Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor

Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor

daftarhargakomoditi.web.id Virus corona yang akhir akhir ini menyebar memang sangat meresahkan salah satu pihak yang terkena imbasnya adalah pengusaha overseas.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor.Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor

Dampak penyebaran virus corona menjadi pemicu utama terguncangnya kinerja perdagangan ekspor. Kinerja ekspor Indonesia diprediksi belum membaik pada tahun ini.Indikasi tersebut, kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri, bisa dilihat dari penurunan kinerja ekspor beberapa negara selama Januari. Kinerja ekspor Vietnam, Korea Selatan, Jepang, Pakistan, hingga Cile anjlok selama bulan lalu.“Jadi, ada sekitar lima hingga enam negara yang sudah merilis data (perdagangan) Januari itu umumnya ekspor-impornya turun. Yang terbesar Brasil turun sampai dua digit,” ujar dia, Selasa 11 Februari 2020.

Menurut Kasan, penyebaran virus corona di Wuhan telah memukul aktivitas ekonomi Cina. Beberapa aktivitas perdagangan di negeri itu juga berhenti. Salah satu negara yang sudah merilis data penurunan kinerja perdagangan adalah Korea Selatan. “Kami membayangkan ini pasti berdampak pada Indonesia,” kata dia.Kasan mengatakan, berdasarkan data Bank Dunia, setiap penurunan 1 persen produk domestik bruto (PDB) Cina berdampak sekitar 0,3 persen terhadap Indonesia. Adapun PDB Cina diproyeksikan turun hingga 2 persen. “Jadi, kalau World Bank memprediksikan penurunan 0,3 persen, kami lebih konservatif, yaitu 0,23 persen. Kalau target pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,3 persen, dikurangi 0,6 persen maka bisa turun menjadi 4,7 persen,” ujar dia.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Dody Edward, mengatakan produk manufaktur dalam negeri berpotensi menopang kinerja ekspor. Produk manufaktur yang berpotensi berkontribusi bagi ekspor, seperti produk otomotif, furnitur, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, kimia, hingga kertas, akan terus didorong.Indonesia, kata dia, juga terus mendorong implementasi sejumlah perjanjian dagang yang telah disepakati Indonesia dengan negara mitra. Untuk itu, pemerintah berharap sektor swasta atau dunia usaha bisa lebih aktif untuk melakukan misi dagang atau trade mission per sektor secara komprehensif dan detail.

Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan (Himki), Abdul Sobur, mengatakan industri furnitur dan kerajinan berpotensi menopang ekspor nasional. Pasalnya, kandungan bahan impor terhadap sektor tersebut relatif kecil. Menurut dia, mayoritas produk jadi mebel dan kerajinan berbasis bahan lokal, seperti kayu, rotan dan bambu, dan sedikit logam dan plastik.Selain itu, pasar ekspor furnitur dan kerajinan adalah Eropa dan Amerika Serikat (AS). Pasar AS menjadi tujuan utama dengan nilai US$ 700–800 juta per taun. Sobur mengatakan nilai tersebut memiliki porsi yang sangat besar bagi nilai ekspor nasional. “Dampak perang dagang Amerika-Cina dan wabah virus corona membuka peluang besar masuk ke pasar Amerika,” ujar dia.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, meski arus ekspor TPT ke Cina terhambat akibat virus corona, pada saat bersamaan hal ini mendorong permintaan domestik yang selama ini diisi produk impor dari Cina. Menurut Redma, sekitar 30 persen dari 60 persen produk Cina di Tanah Air bisa diisi produk dalam negeri.Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, pemerintah mau tidak mau harus terus menstimulasi investasi di sektor manufaktur atau industri pengolahan yang berorientasi ekspor. Artinya, penciptaan iklim usaha yang efisien dan produktif menjadi penting. Selain itu, diperlukan adanya efisiensi rantai pasok atau supply chain produksi.

