pasar perang

Pasar Tempo Dulu Bernuansa Trending

Daftarhargakomoditi.web.id -Perasaan kuno dan autentik terasa ketika saya menjejakkan kaki di pasar Pereng Kali, di desa Grenggeng, di distrik Karanganyar, di Kebumen, di Jawa Tengah. Pencetakan lapangan juga sangat kuat karena pasar sebelumnya berada di bawah naungan sekelompok bambu, juga dikenal sebagai papringan.

Saat memasuki pasar ini, waktu sepertinya kembali ke kerajaan itu, ratusan tahun yang lalu. Di pasar masa lalu, uang tidak digunakan. Pedagang hanya menerima pembelian dengan nilai tukar kepeng.

Kepeng itu bisa didapat dengan menukarkan sejumlah rupiah. Tiap kepeng dihargai Rp 2.000. Dengan mata kepeng, segala jajanan tradisional bisa didapat, mulai dari gendol, sawud, jongkong, golak, cetil, lotek, rujak, hingga getuk. Nuansa tempo dulu juga semakin kuat dengan keberadaan pedagang yang menjual beragam kerajinan tangan khas Grenggeng, Kebumen, yakni hasil anyaman pandan seperti topi dan kerajinan anyaman lainnya. Layaknya pasar, suguhan dolanan bocah juga ada di pasar ini. Bedanya, seluruhnya adalah permainan tradisional, yang kini mungkin sudah nyaris musnah. Ada congklak, egrang bambu, dan beberapa permainan tradisional lainnya.

Pengembangan pasar pereng kali dilandasi keinginan untuk melestarikan tradisi masyarakat baik berupa makanan, permainan hingga suasana pasar tempo dulu. Selain itu, masyarakat juga ingin memanfaatkan potensi Kali Kemit. Untuk mewadahi tren yang kekinian, pasar pereng kali juga menyediakan spot swafoto. Spot swafotonya pun dibuat tanpa kehilangan nuansa tradisional dan alami. Mengusung tema etnik perkampungan Jawa tempo dulu, pasar yang terletak dibawah Papringan atau di bawah rimbunan pohon bambu ini buka 35 hari sekali, setiap hari Minggu Legi pada penanggalan Jawa.

Daya tarik pasar pereng kalui rupanya juga melintas generasi. Buktinya, Kapolres Kebumen AKBP Robert Pardede bersama dengan Waka Polres Kebumen Kompol Prayuda Widiatmoko pun kepincut dengan nuansa pedesaan yang ditawarkan pasar ini. Ia mengapresiasi pemuda setempat yang telah mengubah papringan menjadi tempat wisata tanpa balutan kata modern. Menurutnya, nuansa tradisional dan kuno itu justru lebih menarik.

“Semoga ini bisa menjadi contoh pemuda lainnya di Kebumen. Karena trobosan kaum Millennial, pekarangan kosong bisa disulap menjadi tempat menarik, bahkan bisa untuk menaikkan ekonomi warga setempat,” ucap Kapolres.

Baca juga : Pasar Tradisonal Paling Ekstrim

Kapolres pun mengajak warga masyarakat untuk berkunjung ke pasar pereng kali meramaikan pasar tersebut. Selain jajanan tradisional, pasar itu juga menjajakan pernak pernik menarik dari bahan tradisional yang sangat menarik untuk dimiliki sebagai buah tangan.

oke sayur

Beli Sayur Dengan Aplikasi ?

Daftarhargakomoditi.web.id – Aplikasi ini terhubung dengan puluhan pedagang dari pasar Kranggan dan Klaten. Mereka menyediakan sekitar 150 produk yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, makanan laut, daging, bahan masakan, dan produk organik.

Sekelompok mahasiswa UGM menciptakan sebuah aplikasi yang memudahkan orang untuk berbelanja di pasar tradisional. Aplikasi yang diberi nama OkeSayur itu bisa digunakan warga Yogyakarta dan Klaten untuk mendapatkan buah dan sayuran segar langsung dari pedagang pasar.

“Aplikasi ini tidak hanya memudahkan orang berbelanja tetapi juga ikut melestarikan pasar tradisional,” ujar Nindi Kusuma Ningrum, Co-Founder OkeSayur.

Lewat aplikasi, konsumen bisa memasukkan pesanan yang diinginkan. Pemesanan produk bisa dilakukan sebelum pukul 08.00 WIB setiap hari atau bisa juga satu hari sebelumnya.

Jika pesanan datang setelah pukul 08.00 WIB, maka produk akan dikirim satu hari setelahnya. Pembayaran bisa dilakukan via transfer bank atau langsung saat pengantaran barang belanjaan.

Baca juga : Menjelang Pemilu Harga bawang Naik

Bagi masyarakat yang menginginkan belanja di OkeSayur bisa mengunduh aplikasi ini di playstore. Selain itu, pengunjung juga bisa website okesayur.com dan chatting via WhatsApp.

“Layanan belanja di pasar tradisional pakai aplikasi ini sudah bisa dijangkau di Sleman, Bantul, serta Kulonprogo,” ucap Nindi.

Aplikasi OkeSayur sudah diunduh lebih dari 1.000 orang. Meskipun demikian, rata-rata transaksi per hari baru berkisar lima orang.

Menurut Nindi, aplikasi ini tergolong baru dan belum dikenal banyak orang. Kebanyakan konsumen justru dari Klaten karena pertama kali mereka beroperasi di daerah itu.

OkeSayur yang dikembangkan Nindi bersama dengan Fadlan Hawali, Alvin Novandi, Silvia, Muhammad Fuad Husein, Donatus Yoga, serta Losyiana Luh Jingga, mulai beroperasi pada November 2017. Tiga bulan pertama, mereka mengadakan uji coba pasar.

Setelah dilakukan pembenahan, aplikasi ini beroperasi lagi mulai Agustus 2018 sampai sekarang. Keterbatasan literasi digital pedagang pasar, membuat Nindi memperkerjakan tiga orang kurir sebagai penghubung pedagang pasar dengan konsumen.

“Kurir atau shopper itu yang berbelanja di pasar,” tuturnya. Namun, untuk pedagang pasar yang sudah melek digital, pemesanan langsung dihubungkan dengan pedagang yang bersangkutan dan kurir hanya mengambil barang pesanan saja.

Nindi berencana memperluas jangkauan layanan pelanggan, tidak hanya di wilayah Yogyakarta dan Klaten saja, melainkan juga menjangkau pasar lokal di daerah-daerah pinggiran.

“Harapannya, OkeSayur bisa memberi manfaat bagi petani juga dengan langsung menghubungkan hasil pertanian ke konsumen tanpa melalui tengkulak,” tutur Nindi.