Efek Virus Corona, Harga Bawang Putih Meroket hingga Rp 60 Ribu per Kg

Komoditas bawang putih mengalami kenaikan harga berangsur-angsur beberapa hari belakangan dari harga awal yang hanya Rp 30 ribu per kg.

Pedagang sayuran di Pasar Kelapa Gading, Cici, mengeluhkan harga bawang putih yang telah mencapai Rp 60 ribu per kg hari ini.

“Saya jualnya Rp 60 ribu per kg. Habis dari sananya juga sudah Rp 50 ribu-an lebih,” ujar Cici kepada Liputan6.com, Jumat (07/02/2020).

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan naiknya harga bawang putih ini, namun pedagang menduga adanya virus Corona menyebabkan pasokan menipis karena impor dari China terhambat.

Pedagang lainnya, Gugus, mengungkapkan hal yang senada. Dirinya menjual bawang putih seharga Rp 55 ribu per kg, itupun dengan keuntungan yang tipis.

“Iya tetap lah di jual segitu meskipun dapatnya sedikit. Habis mau gimana, naiknya drastis,” ungkap Gugus kepada Liputan6.com.

Sementara, harga komoditas lain seperti bawang merah, tomat dan lainnya mengalami peningkatan meskipun tak signifikan.

Harga bawang merah naik dari Rp 25 ribu per kg menjadi Rp 30 ribu per kg, tomat stagnan di angka Rp 13 ribu per kg, cabe merah keriting fluktuatif di angka Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu per kg.

Kemudian, cabe merah besar Rp 85 ribu per kg, cabe rawit merah Rp 85 ribu per kg dan cabe rawit hijau Rp 45 ribu per kg.

Impor dari China Disetop, Harga Bawang Putih Meroket

Pemerintah telah melakukan penghentian impor beberapa jenis bawang putih tentu dari China. Hal ini terkait wabah Coronavirus yang tengah menjangkiti China. Walhasil, hal ini turut mempengaruhi naiknya harga bahan pangan. Salah satunya bawang putih.

Warsih, pedagang bawang putih, mengaku harga bawang putih naik sejak maraknya pemberitaan wabah Coronavirus.

“Bawang naik, mungkin kemarin ramai masalah penyakit Corona,” ujarnya di Pasar Gondangdia, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Dia memperkirakan lonjakan harga bawang putih mencapai sekitar dua kali lipat lebih.

https://www.jocker123.org/ trik memencilkan bandar ecek-ecek adalah lihatlah persyaratan nama lain aturan daftar joker188. Apabila syarat-syaratnya tersedia yang minta pemain bagi membayar upah pendaftaran kecuali untuk setoran deposit dahulu sebaiknya jangan dipercaya. Akar setoran awal atau ketika pendaftaran tersebut bisa dimanfaatkan oleh pemilik modal judi ecek-ecek untuk jadi keuntungan raksasa.

“Sekarang bisa sampai Rp 60 ribu lebih, kalau sebelumnya cuma Rp 25 ribu-Rp 30 ribu saja,” terang Warsih.

Diakui Warsih, kini bawang putih sepi pembeli akibat dari lonjakan harga yang tinggi.

Warsih berharap pemerintah bisa mengatasi hal ini agar masyarakat bisa membeli bawang putih dengan harga yang terjangkau.

Pedagang Lain

Nasib yang sama juga dialami Pur, seorang penjual bawang putih yang lokasinya tak jauh dengan Warsih. Ia mengeluhkan tingginya kenaikan harga bawang putih.

“Sekarang yang paling kelihatan pedagang bawang putih, sampai seratus persen lebih,” paparnya.

Ditemui di tempat yang sama, Lastri, seorang ibu rumah tangga yang sering berbelanja di pasar tersebut, mengeluh karena bawang putih melonjak tinggi.

Padahal menurut dia, komoditas itu kerap dibutuhkan oleh ibu rumah tangga sebagai bumbu dapur yang pokok.

“Iya nih Mas, mahal banget. Dari bulan Januari-lah, apalagi bawang ini kan bumbu wajib,” keluh dia.

Kini Lastri memilih untuk mengurangi jumlah pembelian bawang putih akibat dari kenaikan harga yang tinggi.

“Sekarang mesti diirit-irit. Biasanya beli bawang seminggu setengah kilo, sekarang seperempat kilo karena mahal,” katanya.

Lastri juga berharap pemerintah bisa mengendalikan harga komoditas tersebut.

Filipina Stop Impor Honda Beat Dari AHM

Filipina Stop Impor Honda Beat Dari AHM

daftarhargakomiditi.web.id Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Filipina Stop Impor Honda Beat Dari AHM Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Filipina Stop Impor Honda Beat Dari AHM

Honda Filipina akan memproduksi Honda BeAT sendiri di negaranya. Skuter matik (skutik) itu sebelumnya diproduksi di Indonesia dan diekspor ke Filipina.Dengan Honda Filipina yang bakal lebih mandiri memproduksi Honda BeAT di negara itu, apakah ekspor motor PT Astra Honda Motor (AHM) terancam?General Manager Corporate Communication PT AHM, Ahmad Muhibbuddin, menegaskan pihaknya tidak begitu saja setop ekspor Honda BeAT ke Filipina. Menurutnya, AHM akan tetap menyuplai komponen Honda BeAT ke Filipina.”Di pasar Filipina, AHM tetap akan ekspor BeAT dalam kondisi terurai atau CKD,” kata Muhib dalam pernyataannya , Kamis (27/2/2020).

