasar Inis yang pertama, sebenarnya ulang tahunnya tanggal 8 April tapi sekaligus dibarengkan dengan Hari Kartini 21 April. Untuk itu diadakan juga lomba-lomba seperti fashion show, 3 on 3 rinjing sawah, estafet wedang telang tanpa Selang, melukis Inis, tangkap bebek di sawah, dan adi busono wong-wongan sawah,” lanjutnya. Tak hanya itu, bagi pengunjung yang ingin berfoto selfie, spot-spot unik serta taman bunga juga tersedia. Salah satu pengunjung, Titis Hestiningtyas (30) yang tak henti-hentinya memainkan kamera ponselnya untuk berfoto selfie di taman bunga. Ia mengaku senang bisa menghabiskan waktu di pasar tersebut. Bahkan ia sudah lebih dari sekali mengunjungi tempat wisata tradisional ini.

“Bagus, nggak bosan. Makanannya juga enak, tadi beli pakai uang bambu. Suasananya enak sejuk, cocok kalau buat ngadem. Kalau bisa si taman bunganya diperluas lagi biar kalau pengunjungnya banyak tidak berjubel,” ucap Titis.

Perbedaan Pasar Tradisional Jerman Dan Indonesia

Perbedaan Pasar Tradisional Jerman Dan Indonesia

Daftarhargakomoditi.web.id – Meskipun sepenuhnya modern, Jerman masih mempertahankan sisi tradisionalnya. Mengunjungi Dusseldorf, seorang pelancong dapat berbelanja seperti pasar tradisional di Indonesia. Kota Dusseldorf di Jerman dikenal sebagai pusat mode dan mode. Tidak hanya itu, kota ini merupakan perpaduan sisi bersih dan modern. Salah satu sisi tradisional Dusseldorf disimpan di daerah Carlsplatz.

rombongan Fam Trip Singapore Airlines berkunjung ke Carsplatz pada akhir bulan Maret lalu. Singapore Airlines memang punya rute menuju ke Dusseldorf yang terbang 4 kali dalam sepekan.

Carslplatz sendiri merupakan pasar tradisional yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari traveler. Dari mulai bahan-bahan makanan, sayur-mayur, bumbu dapur, daging, keju, hingga sosis. Ada juga yang menjual perkakas dapur dan peranti lainnya.

Saat daftarhargakomoditi.web.id berkunjung ke Carsplatz, suasana pasar saat itu sedang ramai-ramainya. Maklum, sedang akhir pekan. Cuaca saat itu juga sedang cerah. Jadinya warga Kota Dusseldorf memanfaatkan waktu buat keluar rumah dan berbelanja ke pasar. Ini juga menjadi sebuah tempat wisata di Jerman.

Mereka membeli beberapa kebutuhan pokok seperti daging dan juga sayuran. Ada juga beberapa yang membeli keju dan roti. Mereka membawa sendiri kantong belanjaan dari rumah.

Para pedagang di pasar ini tidak menyediakan kantong plastik buat para pembeli. Kalaupun ada, akan dikenakan biaya ekstra. Sebuah langkah sederhana untuk ‘Go Green’ yang patut ditiru di Indonesia.

Para penjual di pasar ini terhitung ramah. Mereka selalu tersenyum setiap ada calon pembeli datang. Baik itu pedagang keju, sosis, atau pun bunga, mereka selalu tersenyum menyambut kedatangan kami.

Baca juga : Fungsi Pasar Tidak Hanya Jual Beli

Kondisi pasar juga terhitung sangat bersih. Nyaris tidak ada sampah yang berserakan. Padahal jarang terlihat tempat sampah di sekitar pasar. Mungkin karena masyarakat di sana sudah sadar soal tidak membuang sampah sembarangan.

Jalanan antar kios pedagang juga cukup lebar, sehingga nyaman buat jalan kaki. Walaupun agak ramai, tapi suasana di pasar tidak sumpek karena serba terbuka.

Selain berjualan bahan-bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari, di pasar ini juga ada sentra kuliner yang patut untuk dicoba. Selain restoran lokal Jerman, ada juga beberapa kedai yang menjual menu bercita rasa internasional.

Traveler pecinta wisata kuliner pasti akan merasa dimanjakan begitu berkunjung ke pasar ini. Warga lokal bercampur dengan turis nampak asyik menikmati kulineran di pasar ini.

Meski tempat kulinerannya di pasar, tapi dijamin bersih kok. Wajib dicoba kalau traveler liburan ke Kota Dusseldorf di Jerman.

