Palestina Minta RI Bebaskan Lebih Banyak Komoditi dari Bea Masuk

Palestina Minta RI Bebaskan Lebih Banyak Komoditi dari Bea Masuk

Daftarhargakomoditi.web.id – Palestina kembali meminta Indonesia untuk membebaskan 61 komoditi ekspornya dari bea masuk. Hal itu disampaikan Moga Simatupang, Sekretaris Direktorat Jenderal Negosiasi Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan Indonesia.

Di antara ke-61 produk yang dimohon Palestina untuk dibebaskan bea ekspor adalah mur, baut, dan sabun.

Moga mengatakan, saat ini telah ada dua komoditi Palestina yang dibebaskan penuh dari tarif, yakni kurma dan zaitun.

“Kementerian perdagangan telah menerima permohonan tersebut, tapi kita perlu melakukan preferential trade agreement tidak seperti yang sebelumnya kita lakukan dengan MoU,” kata Moga Simatupang di Hotel Borobudur, Jakarta,

“Selain produk mereka bisa masuk 0 persen, kita berharap ada penurunan tarif produk kita ke sana,” lanjutnya.

Saat ini, nilai jual-beli Indonesia dengan Palestina telah mencapai US$ 3,5 juta, menurut data dari BPS. Indonesia mengekspor US$ 2,8 juta sementara impor RI dari Palestina baru US$ 717.000. Dengan demikian Jakarta masih surplus dari Ramallah.

Adapun komoditas Indonesia yang dibeli Palestina di antaranya adalah kopi, roti, peralatan toko roti, piring, kayu, dan karet vulkanisir.

Baca Juga : Kemarau Panjang Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 110 Ribu per Kg

Jajaki Kerja Sama Perdagangan yang Lebih Luas

Untuk meningkatkan nilai perdagangan bilateral, Kedutaan Besar Palestina di Jakarta mengadakan workshop bertajuk Export Led Prosperity Made in Palestine yang digelar Kamis, Kegiatan itu bermanfaat untuk membuka wawasan para pemangku bisnis dan kebijakan di Indonesia terhadap berbagai dimensi perekonomian yang ada di Palestina.

“Kami bertujuan untuk bisa memperkuat perekonomian kedua negara, Palestina dan Indonesia, sehingga kita bisa bersama-sama dalam mengembangkan perekonomian yang ada,” kata Duta Besar Palestina Zuhair Al Shun dalam sambutan lokakarya.

“Saya mengundang Bapak dan Ibu sekalian untuk datang ke Palestina, sehingga dapat menyaksikan langsung bagaimana potensi-potensi perekonomian yang ada di Palestina,” lanjutnya.

Dalam seminar ini hadir sejumlah delegasi misi dagang Ramallah, di antaranya adalah Jawad Al Muty yang mewakili Kementerian Perekonomian Nasional Palestina, perwakilan Palestine Trade Center (Paltrade), Ola Hammouda dari Palestine Investment Promotion Agency, serta Hammad Sadeq dari Palestinian Industrial Free Zones.

Dalam lokakarya ini, Palestina berharap aktor bisnis Indonesia dapat mengidentifikasi secara detail produk apa saja yang mereka anggap berpotensi bagus dalam perdagangan.

Selain perwakilan sejumlah perusahaan, dalam acara ini hadir pula JICA dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Ekspor RI Turun 3 Persen Lebih di Januari 2019

Ekspor RI Turun 3 Persen Lebih di Januari 2019

Daftarhargakomoditi.web.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara total ekspor Indonesia pada Januari 2019 mengalami penurunan 3 persen lebih dibandingkan Desember 2018 dan Januari 2018 sebesar 4,7 persen. ‎Pada Januari 2019, ekspor Indonesia sebesar USD 13,8 miliar, sedangkan di Desember 2018 sebesar USD 14,3 miliar.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, penurunan ekspor Januari 2019 tersebut disebabkan oleh menurunnya ekspor migas sebesar 29,3 persen, yaitu dari USD 1,74 miliar menjadi USD 1,23 miliar.

“Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 29,76 persen, menjadi USD 75,1 juta dan ekspor minyak mentah 77,25 persen menjadi USD 72,1 juta. Demikian juga ekspor gas turun 17,77 persen menjadi USD 1,08 miliar,” ujar dia di Jakarta,

Sementara ekspor nonmigas, lanjut dia, mengalami naik 0,38 persen, dari USD 12,5 miliar menjadi USD 12,6 miliar. Peningkatan ekspor nonmigas tersebut khususnya terjadi pada kelompok bijih, kerak dan abu logam sebesar USD 80,3 juta atau 37,8 persen. Sedangkan penurunan ekspor terbesar terjadi pada mesin-mesin dan pesawat mekanik sebesar USD 127,1 juta atau 22,42 persen.

Komoditas nonmigas lain yang mencatatkan peningkatan nilai ekspor yaitu bahan kimia organik sebesar USD 74,8 atau 32,12 persen, besi dan baja sebesar USD 51,3 juta atau 10,84 persen, kendaraan dan bagiannya USD 46,8 juta atau 7,7 persen, serta alas kaki USD 42,1 juta atau 9,85 persen.

