Indonesia Impor Gula Nusantara Kurang Manis

Indonesia Impor Gula Nusantara Kurang Manis

daftarhargakomoditi.web.id Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Indonesia Impor Gula Nusantara . Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Indonesia Impor Gula 

Harga gula pasir konsumsi atau gula kristal putih (GKP) masih terus melambung. Untuk menormalisasikan harga, Perum Bulog mengusulkan buka keran impor.Per kemarin harga gula berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) mencapai Rp 14.600 per kilogram (kg). Lalu, berdasarkan data Info Pangan Jakarta, harga gula per hari ini Rp 13.680/kg.Sementara, harga acuan gula di tingkat konsumen yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 7 tahun 2020 yakni Rp 12.500/kg.Untuk mengantisipasi harga semakin melonjak, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi mengusulkan agar pemerintah segera mengimpor GKP.

“Banyak pihak yang minta kalau Bulog harus punya stok (gula). Kita sampaikan itu ke rapat koordinasi (rakor) bahwa kami butuh untuk stabilisasi harga,” ungkap Tri di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Rabu (19/2/2020).Usulan itu dilontarkan, mengingat panen tebu untuk kebutuhan produksi gula dalam negeri akan jatuh setelah Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan, di bulan Ramadan dan Idul Fitri dapat dipastikan kebutuhan gula konsumsi akan melonjak drastis.

“Ya panen kan setelah lebaran, panen tebu. Jadi kami mengusulkan untuk mendapat penugasan importasi gula,” kata Tri.Ia mengusulkan agar volume GKP yang diimpor sekitar 200.000 ton. Namun, ia belum mengetahui negara asal impornya dari mana karena usulan ini belum disetujui oleh pemerintah.”Tergantung, kita kita suplai dari mana,” ujar Tri.Lalu apakah Kementerian Perdagangan setuju? Menanggapi hal itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mentatakan, pemerintah tidak main-main soal membuka keran impor. Usulan itu akan dibahas terlebih dahulu dengan pemangku kepentingan lain melalui rapat koordinasi terbatas (rakortas).”Semua itu kan berdasarkan rakortas, jadi sesuai rakortas ya kita keluarkan. Tidak serta merta kita main keluarkan. Karena harus ada koordinasi dengan kementerian lain,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Agus menekankan, keputusan impor ditentukan melalui rakortas agar ada pertimbangan. Dengan begitu keputusan impor GKP bisa tepat sasaran.Dia khawatir jika terlalu mudah membuka keran impor akan merusak harga. Lalu yang akan dirugikan petani gula dalam negeri.”Jangan sampai merusak petani kita, harganya jangan terlalu murah tidak boleh, terlalu mahal ya apa lagi terlalu mahal,” tuturnya.Untuk mengantisipasi kenaikan harga gula konsumsi yang terus melambung, pemerintah sudah mulai mengeluarkan stok untuk melakukan operasi pasar.

Perum Bulog sudah mengusulkan agar pemerintah melakukan impor gula kristal putih (GKP) sebanyak 200.000 ton sejak 17 Februari. Hal itu diusulkan melihat harga gula konsumsi sudah merangkak naik sejak awal 2020.Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga gula mencapai Rp 14.750 per kilogram (kg). Lalu, berdasarkan Info Pangan Jakarta, harga gula hari ini mencapai Rp 14.244/kg. Sementara, harga acuan gula di tingkat konsumen yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 7 tahun 2020 yakni Rp 12.500/kg.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan, hingga saat ini pemerintah belum juga memberikan keputusan importasi gula itu. Dia mengatakan izin dipegang oleh Menteri Perdagangan.”Sampai saat ini belum ada keputusan. Itu yang menentukan kan Menteri Perdagangan (Mendag). Ya sudah nggak perlu ditanyakan keputusannya. Itu kan tidak ada keputusannya,” ungkap Buwas ketika sidak Gudang Bulog di Jakarta Utara, Kamis (27/2/2020).Ia mengungkapkan, saat ini pasokan gula sudah terhenti hingga membuat harga melonjak.”Supply-nya terhenti, terhenti itu kan dari sebab-akibat, karena kekurangan. Termasuk tidak adanya tambahan impor, kan harusnya kita hitung memang kebutuhan. Impor tidak berdasarkan kuota, tapi kebutuhan. Harusnya kan begitu,” ucap mantan Kepala BNN tersebut.

Baca Juga : Bu Susi Kontrol Ekspor Lobster

Menurutnya, dengan menugaskan impor pada Bulog, stabilisasi harga dapat dilakukan dengan efektif. Pasalnya, Bulog diawasi langsung oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).”Bulog ini kan tidak impor secara umum. Kita impornya diawasi. Diaudit oleh BPK. Bukan seperti swasta, karena kita penugasan. Berarti harganya sudah dipatok sekian, jualnya sekian, kualitasnya harus sekian. Itu, jadi beda. Maka Bulog tidak bisa disamakan dengan swasta. Kalau swasta begitu dapat perintah impor ya impor, ya suka-suka dia saja,” terangnya.Buwas juga menyinggung soal penugasan impor gula yang hanya diberikan pada pelaku industri yang tak pernah menyerap hasil tebu dalam negeri. Ia mengeluhkan hal itu.”Sekarang kan justru yang paling banyak mendapatkan kuota gula justru pabrik-pabrik rafinasi yang tidak menyerap tebu-tebu rakyat, masyarakat petani tebu. Tapi orang pabrik yang mengolah rafinasi jadi gula, ya sudah itu yang ada sekarang. Maka kita banyak impor dan membuat petani-petani yang sekarang kesulitan penerapan tebunya,” pungkasnya.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan impor untuk komoditas gula pasir konsumsi atau gula kristal putih (GKP). Hal ini dilakukan mengingat harga komoditas pangan ini belakangan terus naik signifikan.Per hari ini, Kamis (27/2/2020) harga gula berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) telah mencapai Rp 14.500 per kilogram (kg). Padahal, harga acuan gula di tingkat konsumen yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 7 tahun 2020 yakni hanya sebesar Rp 12.500/kg.Mengatasi hal tersebut, Kementan memutuskan untuk kembali membuka keran impor. Rencananya realisasi pemenuhan gula impor mulai masuk per Mei 2020 mendatang.

“Mei (2020) nanti,” ujar Agung ditemui di Menara Kadin Indonesia, Kamis (27/2/2020).Kementan mengusulkan agar volume GKP yang diimpor sekitar 130.000 ton. Untuk negara impornya, Kementan memilih India sebab dianggap paling strategis untuk melancarkan ekspor produk kelapa sawit Indonesia yang sempat menurun akibat Corona.”Kita sudah mengajukan kebutuhan impor baru sebesar 130.000 ton tapi ini dari India jadi kita barter dengan mereka, karena kalau gak gitu (sawit) kita nggak bisa masuk ke sana,” tambahnya.Meski demikian usulan itu belum final dan perlu dibahas terlebih dahulu dengan pemangku kepentingan lain melalui rapat koordinasi terbatas (rakortas).”Keputusannya kita baru usulkan, belum ketok palu, ketok palu di Rakortas,” pungkasnya.