Selain itu, AHM juga masih punya produk buatan Indonesia selain BeAT yang diekspor secara utuh (CBU/completely build up) ke Filipina. Adapun motor selain BeAT yang diekspor CBU ke Filipina, kata Muhib, adalah Genio, ADV150, dan Supra GTR.”Kalau (ekspor motor PT AHM) terancam sih nggak ya. Ini challenge buat kita. Toh masih bisa (ekspor BeAT secara) CKD dan malah ada produk CBU lain,” ujar Muhib.Meski begitu, Muhib tak menutup kemungkinan bahwa Honda Filipina akan menggunakan komponen lokal negara itu untuk produk Honda BeAT.

“Mungkin aja (Honda Filipina pakai komponen lokal negaranya). Ini kan bagian dari mengembangkan daya saing produk di setiap negara,” ucapnya.Honda Filipina berniat akan memproduksi skuter matik (skutik) Honda BeAT sendiri di negaranya. Sebelumnya, Honda BeAT di negara itu dipasok oleh PT Astra Honda Motor (AHM).PT AHM pertama kali mengekspor motor buatan Indonesia ke Filipina pada 2015. Saat itu, AHM cukup bangga bisa mengekspor BeAT yang sudah memiliki komponen dalam negeri sebanyak 98,8%.

Namun, kini Honda Filipina ingin memproduksi BeAT sendiri. Hal itu diumumkan Honda Filipina melalui siaran persnya.”HPI (Honda Philippines, Inc.) dengan bangga mengumumkan The New BeAT akan diproduksi di Filipina Maret mendatang. Lokalisasi model The New BeAT menandakan bahwa komitmen HPI untuk memberikan produk yang relevan dengan kebutuhan dan gaya hidup konsumennya,” tulis Honda Filipina dalam siaran persnya.Presiden HPI, Susumu Mitsuishi, mengatakan Honda Filipina akan memproduksi 130.000 unit motor baru dalam setahun. Produksi BeAT akan memanfaatkan fasilitas pabrik Honda di Batangas, Filipina.”Kami sangat senang mengumumkan bahwa HPI akan memproduksi The New BeAT untuk segera menjawab permintaan pelanggan Filipina yang bergerak cepat. Pengendara muda menjadi lebih menuntut dalam hal kebutuhan berkendara mereka–dari gaya ke teknologi, itulah sebabnya kami ingin memprioritaskan model ini sebagai salah satu model AT (motor matic) terlaris yang sesuai dengan kondisi lalu lintas jalan Filipina,” kata Susumu.

Baca Juga : Ekspor Ganja Politikus PKS Sudah High

Honda Filipina tidak akan meminta skuter matik (skutik) Honda BeAT produksi Indonesia lagi ke PT Astra Honda Motor (AHM). Honda Philippines, Inc. (HPI) berencana untuk memproduksi Honda BeAT sendiri di negaranya.Hal itu diumumkan oleh HPI melalui siaran persnya. Mulai Maret 2020, Honda Filipina akan memproduksi Honda BeAT. Sebelumnya, Honda BeAT di Filipina dikirim langsung oleh PT Astra Honda Motor dari Indonesia.Dengan HPI memproduksi sendiri Honda BeAT, itu artinya PT AHM tidak lagi mengekspor motor tersebut secara utuh (completely build up/CBU) ke Filipina. Namun, General Manager Corporate Communication PT AHM, Ahmad Muhibbuddin, menegaskan bahwa pihaknya tetap akan menyuplai komponen Honda BeAT ke Filipina dalam bentuk terurai (Completely Knock Down/CKD) alias belum menjadi unit sepeda motor.

“Kami senang penerimaan Honda BeAT sangat bagus di negara lain, seperti di Filipina. Kami akan tetap memproduksi produk dan komponen motor yang kompetitif dan berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan di pasar motor internasional, baik dalam bentuk CBU dan CKD,” kata Muhib dalam pernyataannya , Kamis (27/2/2020).”Di pasar Filipina, AHM tetap akan ekspor BeAT dalam kondisi terurai atau CKD,” sambungnya. Artinya, komponen Honda BeAT yang akan dirakit di Filipina tetap dipasok dari Indonesia.Meski tidak mengekspor BeAT secara utuh ke Filipina, AHM tetap mengirim beberapa motor buatan Indonesia ke negara itu. ” Motor produksi AHM lainnya juga mulai diekspor secara CBU ke negara ini (Filipina), yaitu Genio, ADV150, dan Supra GTR,” ujar Muhib.

Sebelumnya, Presiden HPI, Susumu Mitsuishi, mengatakan Honda Filipina akan memproduksi 130.000 unit motor baru dalam setahun. Produksi BeAT akan memanfaatkan fasilitas pabrik Honda di Batangas, Filipina.”Kami sangat senang mengumumkan bahwa HPI akan memproduksi The New BeAT untuk segera menjawab permintaan pelanggan Filipina yang bergerak cepat. Pengendara muda menjadi lebih menuntut dalam hal kebutuhan berkendara mereka–dari gaya ke teknologi, itulah sebabnya kami ingin memprioritaskan model ini sebagai salah satu model AT (motor matic) terlaris yang sesuai dengan kondisi lalu lintas jalan Filipina,” kata Susumu.

Ekspor Ganja Politikus PKS Sudah High

Ekspor Ganja Politikus PKS Sudah High

daftarhargakomoditi.web.id Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Ekspor Ganja Politikus PKS Sudah High. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Ekspor Ganja Politikus PKS Sudah High

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PKS, Rafli mengusulkan agar pemerinta melakukan budi daya ganja untuk komoditas ekspor. Permintaan tersebut ia sampaikan dalam rapat bersama Menteri Perdagangan di Komisi VI DPR.

Menurut dia, ganja memiliki nilai manfaat tinggi, terutama untuk medis. “Legalisasi ganja yang saya tawarkan merupakan mekanisme pemanfaatan ganja Aceh untuk bahan baku kebutuhan medis dan turunannya berkualitas ekspor ke seluruh dunia,” ujarnya dalam pesan tertulis kepada Tempo, Jumat, 31 Januari 2020.

