Harga Sayur Mahal Keuntungan Pedagang Menipis

Harga Sayur Mahal Keuntungan Pedagang Menipis

Daftarhargakomoditi.web.id – Masuk akhir pekan, harga beberapa komoditas sayuran di pasar tradisional terpantau tinggi. Hal itu membuat para pedagang hanya sedikit mengambil untung yaitu di kisaran Rp 1.000-2.000 saja. keuntungan yang didapat relatif kecil sehingga membuat para pedagang kesulitan, dan jika ingin mendapatkan keuntungan sedikit lebih besar maka kemungkinan sayur sayuran yang ia jual tidak akan laku.

Nur (59 tahun), salah seorang pedagang di Pasar Kwitang Dalam, Jakarta Pusat, mengatakan, pihak pemasok telah mematok harga tinggi untuk beberapa komoditas seperti oyong, terong dan pare.

“Seperti oyong dan terong. Dapatnya (dari pemasok) Rp 13 ribu (per kg), jualnya Rp 14 ribu (per kg). Pare juga. Dapat Rp 13 ribu (per kg), jual Rp 14 ribu (per kg). Cuman seribu perak (untungnya),” keluh Nur

Hal senada turut disuarakan oleh Toyyibah (44 tahun), pedagang sayurandi pasar yang sama. Meski bisa mendapat harga beli yang sedikit lebih rendah, ia tetap memasang harga jual pada kisaran Rp 14 ribu per kg.

“Sayuran kayak timun naik juga. Dari sana (pemasok) dapatnya Rp 12 ribu per kg, jualnya Rp 14 ribu. Terong dan pare juga sama. Dapat Rp 12 ribu per kg, jual Rp 14 ribu,” jelas dia.

Baca Juga : Perdagangan Sepi Harga Emas Turun Tipis

Harga Bawang Terkendali

Di sisi lain, lonjakan harga tak diikuti oleh komoditas bawang yang masih terkendali. Nur menyampaikan, harga bawang merah dan bawang putih kini masih terhitung murah.

“Kalau bawang murah. Bawang merah dari sononya (pemasok) dapat Rp 30 ribu (per kg), dijual Rp 32 ribu (per kg). Kalau bawang putih (bulat) jualnya Rp 35 ribu (per kg), yang cutting Rp 40 ribu (per kg),” paparnya.

Sementara Toyyibah menuturkan, harga bawang merah dan bawang putih yang diperdagangkannya masih standar, yakni pada kisaran Rp 30-40 ribu per kg.

“Untuk bawang merah dapatnya Rp 25 ribu per kg, jualnya Rp 30 ribu. Turun sih enggak, standar aja. Kalau bawang putih bulat dapat Rp 25 ribu per kg jual Rp 30 ribu. Cutting dapatnya Rp 35 ribu per kg, jual Rp 40 ribu,” tuturnya.

Cara Pemkab Antisipasi Harga Cabai

Cara Pemkab Antisipasi Harga Cabai

Daftarhargakomoditi.web.id – Pemkab memiliki cara yang berbeda dengan mengatasi harga cabai ini. Cara ini terkesan unik namun tidak semua berfikit seperti berikut ini. Penasaran bagaimana cara Pemkab mengatasi harga capai di bawah ini ulasannya dari daftarhargakomoditi.web.id.

Dua tahun lalu, harga cabai meroket. Alasannya adalah kekurangan barang. Cabe merah, misalnya, sudah menembus harga Rp. 140 ribu per kilogram. Bahkan dengan cabai merah keriting dan cabai hijau, yang meningkat berkali-kali mencapai kisaran harga Rp. 60 ribu – Rp. 75 ribu per kilogram.

Tingginya harga itu tak lantas membuat petani sejahtera. Hanya segelintir petani yang bisa menikmati harga tinggi ini. Sebagian besar lainnya, justru dirundung sengsara lantaran panenan tak optimal hingga gagal panen. Saat itu, cuaca buruk menyebabkan tanaman cabai petani di berbagai daerah rusak.