Sementara komoditas yang mengalami penurunan selain mesin dan pesawat mekanik yaitu peralatan listrik USD 94,7 juta (12,81 persen, berbagai produk kimia USD 36,8 juta (11,06 persen), bahan bakar mineral USD 34,4 juta (1,76 persen) dan nikel USD 26,7 juta (41,04 persen).

“Jadi yang mengalami kenaikan yaitu ‎Biji kerak ekspor ke China dan Filipina; kimia organik ke China, Jepang dan India; besi baja ke China, Korea Selatan dan Taiwan. Yang turun itu mesin dan pesawat mekanik ke Jepang, Singapura dan Thailand serta mesi dan peralatan listrik ke Jepang, Singapura dan Amerika Serikat,” tandas dia.

Baca Juga : RI Mulai Penyelidikan Tindakan Pengamanan Perdagangan Produk Impor Evaporator

Defisit Neraca Dagang di Januari 2019 Capai USD 1,16 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD 1,16 miliar pada Januari 2019.

Defisit neraca dagang tersebut salah satunya disebabkan oleh turunnya ekspor Indonesia di awal tahun.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pada Januari 2019, total ekspor Indonesia sebesar USD 13,87 miliar. Angka ini turun 4,74 persen dibandingkan Januari 2018 yang sebesar USD 14,55 miliar dan Desember 2018 yang sebesar USD 14,33 miliar.

Sementara untuk impor, pada Januari 2019 tercatat sebesar USD 15,03 miliar. Angka ini juga turun 2,19 persen dibandingkan Desember 2018.

“Maka necara perdagangan pada Januari 2019 mengalami defisit sebesar USD 1,16 miliar,” ujar dia di Kantor BPS Jakarta,

Suhariyanto menyatakan, defisit neraca dagang pada Januari 2019 ini sedikit meningkat dibandingkan dengan defisit pada Desember 2018 yang sebesar USD 1,03 miliar.

“Defisit di Januari 2019 ini disebabkan oleh defisit migas sebesar USD 454 juta dan juga defisit nonmigas sebesar USD 704 juta,” kata dia.

Selain itu, menurut dia, d‎ari Desember 2018 ke Januari 2019, harga beberapa komoditas nomigas mengalami kenaikan, tapi ada juga yang menurun.

Ekspor Komoditas Merosot

Ekspor Komoditas Merosot

Daftarhargakomoditi.web.idEkspor beberapa komoditas menurun pada Januari 2019. Ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas di seluruh dunia. Biro Pusat Statistik mencatat ekspor bahan bakar mineral, yang merupakan mayoritas ekspor nonmigas, dengan penurunan bulanan 1,76 persen menjadi US $ 1,92 miliar pada Januari 2019. Secara tahunan, Ekspor bahan bakar mineral menurun 4,5 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengungkapkan penurunan ekspor bahan bakar mineral tak terlepas dari melemahnya harga batu bara yang turun 2,76 persen pada Januari 2019 dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, harga batu bara juga turun 7,76 persen. Padahal, secara volume ekspor batu bara masih meningkat sebesar 14,35 persen.

“Volume ekspor batu bara masih meningkat, tetapi karena harganya turun, nilainya menjadi turun,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya.

Kemudian, harga minyak kelapa sawit juga turun 13,59 persen dibandingkan periode yang sama. Padahal, volumenya masih meningkat 23,77 persen.

“(Turunnya ekspor CPO) Itu yang menyebabkan ekspor lemak dan minyak hewan/nabati turun 9,56 persen dibandingkan tahun lalu menjadi US$1,57 miliar,” jelasnya.

Penurunan harga juga terjadi pada komoditas karet sebesar 7,76 persen secara tahunan. Bahkan, secara volume pun turun 8,8 persen. Hal tersebut menyebabkan ekspor karet dan barang dari karet anjlok 11,05 persen menjadi US$473, 7 persen.

“Kalau harga turun pasti akan mengurangi minat petani. Kalau sudah tanam, capek, tetapi harganya tidak sepadan, dia akan ogah-ogahan,” imbuh Suhariyanto.

Suhariyanto mengungkapkan berdasarkan prediksi sejumlah lembaga, harga komoditas hingga akhir tahun ini akan cenderung menurun.

“Apalagi kalau nanti pertumbuhan negara-negara utama melambat. Bagaimanapun kalau pertumbuhan China melambat permintaan ekspor Indonesia juga akan turun,” terang dia.

Baca juga : Gerut Harga Sawit Kuartal 1 perang Dagang AS-China

Menyadari tren penurunan harga komoditas tersebut, pemerintah terus mendorong ekspor dari industri pengolahan dengan berbagai kebijakan. Pasalnya, ekspor industri lebih bernilai tambah.

“Kami sangat sadar ekspor Indonesia itu terlalu berbasis pada komoditas yang membuat daya tawar kita kurang,” tandasnya.

Melemahnya kinerja ekspor komoditas berimbas pada merosotnya ekspor non migas Januari 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 4,5 persen menjadi US$12,63miliar. Secara keseluhan kinerja ekspor Indonesia turun 4,7 persen secara tahunan menjadi US$13,87 miliar.