Rafli menjelaskan produk ganja dapat dipasarkan ke beberapa negara yang membutuhkannya. Politikus dapil Aceh ini bahkan menyatakan sudah merancang dua skema pembukaan keran ekspor ganja.

Pertama, menurut dia, pemerintah mesti menetapkan zonalisasi pilot project industri ganja untuk kebutuhan medis dan turununannya. Ia memandang, Aceh cocok menjadi kawasan percontohan karena selama ini ganja dapat tumbuh subur di sana.

Kedua, ujar dia, pemerintah mesti membentuk mekanisme tersistem hingga program ini sukses. Rafli mengklaim idenya datang dari negara-negara luar yang sudah lebih dulu memanfaatkan ganja untuk medis.

“Budi daya ganja ini di negara kita hanya terbentur Undang-undang Nomor 35 Rahun 2009 Pasal 8 ayat 1 tentang Narkotika Golongan 1. Yaitu, (ganja) tidak boleh digunakan untuk kebutuhan medis,” ujarnya.

Ia mengimbuhkan, seumpama pemerintah serius menampung usulannya, legislator akan merevisi aturan yang berlaku. Rafli menyatakan, batasan budidaya dan ekspor ganja pun dapat diatur dalam regulasi yang dikawal oleh negara. “Yang terpenting kita harus menutup celah penyalahgunaan,” ucapnya.

Selanjutnya, terkait hukum agama, Rafli mengklaim tumbuhan ganja pada dasarnya tidak haram. Menurut dia, ganja dinyatakan haram lantaran bila disalahgunakan.

Ihwal usulan ekspor ganja itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan enggan mengomentari. Alih-alih menanggapi, Luhut justru balik melempar usulan tersebut.

“Tanya saja ke PKS yang mengusulkan,” ujarnya sembari berlalu seusai menggelar rapat dengan sejumlah pihak di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jumat petang, 31 Januari 2020.

Baca Juga : Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor

Badan Narkotika Nasional (BNN) menolak tegas usulan politikus yang mendorong ganja sebagai komoditas ekspor. Pasalnya, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur tanaman itu masuk dalam narkotika golongan 1.

“Melarang tanaman ganja mulai dari biji, buah, jerami, hasil olahan atau bagian tanaman lainnya untuk tujuan apa pun,” ujar Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari dalam keterangan tertulis, Ahad, 2 Februari 2020.

Arman menanggapi usulan dari anggota Komisi VI DPR Fraksi PKS Rafli yang mengusulkan agar pemerintah menjadikan ganja sebagai komoditas ekspor. Hal itu disampaikan dalam rapat bersama Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Kamis lalu, 30 Januari 2020.

Rafli beralasan, ganja mudah tumbuh di Aceh dan ada peluang ekspor mengingat sejumlah negara di dunia memang melegalkan ganja. “Ganja entah itu untuk kebutuhan farmasi, untuk apa saja. Jangan kaku kita, harus dinamis berpikirnya. Jadi, ganja ini di Aceh tumbuhnya itu mudah,” ujarnya saat itu.Lebih jauh Arman mengatakan ganja merupakan narkotika yang jika disalahgunakan dapat merusak kesehatan secara permanen dan menimbulkan ketergantungan. Hingga kini belum ada satu pun pembuktian dari penelitian medis bahwa ganja dapat menyembuhkan penyakit tertentu, seperti asma. “Apalagi obat asma sangat banyak dan cukup tersedia sehingga tidak diperlukan obat-obat lain sebagai alternatif.”

Tak hanya itu, menurut Arman, juga menegaskan belum ada negara yang mengeluarkan ganja dari jenis narkotika golongan 1 dalam undang-undang mereka, termasuk Indonesia.
Sehingga jika ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan tanaman ganja di luar ketentuan Undang-Undang, hal tersebut merupakan tindak kejahatan.

Bila hal itu dilanggar, maka perbuatan tersebut adalah kejahatan atau perbuatan pidana. “Oleh karena itu, jika ada keinginan untuk melegalisisasi ganja perlu ditelusuri motivasi dan kepentingannya apakah untuk kepentingan masyarakat atau sindikat,” kata Arman.

Ihwal usulan ekspor ganja itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan enggan mengomentari. Alih-alih menanggapi, Luhut justru balik melempar usulan tersebut.

“Tanya saja ke PKS yang mengusulkan,” ujarnya sembari berlalu seusai menggelar rapat dengan sejumlah pihak di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jumat petang, 31 Januari 2020.

Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor

Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor

daftarhargakomoditi.web.id Virus corona yang akhir akhir ini menyebar memang sangat meresahkan salah satu pihak yang terkena imbasnya adalah pengusaha overseas.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor.Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Corona Tekan Pemasukan Dari Ekspor Impor

Dampak penyebaran virus corona menjadi pemicu utama terguncangnya kinerja perdagangan ekspor. Kinerja ekspor Indonesia diprediksi belum membaik pada tahun ini.Indikasi tersebut, kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri, bisa dilihat dari penurunan kinerja ekspor beberapa negara selama Januari. Kinerja ekspor Vietnam, Korea Selatan, Jepang, Pakistan, hingga Cile anjlok selama bulan lalu.“Jadi, ada sekitar lima hingga enam negara yang sudah merilis data (perdagangan) Januari itu umumnya ekspor-impornya turun. Yang terbesar Brasil turun sampai dua digit,” ujar dia, Selasa 11 Februari 2020.