Hukum pasar menyebut, harga berbanding terbalik dengan jumlah pasokan. Saat pasokan berlimpah, harga cabai akan turun.

Ini lah yang terjadi saat ini. Panen raya di berbagai daerah menyebabkan harga cabai anjlok. Salah satunya di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Karenanya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara menggelar bazar cabai, mulai Jumat, 25 Januari 2019. Sebanyak 500 kwintal cabai dari petani dipasarkan langsung di kompleks perkantoran Dinperindagkop Kabupaten Banjarnegara, Semampir.

Staf Bagian Kesra Setda Banjarnegara, Anhar mengatakan bazar ini sebenarnya adalah pemantik agar masyarakat, utamanya aparatur sipil negara (ASN) peduli dengan petani.

Wujud kepedulian itu adalah dengan membeli cabai langsung kepada petani, bukan pada tengkulak atau pedagang pasar. Pasalnya, rantai distribusi nan panjang membuat harga cabai di tingkat petani murah.

Baca juga : Hercules Bantu Sebar Cabai Ke Pulau Seberang

Bagaimana Kentang Dieng?

Sementara, petani membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk membudidayakan cabai. Jika harga sampai jatuh pada masa panen raya Februari mendatang, petani bisa gulung tikar.

“Ini sudah per hari ini, bazar perdana dijual lima kwintal lombok, di kompleks perkantoran Banjarnegara di Sumampir,” kata Anhar, Jumat 25 Januari 2019.

Anhar mengemukakan, harga cabai rawit dan keriting merah di Banjarnegara hanya Rp 8.000 per kilogram di tingkat petani, atau turun Rp 2.000 per kilogram dari harga biasanya yang mencapai Rp 10 ribu per kilogram.

Di Bazar Cabai Banjarnegara, cabai merah dan rawit dijual dengan harga Rp 15 ribu per kilogram. Adapun harga cabai hijau dijual dengan harga Rp 12 ribu. Dia mengklaim, harga ini sama dengan harga eceran di pasaran.

Cabai itu langsung dikirimkan oleh petani yang bekerjasama dengan Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi dan Dinas Pertanian Banjarnegara.

“Ya, dijualnya Rp 15 ribu langsung. Biasanya kan ini dibeli dari petani Rp 8.000 per kilogram. Yang hijau itu Rp 12 ribu per kilogram,” dia menambahkan.

Saat ini harga cabai di Banjarnegara memang tak jatuh total. Akan tetapi, jika penyerapan hasil panenan tak maksimal, dikhawatirkan akan turun drastis. Petani Banjarnegara, pernah menderita lantaran harga cabai jatuh ke Rp 4.000 per kilogram.

Selain cabai, Pemkab Banjarnegara juga tengah mengkaji untuk membeli kentang Dieng yang kini harganya juga turun akibat panen raya yang tak diimbangi dengan serapan maksimal.

Tak tertutup kemungkinan, beberapa hari ke depan, kentang Dieng juga menjadi komoditas yang masuk dalam bazar hasil pertanian. Kentang Dieng kini hanya Rp 7.500 per kilogram di tingkat petani.

Hercules Bantu Sebar Cabai Ke Pulau Seberang

Hercules Bantu Sebar Cabai Ke Pulau Seberang

Daftarhargakomoditi.web.id – Hercules grup dari TNI ini sampai membantu masyarakat untuk menyebar cabai ke pulau seberang karena harga cabai kita di dalam negeri sudah sangat anjlok turun. Ini adalah cara arternatif TNI agar dapat  keluarga petani. Berikut ulasan di bawah ini yang membahas superhero dari TNI kita.

Tampaknya tidak perlu memahami secara detail teori ekonomi klasik Adam Smith untuk mengetahui hukum ketika pasokan barang melimpah, maka harga suatu produk akan turun. Bahkan dengan petani cabai di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Sejak Januari lalu, harga cabai terus menukik turun. Petani pun menjerit. Semula, harga cabai turun menjadi Rp 7.000 per kilogram.

