Kendalikan Defisit Perdagangan KEIN Dorong Pemerintah Genjot Ekspor

Kendalikan Defisit Perdagangan KEIN Dorong Pemerintah Genjot Ekspor

Daftarhargakomoditi.web.id – Wakil Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta menyoroti, defisit neraca perdagangan Indonesia. Dia menuturkan, defisit sebesar USD 2,50 miliar tersebut harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, lantaran menjadi terbesar dibandingkan tahun-tahun lalu.

“Apa yang sebabkan defisit di April capai USD 2,50 miliar ini merupakan defisit terdalam dalam jangka waktu 6 tahun terakhir,” kata Arif

Arif mengatakan, dengan memburuknya posisi neraca perdagangan Indonesia otomatis akan berimbas pada terkoreksinya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan mencapai sebesar 5,3 persen.

“Di tahun 2019 kita akan tumbuh 5,3 persen dari asumsi makro APBN 2019. Maka target nilai ekspor kita harus minimal capai Rp 3.408 triliun,” kata dia.

Oleh karena itu, kata dia, untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi RI harus ada tindak lanjut dalam upaya pengendalian terhadap defisit neraca perdagangan. Paling tidak pemerintah dapat melakukan refleksi dari arah kebijakan moneter, fiskal hingga kepada sektor riil.

Baca Juga : Pemerintah Kaji Kebijakan Perbaiki Defisit Neraca Perdagangan Migas

Dia menambahkan, dalam upaya pengendalian defisit neraca perdagangan dapat dilakukan juga dengan mendorong ekspor dan menahan laju impor.

Untuk mendorong ekspor, kata dia, bisa dilakukan dengan meningkatkan volume perdagangan atau mengubah harga relatif komoditas ekspor.

Arif menyebut, salah satu yang bisa dilakukan untuk mendorong volume perdagangan dapat dilakukan dengan mendiversifikasi ekspor selain komoditas utama. Sebab selama ini, Indonesia masih bergantung dan mengandalkan CPO beserta produk turunannya untuk ekspor.

“Kalau kita bergantung kepada CPO saja maka harga komoditinya akan turun. Secara agregat harga komoditas migas itu April 2018 ke April 2019 turun 21 persen secara agregrat, secara keseluruhan. Volume meningkat, tapi harga turun,” kata dia.

Strategi Pemerintah Tingkatkan Neraca Perdagangan
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah akan menerapkan sistem industrialisasi substitusi impor untuk meningkatkan neraca perdagangan.

Pemerintah mengganti barang impor dengan barang produksi dalam negeri. Dia menjelaskan, pelaku industri harus lebih cermat mengenai identifikasi barang apa yang bakal diekspor. Mengingat, Indonesia tidak bisa lagi mengekspor barang ke luar negeri tanpa perhitungan yang cermat.

“Kalau mau ekspor kelihatannya kita harus lebih cermat, apa barangnya. Itu sudah harus diidentifikasi dengan baik. kalau hanya dicoba-coba dalam situasi seperti ini, itu tidak benar,” kata Darmin di Jakarta.

Impor Indonesia Turun 20,70 Persen pada Juni 2019

Impor Indonesia Turun 20,70 Persen pada Juni 2019

Daftarhargakomoditi.web.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju impor Indonesia pada Juni 2019 mencapai USD 11,58 miliar. Angka ini turun 20,70 persen bila dibandingkan dengan Mei 2019 yang tercatat USD 14,61 miliar.

Sementara apabila dibandingkan dengan realisasi impor pada Juni 2018 justru mengalami kenaikan sebesar 2,80 persen. Setahun lalu, total impor Indonesia di angka USD 11,27 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, penurunan impor pada Juni 2019 ini didorong karena penurunan impor pada migas maupun nonmigas. Masa cuti dan libur bersama Lebaran 2019 menjadi alasan penurunan impor tersebut karena perdagangan libur.

“Cuti panjang yang selama 9 hari di Juni 2019 itu sangat berpengaruh terhadap laju impor Indonesia,” ujar Suhariyanto saat memberi keterangan pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta,

Impor sektor migas turun 21,50 persen. yakni dari USD 2,18 miliar pada Mei 2019 menjadi USD 1,71 miliar pada Juni 2019. Lalu impor nonmigas turun 20,55 persen dari USD 12,42 miliar pada Mei 2019 menjadi USD 9,87 miliar di Juni 2019.

Pria yang akrab disapa Kecuk tersebut menyatakan, pada komoditas nonmigas yang mengalami penurunan impor terendah adalah plastik dan barang dari plastik USD 131,8 juta, ampas atau sisa industri makanan USD 166,7 juta, besi dan baja USD 213 juta, mesin dan peralatan listrik USD 376,8 juta, mesin-mesin atau pesawat mekanik USD 399,6 juta.

Sedangkan komoditas yang mengalami peningkatan impor tertinggi yakni alumunium USD 143,2 juta, perhiasan atau lermata USD 232,6 juta, gula dan kembang gula USD 16,7 juta, kain rajutan USD 13,5 juta, serta kendaraan bermotor atau komponen, terbongkar USD 10,3 juta.

Baca Juga : Mengenal Arti Komoditas Yang Sesungguhnya

Ekspor Indonesia Turun 20,54 Persen Pada Juni 2019

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada Juni 2019 mengalami penurunan sebesar 20,54 persen dibanding ekspor bulan sebelumnya. Ekspor Juni tercatat sebesar USD 11,78 miliar sedangkan pada bulan sebelumnya ekspor sebesar USD 14,74 miliar.

“Pada juni 2019 ekspor Indonesia sebesar USD 11,78 miliar dibandingkan posisi Mei 2019 terjadi turun agak dalam turun 20,54 persen. Ini terjadi baik migas maupun non migas” ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat Badan Pusat Statistik, Jakarta,

Dijelaskan Suhariyanto, BPS mencatat, ekspor pada Juni mengalami penurunan karena sektor migas dan non migas mengalami penurunan cukup signifikan. Sektor migas turun sebesar 34,36 persen sedangkan non migas juga turun sebesar 19,39 persen.

“Ekspor migas pada Juni sebesar USD 0,75 miliar dan non migas sebesar USD 11,03 miliar,” jelasnya.

Sebagian Besar Sektor Turun

Menurut sektor, ekspor seluruh komponen hampir mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Di mana sektor migas tercatat turun sebesar UDD 0,75 miliar atau turun sebesar 34,36 persen secara month to month (mtm).

Kemudian industri pertanian dan industri pengolahan juga mengalami penurunan masing-masing sebesar USD 0,21 miliar dan USD 9,02 miliar atau turun 33,83 persen dan 19,62 persen secara mtm. Sementara itu, pada sektor pertambangan dan lainnya juga alami penurunan sebesar 16,11 persen dengan nilai ekspor USD 1,80 miliar

Adapun nilai total ekspor dari Januari sampai dengan Mei 2019 mencapai sebesar 87,86 persen. Angka ini turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 87,86 persen. “Secara keseluruah ekspor Juni 2019 lebih rendah dari posisi 2018,” pungkas dia.