Fungsi Pasar Tidak Hanya Jual Beli

Fungsi Pasar Tidak Hanya Jual Beli

Daftarhargakomoditi.web.id – Pasar juga merupakan salah satu tempat utama dalam roda ekonomi suatu negara. Saat ini ada banyak jenis pasar di berbagai tempat, terutama di Indonesia. Beberapa contoh jenis pasar termasuk pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional adalah tempat di mana pembeli dan penjual menghadapi transaksi langsung dan pembeli dapat bernegosiasi.

Pasar modern contohnya seperti supermarket dan minimarket. Pasar modern tidak melakukan transaksi secara langsung. Pembeli akan melihat label harga yang sudah ditentukan atau ditempel sebelumnya dan tidak bisa ditawar, kemudian pembeli akan membayarnya di kasir dengan atau dilayani oleh pramuniaga.

Namun jenis pasar di atas tidak lepas dari fungsi pasar secara umum yaitu, tempat berlangsungnya jual beli sebuah produk berupa barang atau jasa. Pasar juga pada dasarnya merupakan sebuah tempat di mana terdapat interaksi antara dua belah pihak atau lebih yang sama-sama memiliki tujuan.

Pembeli dengan tujuan untuk mendapatkan yang dia inginkan atau butuhkan, penjual dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan dengan menjual produknya.

Di atas merupakan fungsi pasar secara umum, dan masih banyak fungsi pasar lainnya. Untuk mengetahui fungsi pasar yang lainnya, berikut ini daftarhargakomoditi.web.id sudah merangkum beberapa informasi mengenai fungsi pasar dari beberapa sumber, Jumat (29/03/2019).

Tempat Distribusi
Fungsi pasar yang pertama adalah tempat distribusi. Tempat distribusi ini adalah tempat terjadinya proses pemasaran sebuah barang dari penjual ke pembeli. Pada intinya pasar menjadi jembatan antara penjual yang ingin memasarkan barangnya kepada pembeli yang mencari barang tersebut.

Penjual atau yang lebih sering disebut produsen, kan membuat barang atau jasa yang dibutuhkan oleh konsumen atau pembeli. Fungsi pasar sebagai tempat distribusi memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Produsen atau penjual akan mendapatkan keuntungan dengan menjual barangnya, pembeli atau konsumen akan merasa puas karena mendapatkan barang yang dia butuhkan.

Pembentuk Harga
Dalam ekonomi pasar, harga merupakan ukuran nilai. Fungsi nilai untuk memecahkan masalah penentuan apa yang harus diproduksi oleh suatu perekonomian. Barang yang relatif lebih diinginkan oleh masyarakat biasanya mempunyai tingkat harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan barang yang tidak diinginkan masyarakat.

Harga juga harus sesuai dengan persetujuan dari kedua belah pihak yang melakukan transaksi jual-beli. Pasar berfungsi untuk menentukan dan menetapkan harga dengan tujuan agar semua tempat dan kalangan harga itu sama dan tentunya dengan syarat-syarat yang berlaku lainnya.

Baca juga : Cara Pemkab Antisipasi Harga Cabai

Sarana Promosi
Fungsi pasar selanjutnya adalah tempat untuk promosi. Promosi dalam hal ini bisa berbentuk promosi sebuah jasa ataupun promosi sebuah produk. Pasar menjadi tempat yang strategis dan efektif untuk digunakan sebagai tempat promosi karena banyak orang dan kerumunan yang datang kepasar untuk mencari kebutuhan hidup mereka.

Di sini produsen menjadi lebih mudah untuk mempromosikan produk terbaru atau produk yang dimiliki kepada masyarakat. Promosi memang perlu dilakukan untuk menunjang dan meningkatkan keinginan konsumen dalam membeli sebuah barang atau jasa.

Pembentukan Kreatifitas
Hadirnya pasar bisa menjadi tempat membentuk kreativitas bagi produsen bahkan konsumen. Mereka akan menemukan hal-hal yang baru, bisa berupa kebutuhan yang belum ada, atau barang lain yang bermanfaat lainnya.

Konsumen juga akan mendapatkan kreatifitasnya dalam membuat sesuatu karena menemukan banyak hal yang ada di pasar. Contohnya saja, konsumen menemukan banyak bahan untuk membuat sebuah makanan, dan lain sebagainya.

Tempat Besosial
Fungsi pasar selanjutnya adalah menajadi tempat untuk bersosial. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk melakukan dan memenuhi kebutuhannya. Pasar menjadi tempat yang strategis untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak bisa mereka penuhi atau mereka buat sendiri.