Menurut Kasan, penyebaran virus corona di Wuhan telah memukul aktivitas ekonomi Cina. Beberapa aktivitas perdagangan di negeri itu juga berhenti. Salah satu negara yang sudah merilis data penurunan kinerja perdagangan adalah Korea Selatan. “Kami membayangkan ini pasti berdampak pada Indonesia,” kata dia.Kasan mengatakan, berdasarkan data Bank Dunia, setiap penurunan 1 persen produk domestik bruto (PDB) Cina berdampak sekitar 0,3 persen terhadap Indonesia. Adapun PDB Cina diproyeksikan turun hingga 2 persen. “Jadi, kalau World Bank memprediksikan penurunan 0,3 persen, kami lebih konservatif, yaitu 0,23 persen. Kalau target pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,3 persen, dikurangi 0,6 persen maka bisa turun menjadi 4,7 persen,” ujar dia.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Dody Edward, mengatakan produk manufaktur dalam negeri berpotensi menopang kinerja ekspor. Produk manufaktur yang berpotensi berkontribusi bagi ekspor, seperti produk otomotif, furnitur, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, kimia, hingga kertas, akan terus didorong.Indonesia, kata dia, juga terus mendorong implementasi sejumlah perjanjian dagang yang telah disepakati Indonesia dengan negara mitra. Untuk itu, pemerintah berharap sektor swasta atau dunia usaha bisa lebih aktif untuk melakukan misi dagang atau trade mission per sektor secara komprehensif dan detail.

Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan (Himki), Abdul Sobur, mengatakan industri furnitur dan kerajinan berpotensi menopang ekspor nasional. Pasalnya, kandungan bahan impor terhadap sektor tersebut relatif kecil. Menurut dia, mayoritas produk jadi mebel dan kerajinan berbasis bahan lokal, seperti kayu, rotan dan bambu, dan sedikit logam dan plastik.Selain itu, pasar ekspor furnitur dan kerajinan adalah Eropa dan Amerika Serikat (AS). Pasar AS menjadi tujuan utama dengan nilai US$ 700–800 juta per taun. Sobur mengatakan nilai tersebut memiliki porsi yang sangat besar bagi nilai ekspor nasional. “Dampak perang dagang Amerika-Cina dan wabah virus corona membuka peluang besar masuk ke pasar Amerika,” ujar dia.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, meski arus ekspor TPT ke Cina terhambat akibat virus corona, pada saat bersamaan hal ini mendorong permintaan domestik yang selama ini diisi produk impor dari Cina. Menurut Redma, sekitar 30 persen dari 60 persen produk Cina di Tanah Air bisa diisi produk dalam negeri.Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, pemerintah mau tidak mau harus terus menstimulasi investasi di sektor manufaktur atau industri pengolahan yang berorientasi ekspor. Artinya, penciptaan iklim usaha yang efisien dan produktif menjadi penting. Selain itu, diperlukan adanya efisiensi rantai pasok atau supply chain produksi.

“Termasuk ketentuan dan prosedur supply chain impor dan ekspor harus dibenahi dan disimplifikasi sehingga hambatannya minim dan menjadi lebih efisien untuk memproduksi produk ekspor di Indonesia,” ujar Shinta.Pangsa pasar ekspor Indonesia ke Cina dipastikan bakal porak-poranda setelah negeri itu dihantam wabah virus corona. Karena itu, pemerintah diminta mengejar pertumbuhan ekonomi dengan menggenjot konsumsi domestik.Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengatakan, memacu konsumsi domestik adalah satu-satunya cara Indonesia untuk dapat menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5 persen. “Saya kira pemerintah harus mempercepat belanja sosial pada triwulan I/2020 agar masyarakat memiliki tambahan pendapatan untuk konsumsi Puasa dan Lebaran. Jika salah langkah, pertumbuhan ekonomi bisa drop di bawah 5 persen,” kata Lana ketika dihubungi Bisnis, Selasa 11 Februari 2020.

Sebelumnya, Lana telah melihat adanya sinyal perlambatan konsumsi rumah tangga pada akhir 2019. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), capaian konsumsi rumah tangga Indonesia pada triwulan IV/2019 hanya tumbuh 4,97 persen. Realisasi tersebut mengalami penurunan dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 5,08 persen (yoy). Padahal, struktur produk domestik bruto (PDB) menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku pada 2019 tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Menurut Lana, perekonomian Indonesia masih didominasi komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 56,62 persen; komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 32,33 persen; komponen ekspor barang dan jasa 18,41 persen; komponen konsumsi pemerintah 8,75 persen; komponen perubahan inventori besar 1,43 persen; komponen lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) 1,3 persen.Wabah virus corona di Cina sendiri, tutur Lana, berpotensi menekan kinerja ekspor dan impor pada tahun ini. Pasalnya, Cina merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia di samping Amerika Serikat dan Singapura.”Kalau belanja sosial bisa dicairkan di triwulan I dan II/2020 saya memprediksi pertumbuhan dapat terjaga di level 5 persen. Saya khawatir apabila pemerintah tidak dapat memacu ekonomi di semester I/2020 akan membuat capaian di bawah 5 persen hingga akhir tahun,” Lana menambahkan.Sebelumnya, Direktur Pelaksana Bank Dunia Mari Elka Pangestu memproyeksi virus corona berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai kurang dari 5 persen. Padahal, berdasarkan APBN 2020, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen.

Baca Juga : Euro4 Bisa Tingkatkan Ekspor Kendaraan

Setiap perlambatan ekonomi Cina sebesar 100 basis poin (bps), Indonesia akan terdampak sebesar 30 bps. Menurut Mari, para ekonom dunia telah memproyeksikan bahwa virus corona akan membuat pertumbuhan ekonomi Cina melambat 100 bps hingga 300 bps.Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 tertekan menjadi 4,9 persen. Penyebabnya, wabah virus corona di beberapa negara.

“Kemarin kan BPS merilis pertumbuhan 2019 kita 5,02 persen. Jika di 2020 ada beberapa kejadian termasuk corona ini, paling tidak bisa terkoreksi 0,1 persen sampai 4,9 persen,” kata Faisal dalam Outlook Ekonomi dan Perdagangan 2020 di Gedung Kemendag, Jakarta, Selasa 11 Februari 2020.Faisal mengatakan penyebaran virus corona ini paling besar di Provinsi Hubei, Cina. Padahal, kata dia, wilayah tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi terbesar di Cina pada 2019: 7,3 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan secara nasional di Negeri Tirai Bambu yaitu 6 persen.