Akibatnya, sebagian petani menahan diri untuk tak segera memanen cabai yang masih menggantung di pohon. Namun, bukannya membaik, harga cabai justru semakin jatuh ke harga Rp 4.000 per kilogram pada Februari 2019 ini.

Nestapa petani tak berhenti di situ. Di tengah harga yang jatuh, satu per satu tanaman cabai membusuk dan mati. Serangan bakteri menyebabkan petani semakin merana.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara sebenarnya juga tak tinggal diam dengan kondisi ini. Akhir Januari lalu, Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan Industri dan UMKM menggelar bazar cabai.

Cabai dari petani itu langsung dijual dengan harga eceran, sebesar Rp 15 ribu per kilogram. Harapannya, bazar cabai ini memicu kepedulian masyarakat, utamanya ASN, untuk turut membantu petani dengan cara membeli hasil panen dengan harga normal.

Tampaknya, upaya itu tak begitu efektif. Lepas bazar cabai, harga cabai tetap turun hingga akhirnya hanya dihargai Rp 4.000 per kilogram.

“Kita kembali menggelar bazar, pasar tani, tidak hanya cabai,” ucap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara, Totok Setya Winarno.

Baca juga : Semua Harga Naik Di Pasar Kelapa Gading

Upaya lainnya, Dinas Pertanian Banjarnegara dan sejumlah wilayah lain berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi jatuhnya harga cabai dan beragam komoditas hortikultura. Kesimpulannya, harga jatuh lantaran terjadi penumpukan satu komoditas di tempat tertentu.

Sementara, di wilayah berbeda, luar Jawa misalnya, harga cabai dan berbagai komoditas masih terhitung stabil. Karenanya, dibutuhkan distribusi yang cepat agar hasil pertanian lebih cepat sampai ke daerah lain.

Salah satu opsi agar harga sebuah komoditas tak jatuh adalah adalah dengan mengirim hasil pertanian ke luar pulau. Masalahnya, untuk mengirim hasil panenan secara cepat dibutuhkan alat angkut pesawat yang memerlukan biaya tinggi.

Sebab itu, Kementerian Pertanian meminta Penglima TNI untuk mengerahkan pesawat Hercules untuk diperbantukan mendistribusikan cabai dan berbagai komoditas pertanian ke luar pulau. Hal itu dilakukan untuk menanggulangi jatuhnya harga berbagai komoditas pertanian pada masa panen raya ini.

“Responnya bagus. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama,” dia mengungkapkan.

Totok mengatakan, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian telah berkirim surat ke Panglima TNI usai berkoordinasi dengan dinas pertanian kabupaten di Jakarta. Harapannya, pesawat hercules bisa mendistribusikan komoditas pertanian secara cepat ke daerah yang membutuhkan.

“Yang intinya, kita di Jakarta itu mencari solusi. Di mana, memang, transportasi udara itu kan mahal. Maka, kemarin itu Pak Dirjen langsung membuat surat permohonan kepada Panglima TNI, untuk mengerahkan hercules,” ucapnya.

Totok menerangkan, panen serentak di berbagai daerah dan sistem distribusi hasil pertanian yang belum bisa diandalkan untuk menjangkau luar pulau menjadi pangkal anjloknya harga komoditas pertanian.

“Biar nanti, distribusi ke luar pulau bisa lancar,” dia menambahkan.

Dalam jangka panjang, dinas pertanian di wilayah mendorong petani melakukan pengolahan pascapanen. Produk dijual bukan dalam bentuk segar, melainkan sudah menjadi olahan siap saji.

“Daya simpannya lebih panjang,” dia menerangkan.

Di Kelapa Gading Harga Bawang Putih Naik

Di Kelapa Gading Harga Bawang Putih Naik

Daftarhargakomoditi.web.id – Berikut adalah ulasan mengenai harga bawang putih yang sangat melonjak naik di pasar kelapa gading padahal bawang putih termaksut bahan pokok yang paling sering di gunakan saat memasak-masakan di rumah. Berikut ulasan mengenei kenaikan harga bawang putih.