“Termasuk ketentuan dan prosedur supply chain impor dan ekspor harus dibenahi dan disimplifikasi sehingga hambatannya minim dan menjadi lebih efisien untuk memproduksi produk ekspor di Indonesia,” ujar Shinta.Pangsa pasar ekspor Indonesia ke Cina dipastikan bakal porak-poranda setelah negeri itu dihantam wabah virus corona. Karena itu, pemerintah diminta mengejar pertumbuhan ekonomi dengan menggenjot konsumsi domestik.Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengatakan, memacu konsumsi domestik adalah satu-satunya cara Indonesia untuk dapat menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5 persen. “Saya kira pemerintah harus mempercepat belanja sosial pada triwulan I/2020 agar masyarakat memiliki tambahan pendapatan untuk konsumsi Puasa dan Lebaran. Jika salah langkah, pertumbuhan ekonomi bisa drop di bawah 5 persen,” kata Lana ketika dihubungi Bisnis, Selasa 11 Februari 2020.

Sebelumnya, Lana telah melihat adanya sinyal perlambatan konsumsi rumah tangga pada akhir 2019. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), capaian konsumsi rumah tangga Indonesia pada triwulan IV/2019 hanya tumbuh 4,97 persen. Realisasi tersebut mengalami penurunan dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 5,08 persen (yoy). Padahal, struktur produk domestik bruto (PDB) menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku pada 2019 tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Menurut Lana, perekonomian Indonesia masih didominasi komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 56,62 persen; komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 32,33 persen; komponen ekspor barang dan jasa 18,41 persen; komponen konsumsi pemerintah 8,75 persen; komponen perubahan inventori besar 1,43 persen; komponen lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) 1,3 persen.Wabah virus corona di Cina sendiri, tutur Lana, berpotensi menekan kinerja ekspor dan impor pada tahun ini. Pasalnya, Cina merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia di samping Amerika Serikat dan Singapura.”Kalau belanja sosial bisa dicairkan di triwulan I dan II/2020 saya memprediksi pertumbuhan dapat terjaga di level 5 persen. Saya khawatir apabila pemerintah tidak dapat memacu ekonomi di semester I/2020 akan membuat capaian di bawah 5 persen hingga akhir tahun,” Lana menambahkan.Sebelumnya, Direktur Pelaksana Bank Dunia Mari Elka Pangestu memproyeksi virus corona berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai kurang dari 5 persen. Padahal, berdasarkan APBN 2020, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen.

Baca Juga : Euro4 Bisa Tingkatkan Ekspor Kendaraan

Setiap perlambatan ekonomi Cina sebesar 100 basis poin (bps), Indonesia akan terdampak sebesar 30 bps. Menurut Mari, para ekonom dunia telah memproyeksikan bahwa virus corona akan membuat pertumbuhan ekonomi Cina melambat 100 bps hingga 300 bps.Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 tertekan menjadi 4,9 persen. Penyebabnya, wabah virus corona di beberapa negara.

“Kemarin kan BPS merilis pertumbuhan 2019 kita 5,02 persen. Jika di 2020 ada beberapa kejadian termasuk corona ini, paling tidak bisa terkoreksi 0,1 persen sampai 4,9 persen,” kata Faisal dalam Outlook Ekonomi dan Perdagangan 2020 di Gedung Kemendag, Jakarta, Selasa 11 Februari 2020.Faisal mengatakan penyebaran virus corona ini paling besar di Provinsi Hubei, Cina. Padahal, kata dia, wilayah tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi terbesar di Cina pada 2019: 7,3 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan secara nasional di Negeri Tirai Bambu yaitu 6 persen.

“Ini pasti sangat berdampak besar terhadap perekonomian Cina dan juga beberapa daerah yang lain,” kata dia.Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perlambatan ekonomi adalah menurunnya investasi dari luar negeri. Adapun Cina menjadi negara kedua dengan investasi asing terbesar di Indonesia setelah Jepang.”FDI (foreign domestic investment) juga terganggu dan biaya penanggulangan untuk menghentikan wabah itu terutama di beberapa industri yang terdampak. Tiongkok sekarang secara GDP nomer 2 di dunia setelah amerika dan tingkat keterkaitan dengan negara lain lebih besar. Pengaruhnya terhadap ekonomi Tiongkok luar biasa,” tutur Faisal.