“Ini pasti sangat berdampak besar terhadap perekonomian Cina dan juga beberapa daerah yang lain,” kata dia.Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perlambatan ekonomi adalah menurunnya investasi dari luar negeri. Adapun Cina menjadi negara kedua dengan investasi asing terbesar di Indonesia setelah Jepang.”FDI (foreign domestic investment) juga terganggu dan biaya penanggulangan untuk menghentikan wabah itu terutama di beberapa industri yang terdampak. Tiongkok sekarang secara GDP nomer 2 di dunia setelah amerika dan tingkat keterkaitan dengan negara lain lebih besar. Pengaruhnya terhadap ekonomi Tiongkok luar biasa,” tutur Faisal.

Euro4 Bisa Tingkatkan Ekspor Kendaraan

Euro4 Bisa Tingkatkan Ekspor Kendaraan

daftarhargakomoditi.web.id Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Euro4 Bisa Tingkatkan Ekspor Kendaraan. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Euro4 Bisa Tingkatkan Ekspor Kendaraan

Standar Euro 4 untuk kendaraan roda empat mesin bensin telah diterapkan sejak Oktober tahun lalu. Sedangkan untuk kendaraan dengan mesin diesel, atau banyak digunakan oleh kendaraan komersial baru mulai dijalankan pada 7 April 2021.Aturan ini sendiri, telah tertuang dalam Peraturan Menteri LHK No.P. 20 Tahun 2017 Tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor roda 4 atau lebih Tipe Baru Kategori M, N, dan O.

Dalam pasal 2 ayat 1 disebutkan, setiap usaha dan/atau kegiatan produksi kendaraan bermotor tipe baru, wajib memenuhi ketentuan Baku Mutu Emisi Gas Buang standar Euro 4.Dijelaskan Putu Juli Ardika, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), penerapan Euro4 ini memang tidak hanya berhubungan dengan lingkungan, tapi juga bisnis karena mengarah kepada investasi untuk Indonesia.

“Kita agak terlambat masuk ke Euro 4 dan 5, sehingga investasi yang terjadi juga berdampak ke ekonomi. Jadi, kalau ada yang bertanya, investasi diesel banyak ke Thailand, kalau ke Indonesia itu bensin,” jelas Putu saat ditemui di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, belum lama ini.Lanjut Putu, Negeri Gajah Putih memang unggul dari segi komersial atau pikap, sedangkan Indonesia masih bensin.”Kita hanya 18 persenan (diesel), kita mampu produksi 1,34 juta. Kalau Thailand, yang sudah masuk Euro 4 dan 5 terlebih dahulu mampu memproduksi 2 juta unit,” tegasnya.

Dari total produksi tersebut, sebesar 70 persen diekspor dan 30 persen untuk memenuhi kebutuhan domestik. Sedangkan Indonesia, 70 persen untuk domestik dan hanya 30 persen diekspor.Jika berbicara salah satu model legendaris di Indonesia, terutama di segmen mobil keluarga, pasti akan terbesit nama Isuzu Panther. Namun, mobil asal Jepang yang sudah mulai diniagakan sejak 1990-an ini, ternyata penjualannya makin menurun.

Baca Juga : Corona Jadi Batu Penghadang Ekspor Sektor Minerba

Pasalnya, mobil ini dijual dengan hanya mengandalkan model yang sudah lama, alias tidak mendapatkan ubahan total atau all new, bahkan facelift sekalipun.Dijelaskan Attias Asril, General Manager Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), untuk penjualan Panther saat ini hanya menjaga angka penjualannya saja. Bahkan, model ini bisa dikatakan menunggu hingga titik paling akhir, atau saat regulasinya sudah tidak sesuai lagi.

“Begini, pasar juga akhirnya melihat. Apalagi seperti Euro4, satu yang membuat kami bisa lanjut atau tidak, adalah keterlibatan prinsipal kami,” jelas Attias saat berbincang dengan wartawan di bilangan Menteng, jakarta Pusat, Senin (3/2/2020).Pasalnya, Isuzu Panther saat ini, memang dijual dengan menggunakan mesin yang masih Euro2. Jika nantinya ada mesin yang memang sesuai dengan regulasi (Euro4), dan prinsipal (Isuzu Jepang) komitmen untuk melanjutkan, sebagai agen pemegang merek (APM) ikut melanjutkan sesuai peraturan yang berlaku.”Untuk Panther memang masih tanda tanya, karena masalahnya tidak hanya mesin. Panther itu, hari ini hanya tinggal di Indonesia saja. Di Filipina, sudah ganti menjadi MU-X, dan fokus Isuzu ke SUV, mengembangkan MU-X,” tambahnya.

Australia Jadi Sasaran Indonesia Pasarkan Mobil Listrik

Australia Jadi Sasaran Indonesia Pasarkan Mobil Listrik

daftarhargakomoditi.web.id System yang dimiliki oleh mobil listrik berbeda dengan mobil berbahan bakar seperti pada umumnya.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Australia Jadi Sasaran Indonesia Pasarkan Mobil Listrik. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Australia Jadi Sasaran Indonesia Pasarkan Mobil Listrik

Ratifikasi Perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) telah selesai dilaksanakan dan diharapkan dapat membangkitkan minat investasi daripada Australia.”Jadi tentu nanti terkait dengan IA-CEPA ini kita ketahui bahwa selama ini investasi dari Australia ini jumlahnya tidak masuk dalam 5 besar. Jadi range-nya antara 400-700 juta US,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan kepada pers di Hyatt Hotel Canberra-A Park Hyatt Hotel, Canberra, dikutip dari laman Setkab, Senin (10/2/2020).Kalau dilihat, menurut Menko Perekonomian, Indonesia dengan Australia ini yang diuntungkan thread valasnya ke pihak Australia.