Di dalam pasar juga akan terjadi sebuah komunikasi dan interaksi antara pihak penjual dan pembeli. Hal inilah yang membuat manusia menjadi lebih bersosial dan bisa berhubungan dengan orang lain.

Cara Pemkab Antisipasi Harga Cabai

Cara Pemkab Antisipasi Harga Cabai

Daftarhargakomoditi.web.id – Pemkab memiliki cara yang berbeda dengan mengatasi harga cabai ini. Cara ini terkesan unik namun tidak semua berfikit seperti berikut ini. Penasaran bagaimana cara Pemkab mengatasi harga capai di bawah ini ulasannya dari daftarhargakomoditi.web.id.

Dua tahun lalu, harga cabai meroket. Alasannya adalah kekurangan barang. Cabe merah, misalnya, sudah menembus harga Rp. 140 ribu per kilogram. Bahkan dengan cabai merah keriting dan cabai hijau, yang meningkat berkali-kali mencapai kisaran harga Rp. 60 ribu – Rp. 75 ribu per kilogram.

Tingginya harga itu tak lantas membuat petani sejahtera. Hanya segelintir petani yang bisa menikmati harga tinggi ini. Sebagian besar lainnya, justru dirundung sengsara lantaran panenan tak optimal hingga gagal panen. Saat itu, cuaca buruk menyebabkan tanaman cabai petani di berbagai daerah rusak.

Hukum pasar menyebut, harga berbanding terbalik dengan jumlah pasokan. Saat pasokan berlimpah, harga cabai akan turun.

Ini lah yang terjadi saat ini. Panen raya di berbagai daerah menyebabkan harga cabai anjlok. Salah satunya di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Karenanya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara menggelar bazar cabai, mulai Jumat, 25 Januari 2019. Sebanyak 500 kwintal cabai dari petani dipasarkan langsung di kompleks perkantoran Dinperindagkop Kabupaten Banjarnegara, Semampir.

Staf Bagian Kesra Setda Banjarnegara, Anhar mengatakan bazar ini sebenarnya adalah pemantik agar masyarakat, utamanya aparatur sipil negara (ASN) peduli dengan petani.

Wujud kepedulian itu adalah dengan membeli cabai langsung kepada petani, bukan pada tengkulak atau pedagang pasar. Pasalnya, rantai distribusi nan panjang membuat harga cabai di tingkat petani murah.

Baca juga : Hercules Bantu Sebar Cabai Ke Pulau Seberang

Bagaimana Kentang Dieng?

Sementara, petani membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk membudidayakan cabai. Jika harga sampai jatuh pada masa panen raya Februari mendatang, petani bisa gulung tikar.

“Ini sudah per hari ini, bazar perdana dijual lima kwintal lombok, di kompleks perkantoran Banjarnegara di Sumampir,” kata Anhar, Jumat 25 Januari 2019.

Anhar mengemukakan, harga cabai rawit dan keriting merah di Banjarnegara hanya Rp 8.000 per kilogram di tingkat petani, atau turun Rp 2.000 per kilogram dari harga biasanya yang mencapai Rp 10 ribu per kilogram.

Di Bazar Cabai Banjarnegara, cabai merah dan rawit dijual dengan harga Rp 15 ribu per kilogram. Adapun harga cabai hijau dijual dengan harga Rp 12 ribu. Dia mengklaim, harga ini sama dengan harga eceran di pasaran.

Cabai itu langsung dikirimkan oleh petani yang bekerjasama dengan Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi dan Dinas Pertanian Banjarnegara.

“Ya, dijualnya Rp 15 ribu langsung. Biasanya kan ini dibeli dari petani Rp 8.000 per kilogram. Yang hijau itu Rp 12 ribu per kilogram,” dia menambahkan.

Saat ini harga cabai di Banjarnegara memang tak jatuh total. Akan tetapi, jika penyerapan hasil panenan tak maksimal, dikhawatirkan akan turun drastis. Petani Banjarnegara, pernah menderita lantaran harga cabai jatuh ke Rp 4.000 per kilogram.

Selain cabai, Pemkab Banjarnegara juga tengah mengkaji untuk membeli kentang Dieng yang kini harganya juga turun akibat panen raya yang tak diimbangi dengan serapan maksimal.

Tak tertutup kemungkinan, beberapa hari ke depan, kentang Dieng juga menjadi komoditas yang masuk dalam bazar hasil pertanian. Kentang Dieng kini hanya Rp 7.500 per kilogram di tingkat petani.