Pada minggu ketiga Maret, harga sayuran di pasar Kelapa Gading cenderung stabil, meskipun beberapa produk seperti bawang putih telah meningkat. Potong bawang putih dengan harga Rp 42 ribu per kilogram (Kg) kini meningkat menjadi Rp 44 ribu per kilogram. Tomato lain jatuh dari harga asal Rp 12 ribu per kilogram hingga Rp 10 ribu per kilogram.

Beberapa pedagang pasar yang menjual sayuran mengaku tidak khawatir dengan harga sayuran yang cenderung tidak stabil. Apalagi selama sepekan ini kenaikan dan penurunan tidak terlalu signifikan. Roni (44) misalnya, yang sayurnya selalu habis setiap hari.

“Naik atau turun harga biasa kalau sayuran, untungnya sepekan ini nggak terlalu jauh naik atau turunnya. Pembeli tetap berdatangan setiap hari,” ujar dia saat berbincang dengan.

Komoditas lainnya pun cenderung berada di angka yang sama. Komoditas cabai berada di angka Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu mulai dari cabai merah keriting di harga Rp 25 ribu per kilogram, cabai merah besar Rp 30 ribu per kilogram, cabai rawit hijau Rp 20 ribu per kilogram dan cabai rawit merah Rp 35 ribu per kilogram. Sementara bawang merah stabil di angka Rp 30 per kilogram.

Agus (30), pedagang sayur lainnya mengungkapkan, harga sayuran di pasar Kelapa Gading memang cenderung stabil beberapa hari ke belakang.

“Enggak ada perubahan. Omzet juga stabil. Cuma kalau bawang sama tomat itu memang enggak bisa diprediksi, sekarang saja bawang putih naik,. Paling kalau sayur ya, bawang dan tomat yang berubah-ubah,” pungkas Agus.

Baca juga : Tetap Stabil Harga Sayur Di Pasar Tradisional

Harga Daging Ayam dan Telur Stabil di Pasar Kwitang Dalam

Sebelumnya, memasuki akhir pekan pada pertengahan Maret, harga daging ayamdan telur di Pasar Kwitang Dalam, Jakarta Pusat, terpantau normal.

Lie (62 tahun), seorang pedagang ayam di Pasar Kwitang Dalam menuturkan, harga daging ayam dalam waktu dekat ini belum berubah.

“Lagi biasa saja. Ayam fillet sekarang sama (harganya) Rp 50 ribu per kg. Ayam potong bagian paha juga, Rp 40 ribu per kg,” ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jumat 15 Maret 2019.

Begitu pula dengan bagian tubuh ayam lain yang biasa dikonsumsi, lanjut Lie, secara harga masih standar. Seperti bagian ceker yang dijualnya Rp 25 ribu per kg, dan kepala ayam Rp 12 ribu per kg.

Lalu produk kulit ayam yang ditawarkannya Rp 25 ribu per kg, serta sepasang ati ampela Rp 2.500. “Semua normal,” ungkap Lie.

Normalitas harga ini juga dialami produk telur ayam dalam negeri. Choir (26 tahun) mengatakan, harga jual telur ayam dalam negeri kini cenderung standar setelah sebelumnya sempat meninggi.

“Telur ayam (dalam negeri) normal, Rp 23 ribu (per kg). Kalau kemarin kan sempat naik antara Rp 29-30 ribu. Kalau sekarang sudah normal,” ucap dia.

Namun demikian, hal itu tidak diikuti telur ayam kampung yang secara harga justru melambung. Choir menjual telur ayam kampung jenis biasa Rp 2.500 per butir, sedangkan yang jenis omega ditawarkannya Rp 2.700.

“Naiknya? Sudah 3 mingguan. Normalnya yang biasa Rp 2.200 (per butir), yang omega Rp 2.500 (per butir),” sebut dia.

Harga telur bebek juga naik dari Rp 2.500 per butir menjadi Rp 3 ribu per butir. Serta telur puyuh, yang meningkat dari harga normal Rp 35 ribu per kg menjadi Rp 40 ribu per kg.