”Tentu diharapkan dengan adanya IA-CEPA ini walaupun bea masuknya akan diturunkan rata-rata dari 5 persen menjadi 0 persen. Itu yang akan bisa didorong adalah Satu, Tekstil. Kedua, Otomotif,” kata Airlangga.Otomotif sebagaimana diketahui, lanjut Airlangga, Australia mempunyai demand sebesar 1,1 juta US Dolar dan produk-produk kendaraan komersial seperti truk ataupun SUV sangat diminati.”Nah sekarang Indonesia ini sendiri mempunyai kapasitas, tinggal kita bicara dengan produsen-produsen yang di Indonesia sedang di dalam proses supaya bagaimana kita bisa mempercepat tidak hanya yang tercantum di dalam IA-CEPA kan lebih utamanya kepada hybrid dan electric vehicle,” sambung Menko Perekonomian.Di Indonesia sendiri, lanjut Airlangga, hybrid dan electric vehicle baru akan mulai produksi kira-kara tahun 2021. Ia menambahkan bahwa sebelum itu pemerintah akan mendorong supaya yang combustion engine juga masuk karena itu juga masih diminati di Australia.

Senada dengan Menko Perekonomian, Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto juga menyampaikan bahwa dengan telah selesainya ratifikasi IA-CEPA mungkin akan meningkatkan akses pasar RI ke Australia.”Diharapkan dengan meningkatnya akses pasar otomatis kita mengurai defisit juga, plus juga nanti ekspor Indonesia Australia akan tambah,” ujar Agus.Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa kunjungannya ke Australia menandai era baru hubungan Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Australia dan rencana aksi pelaksanaan kemitraan strategis komprehensif untuk tahun 2020-2024 telah selesai.”Ini berarti bahwa dalam 5 tahun ke depan kerja sama bilateral kita akan lebih baik dan lebih terarah,” tutur Presiden Jokowi saat menyampaikan joint press statement usai pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison di Parliament House, Canberra, Australia, dikutip dari laman Setkab, Senin (10/2/2020).

Baca Juga : Ekspor Nonmigas Riau Capai 6 Milyar

Ratifikasi perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IA-CEPA, menurut Presiden, telah selesai di antara kedua negara.”Yang berarti ke depan hubungan ekonomi kedua negara secara komprehensif akan lebih maju dan harus dirasakan manfaatnya oleh rakyat kedua negara,” ujarnya.Menurut Jokowi, Indonesia mendorong agar program 100 hari implementasi dari IA-CEPA dapat dilakukan antara lain pelaksanaan Australia Business Week yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan Australia di Indonesia, juga kunjungan sejumlah major private investor Australia ke Indonesia, dan juga kerja sama untuk pendanaan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia, serta kerja sama di bidang pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia.

Selain itu juga, menurut Mendag, ada kemudahan-kemudahan lain terutama tadi dikatakan Menko mengenai tarif. ”Jadi produk-produk kita bisa lebih kompetitif,” pungkas Mendag.“Tadi sudah disampaikan Perdana Menteri Scott Morrison mengenai akan dibukanya Monash University di Indonesia,” tambah Kepala Negara.Melalui IA-CEPA ini, lanjut Presiden, Indonesia mengharap agar Australia dapat menjadi mitra penting, antara lain di bidang investasi untuk infrastruktur dan juga di bidang pendidikan.”Di luar IA-CEPA kita juga membahas kemitraan kedua negara dalam konteks Indo-Pacific. Kita mengharapkan bahwa stabilitas perdamaian, kesejahteraan secara merata dapat terus tercipta dan terjaga di kawasan Indo-Pacific,” ujarnya.

Kedua Negara, menurut Presiden, juga sepakat untuk bersama-sama meningkatkan kerja sama di Pasifik Selatan dengan fokus antara lain pada isu ocean dan perubahan iklim. Sebagai informasi Presiden tiba di Parliament House sekitar pukul 08.30 waktu setempat dan disambut langsung oleh PM Scott Morrison.Setelah itu, Presiden melakukan penandatanganan buku tamu dan dilanjutkan dengan Bilateral Meeting dan penandatanganan MoU. Usai melakukan joint press statement bersama PM Scott Morrison, Presiden Jokowi memberikan pidato di hadapan anggota parlemen Australia.Turut mendampingi Presiden dalam pertemuan ini Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Politik Hukum dan HAM Mahfud MD, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Pemerintah Susun Strategi Untuk Dongkrak Ekspor

Pemerintah Susun Strategi Untuk Dongkrak Ekspor

Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Pemerintah Susun Strategi Untuk Dongkrak Ekspor Joker388. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Pemerintah Susun Strategi Untuk Dongkrak Ekspor

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, berbagai instansi pemerintah telah bersinergi menyiapkan strategi untuk mendukung titah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam meningkatkan ekspor UMKM hingga dua kali lipat pada 2024.Sebagai informasi, kontribusi UMKM dalam total ekspor Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 14,5 persen per tahun. Jika dinaikan hingga dua kali lipat, maka pemerintah target mendongkrak kontribusi UMKM pada kegiatan ekspor di 2024 hingga 30 persen.

“Kita target tahun 2024 itu kan naik dua kali lipat dari sekarang. Ini tentu arahan yang optimis, ambisius lah. Saya kira kalau kita melihat perbandingan dengan negara lain, sebenarnya kita masih kecil sementara potensi kita besar. Karena itu strategi kita mencapai target ekspor itu akan fokus mengembangkan UMKM dan koperasi di sektor-sektor tertentu yang memang permintaan dunianya tinggi,” papar Menteri Teten di Gedung Smesco, Jakarta, Rabu (8/1/2020).Sebagai contoh, ia menyebutkan beberapa komoditas Indonesia yang permintaan di pasar global tinggi antara lain produk makanan/minuman berbasis kelautan, pertanian dan perkebunan.