Hercules Bantu Sebar Cabai Ke Pulau Seberang

Hercules Bantu Sebar Cabai Ke Pulau Seberang

Daftarhargakomoditi.web.id – Hercules grup dari TNI ini sampai membantu masyarakat untuk menyebar cabai ke pulau seberang karena harga cabai kita di dalam negeri sudah sangat anjlok turun. Ini adalah cara arternatif TNI agar dapat  keluarga petani. Berikut ulasan di bawah ini yang membahas superhero dari TNI kita.

Tampaknya tidak perlu memahami secara detail teori ekonomi klasik Adam Smith untuk mengetahui hukum ketika pasokan barang melimpah, maka harga suatu produk akan turun. Bahkan dengan petani cabai di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Sejak Januari lalu, harga cabai terus menukik turun. Petani pun menjerit. Semula, harga cabai turun menjadi Rp 7.000 per kilogram.

Akibatnya, sebagian petani menahan diri untuk tak segera memanen cabai yang masih menggantung di pohon. Namun, bukannya membaik, harga cabai justru semakin jatuh ke harga Rp 4.000 per kilogram pada Februari 2019 ini.

Nestapa petani tak berhenti di situ. Di tengah harga yang jatuh, satu per satu tanaman cabai membusuk dan mati. Serangan bakteri menyebabkan petani semakin merana.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara sebenarnya juga tak tinggal diam dengan kondisi ini. Akhir Januari lalu, Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan Industri dan UMKM menggelar bazar cabai.

Cabai dari petani itu langsung dijual dengan harga eceran, sebesar Rp 15 ribu per kilogram. Harapannya, bazar cabai ini memicu kepedulian masyarakat, utamanya ASN, untuk turut membantu petani dengan cara membeli hasil panen dengan harga normal.

Tampaknya, upaya itu tak begitu efektif. Lepas bazar cabai, harga cabai tetap turun hingga akhirnya hanya dihargai Rp 4.000 per kilogram.

“Kita kembali menggelar bazar, pasar tani, tidak hanya cabai,” ucap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara, Totok Setya Winarno.

Baca juga : Semua Harga Naik Di Pasar Kelapa Gading

Upaya lainnya, Dinas Pertanian Banjarnegara dan sejumlah wilayah lain berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi jatuhnya harga cabai dan beragam komoditas hortikultura. Kesimpulannya, harga jatuh lantaran terjadi penumpukan satu komoditas di tempat tertentu.

Sementara, di wilayah berbeda, luar Jawa misalnya, harga cabai dan berbagai komoditas masih terhitung stabil. Karenanya, dibutuhkan distribusi yang cepat agar hasil pertanian lebih cepat sampai ke daerah lain.

Salah satu opsi agar harga sebuah komoditas tak jatuh adalah adalah dengan mengirim hasil pertanian ke luar pulau. Masalahnya, untuk mengirim hasil panenan secara cepat dibutuhkan alat angkut pesawat yang memerlukan biaya tinggi.

Sebab itu, Kementerian Pertanian meminta Penglima TNI untuk mengerahkan pesawat Hercules untuk diperbantukan mendistribusikan cabai dan berbagai komoditas pertanian ke luar pulau. Hal itu dilakukan untuk menanggulangi jatuhnya harga berbagai komoditas pertanian pada masa panen raya ini.

“Responnya bagus. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama,” dia mengungkapkan.

Totok mengatakan, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian telah berkirim surat ke Panglima TNI usai berkoordinasi dengan dinas pertanian kabupaten di Jakarta. Harapannya, pesawat hercules bisa mendistribusikan komoditas pertanian secara cepat ke daerah yang membutuhkan.

“Yang intinya, kita di Jakarta itu mencari solusi. Di mana, memang, transportasi udara itu kan mahal. Maka, kemarin itu Pak Dirjen langsung membuat surat permohonan kepada Panglima TNI, untuk mengerahkan hercules,” ucapnya.

Totok menerangkan, panen serentak di berbagai daerah dan sistem distribusi hasil pertanian yang belum bisa diandalkan untuk menjangkau luar pulau menjadi pangkal anjloknya harga komoditas pertanian.

“Biar nanti, distribusi ke luar pulau bisa lancar,” dia menambahkan.

Dalam jangka panjang, dinas pertanian di wilayah mendorong petani melakukan pengolahan pascapanen. Produk dijual bukan dalam bentuk segar, melainkan sudah menjadi olahan siap saji.

“Daya simpannya lebih panjang,” dia menerangkan.