“Yang kedua yang lagi growing juga adalah home decor, seperti furniture, kerajinan, muslim fashion, itu cukup tinggi. Jadi saya kira kita optimis kalau kita fokus pengembangan UMKM-nya di sektor produksi di sektor yang permintaan dunianya tinggi meskipun ekonomi dunia sedang lesu, saya kira kita bisa mencapai target ekspor,” tuturnya.Guna mencapai tujuan tersebut, Kementerian Koperasi dan UKM dikatakannya akan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Perindustrian.”Jadi kalau Kementerian Koperasi kan tupoksinya adalah membina pengembangan usahanya. Sektor teknisnya ada di kementerian lain,” sambungnya.

Baca Juga :

Mitra dengan Usaha Besar
Dia kemudian membagi produk UMKM dalam dua klasifikasi, yakni pelaku usaha kecil dan besar. Bagi pelaku kecil, Menteri Teten mementingkan adanya agregator dan trading house untuk menghubungkan produk UMKM dengan pasar global. Baik lewat e-commerce maupun lewat perdagangan biasa.”Yang besar ini kita perlu kemitraan. Kemitraan dengan usaha besar yang sudah terhubung dengan pasar global. Saya kira itu aja pendekatannya,” ungkap Menteri Teten.Saat ditanya seberapa besar target kontribusi UMKM pada kegiatan ekspor di 2020, ia belum bisa menjawabnya. Namun ia memprediksi itu akan mencapai titik puncak pada periode 2021-2022.”Kita akan lihat. Tentu mungkin kita harapkan 2021-2022 itu jadi pick up-nya. Karena nanti pada 2023-2024 sudah tahun politik, biasanya ini terhambat. Jadi kita belum bisa pastikan berapa persen per tahunnya, karena kita terus konsolidasi,” pungkas dia.

Impor Indonesia Berhasil Ditekan Di Desember

Impor Indonesia Berhasil Ditekan Di Desember

daftarhargakomoditi.web.id Penghasilan lewat Impor berhasil ditekan,sehingga ekspor berhasil menuju target yang ditentukan. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Impor Indonesia Berhasil Ditekan Di Desember. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Impor Indonesia Berhasil Ditekan Di Desember

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan angka impor Indonesia per Desember 2019 mengalami penurunan sebesar 5,47 persen dari bulan lalu.Dengan demikian, nilai impor Indonesia per Desember 2019 ialah USD 14,50 miliar, turun USD 0,84 miliar dari bulan November 2019 yang sebesar USD 15,34 miliar.Suhariyanto menjelaskan, hampir seluruh sektor mengalami penurunan impor.”Impor barang konsumsi turun 1,32 persen, secara YoY turun 12,18 persen. Barang-barangnya contohnya gelang, jam tangan dan lainnya. Lalu, impor bahan baku turun 6,83 persen secara bulanan, barang modal juga turun 2,16 persen,” ujarnya di Gedung BPS, Rabu (15/1/2020).

Baca Juga : Ekspor Indonesia Mencapai 167 Milyar

Lebih lanjut, BPS melihat adanya peningkatan impor gula dan jenis buah-buahan. Hal ini diperkirakan karena masyarakat akan segera menyambut Hari Raya Imlek.”Buah-buahan naik untuk persiapan Imlek, seperti apel, jeruk mandarin, pear. Biasanya kalau Imlek butuh buah-buahan,” papar Suhariyanto.

Impor Bahan Baku Turun
Secara keseluruhan, nilai impor bahan baku/penolong turun USD 10,4 miliar atau turun 7,27 persen YoY. Lalu, sektor barang modal turun USD 2,45 miliar atau turun 8,47 persen.Kemudian dari sektor konsumsi, angkanya turun USD 1,65 miliar namun persentasenya naik 12,18 persen YoY.

Akhir Tahun Neraca Dagang Defisit 30 Juta USD

Akhir Tahun Neraca Dagang Defisit 30 Juta USD

daftarhargakomoditi.web.id Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Akhir Tahun Neraca Dagang Defisit 30 Juta USD. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Akhir Tahun Neraca Dagang Defisit 30 Juta USD

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perkembangan ekspor dan impor Indonesia per Desember 2019, Rabu (15/1/2020). Tercatat, dari nilai ekspor sebesar USD 14,47 miliar dan nilai impor sebesar USD 14,50 miliar, Indonesia masih defisit neraca dagang sebesar USD 30 juta per Desember 2019.Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, defisit neraca dagang Indonesia per Desember 2019 mengalami penurunan tipis dibanding November 2019.”Dapat di lihat impor turun 5,47 persen, terdapat penurunan impor baik untuk migas maupun non migas,” papar Suhariyanto dalam gelaran konferensi pers.

Sementara selama 2019, Indonesia masih punya defisit neraca perdagangan sebesar USD 3,2 miliar, berdasarkan nilai ekspor sepanjang 2019 sebesar USD 167,53 miliar dan impor sepanjang 2019 sebesar USD 178,72 miliar.”Ini lebih baik daripada tahun lalu yang defisitnya mencapai USD 8,6 miliar,” ujar Suhariyanto.Neraca dagang ini masih surplus ke Amerika Serikat, Belanda serta India sementara defisit ke Australia, China dan Thailand.

Industri Makanan dan Minuman Jadi Andalan Tekan Defisit Neraca Dagang
Industri makanan dan minuman (mamin) terus menunjukkan daya saingnya. Hal tersebut dibuktikan dengan capaian ekspor sektor yang menjadi prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0 tersebut, yang menyentuh angka USD 20 miliar hingga September 2019.

Sektor mamin juga berkontribusi lebih dari sepertiga (36,49 persen) dari total Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan non-migas hingga triwulan III tahun 2019.“Bila melihat data, ekspor industri mamin saat ini cukup besar, dan ekspornya juga nomor satu. Angka ekspor mamin hingga September 2019 hampir mencapai USD 20 miliar,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Achmad Sigit Dwiwahjono, dalam keterangan tertulis, Senin (25/11).Sigit mengungkapkan, industri makanan dan minuman menjadi salah satu prioritas dalam Making Indonesia 4.0 karena secara terus-menerus selalu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi, seperti pada triwulan III Tahun 2019 yang mencapai 7,72 persen, sementara ekonomi tumbuh 5,04 persen.”Dengan sedikit dorongan, pertumbuhan ekonomi kita dapat lebih bagus lagi, karena 55 persen dari struktur ekonomi kita didukung oleh konsumsi dalam negeri, sehingga kita masih punya kesempatan lebih besar lagi,” terangnya.

Baca Juga : BPOM Siapkan Pengawasan Khusus

Mi Instan Indonesia Paling Digemari
Menurut Sigit, saat ini produk mamin yang diproduksi di Tanah Air banyak digemari di beberapa negara lain. Misalnya mi instan yang sangat digemari di negara-negara Afrika.Sehingga, untuk meningkatkan ekspor sektor mamin, pemerintah terus menjajaki pasar Amerika Serikat, Jepang, Eropa, serta pasar-pasar nontradisional.Upaya mendorong pertumbuhan sektor itu antara lain dengan aktif menciptakan iklim investasi yang kondusif. Sampai dengan triwulan III tahun 2019, realisasi investasi untuk sektor mamin mencapai Rp 25,81 triliun untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan USD 984,26 juta untuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Pemerintah juga terus mendorong sekaligus memfasilitasi promosi produk industri mamin, salah satunya melalui pameran industri di luar negeri yang dinilai bisa menjadi wahana pendorong bagi para pengusaha di bidang industri mamin untuk memperkenalkan produk, kualitas dan citra merek serta memperoleh berbagai masukan serta keinginan dari pelanggannya.“Upaya tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan ekspor produk mamin yang diproduksi di Tanah Air,” ungkap Sigit.Aspek teknologi dan inovasi, termasuk pula standar dan pengemasan merupakan faktor krusial dalam industri mamin. Untuk melindungi pasar dalam negeri, proteksi yang dilakukan termasuk penerapan berbagai regulasi yang harus dipenuhi juga oleh produk-produk impor.Hal ini agar industri mamin Tanah Air dapat mendominasi pasar dalam negeri dan mampu berkontribusi dalam menekan defisit neraca perdagangan.

Sewa Kapal Asing 97 Triliun

Sewa Kapal Asing 97 Triliun

daftarhargakomoditi.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  Sewa Kapal Asing 97 Triliun. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Sewa Kapal Asing 97 Triliun

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brdojonegoro menyebut bahwa kerugian Indonesia akibat aktivitas ekspor dan impor menggunakan kapal asing mencapai USD 6,9 miliar atau setara dengan Rp 97,98 triliun (kurs Rp 14.200). Kerugian itu terjadi di sektor angkutan laut (see freight).

“Defisit USD 6,9 miliar berasal dari pelayanan ekpor impor memakai kapal asing,” ujar Bambang saat ditemui di Jiexpo Kemayoran, Jakarta.Dia merincikan pelayanan ekspor impor dengan kapal asing berperan 60 persen terhadap total defisit angkutan laut sebesar USD 6,9 miliar. Sedangkan sisanya meliputi pelayanan domestik dengan kapal asing 2 persen, penggunaan kapal dengan asuransi asing 11 persen dan lainnya 27 persen.“Defisit neraca jasa transportasi kita senilai USD 8,8 miliar. Nah, 80 persen itu bersumber dari sea freight yang USD 6,9 miliar tadi,” imbuh dia.Di samping itu, kerugian lain yang di dapat Indonesia jika terus menerus menggunakan kapal asing yakni tidak tercatatnya sistem devisa negara.“Jadi dia ketika kita ekspor itu kita inflow, defisa buat kita, berapa semisal. Ketika membawa barangnya ekspornya kapalnya kapal asing, langsung dicatat sebagai outflow (devisa keluar),” terang dia.

Ekspor Indonesia Turun 1,29 Persen
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2019 mencapai USD 14,10 miliar. Nilai tersebut turun 1,29 persen apabila dibandingkan dengan Agustus 2019 dan turun 5,74 persen dibanding September 2018.Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2019 mencapai USD 14,10 miliar. Nilai tersebut turun 1,29 persen apabila dibandingkan dengan Agustus 2019 dan turun 5,74 persen dibanding September 2018.
“Total nilai ekspor pada September 2019 sebesar USD 14,10 miliar. Turun 1,29 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto di Kantornya, Jakarta,.
Suhariyanto merinci, ekspor migas menyumbang sebesar USD 0,83 miliar sedangkan ekspor non migas menyumbang 13,27 miliar. Kedua komponen tersebut sama sama mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Baca Juga :Ekspor RI Kalah Sama Impor

“Dengan nilai ekspor USD 14,10 miliar, kompisisi ekspor menurut sektornya, untuk ekspor migas turun 5,17 persen secara month to month dan secara year on year turun tajam menjadi 37,13 persen,” jelasnya.

Menurut sektor, ekspor non migas menyumbang 94,11 persen dari total ekspor pada September 2019. Masing-masing sektor non migas seperti pertanian, pengolahan dan pertambangan menyumbang USD 0,36 miliar, USD 10,85 miliar dan USD 2,06 miliar.

“Sama seperti bulan-bulan sebelumnya, ekspor masih perlu terus diperhatikan,” tandas Suhariyanto.

1 2 3 4