Beras Bulog Telat Ekspor Jadi Rastra

Beras Bulog Telat Ekspor Jadi Rastra

daftarhargakomoditi.web.id Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Beras Bulog Telat Ekspor Jadi Rastra, Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Beras Bulog Telat Ekspor Jadi Rastra

Panen raya sudah dekat, akan tetapi pasokan beras di gudang Perum Bulog masih bersisa sebanyak lebih kurang 1,7 juta ton. Di mana realisasi penyaluran beras untuk operasi pasar baru mencapai 247.000 ton, dan untuk program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) baru mencapai 28.000 ton.Hal ini dikhawatirkan dapat membuat beras yang ada membusuk seiring waktu sehingga tak dapat digunakan.Menyiasati hal tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku telah memberi sejumlah arahan, yang jelas stok beras yang ada harus segera dikeluarkan.

“Kita lagi berusaha agar beras bulog keluar, kalau disimpan lama-lama bisa rusak (busuk),” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi dalam diskusi bertajuk Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan Menuju Indonesia Kuat dan Modern 2045 di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (27/2/2020).Salah satu usul yang ditawarkan adalah membuka kembali program Beras Sejahtera (Rastra) yang sebelumnya diganti dengan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).”Kemarin kita usul bagaimana kalau rastra ada lagi yaitu sebanyak 300.000 ton beras itu khusus untuk rastra,” tambahnya.

Sebagai informasi, sejak September 2019 lalu, pemerintah resmi menghentikan program Rastra dan menggantikan sepenuhnya dengan BPNT. Dalam program BPNT, penyalur beras juga melibatkan swasta, dan Bulog bukan lagi penyalur beras utama.Selain membuka kembali program Rastra, usulan lainnya yang dianggap efektif dalam menyerap stok beras adalah dengan mengekspor 100 ton beras renceng ke Arab Saudi.”Kemudian kita juga merencanakan ekspor beras ke Arab Saudi untuk makannya orang umroh dan haji, itu juga jadi strategi,” tutupnya.

Sebanyak 20.000 ton beras Bulog turun mutu dan terancam busuk karena sudah disimpan lebih dari empat bulan. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan, ada beberapa skema untuk penggunaan beras turun mutu tersebut tanpa harus dimusnahkan.Terdapat empat alternatif pemanfaatan beras tersebut, di antaranya dijual dengan harga murah jika dinyatakan masih layak konsumsi. Lalu, dialihfungsikan menjadi tepung atau pakan ternak. Terakhir jika memang tak layak konsumsi maka beras tersebut dapat diolah jadi ethanol.Buwas menjelaskan, mekanisme di atas dapat dilakukan dengan lelang. Nantinya, pemenang lelang yang akan memproses pengalihan fungsi tersebut.”Akan dilelang terserah mau jadi apa nanti. Misalnya dia lelang mau jadi tepung, ya tapi harus jadi tepung. Lelang jadi pakan ya harus jadi pakan,” terang Buwas di kantornya, Jakarta, Selasa (3/12/2019).Bulog akan menerima hasil lelang yang lebih rendah dari harga seharusnya. Perum selanjutnya akan meminta uang selisih penjualan kepada pemerintah.

Maka dari itu, Bulog akan minta ganti uang selisih penjualan kepada pemerintah.”Uangnya untuk Bulog, nanti kita lapor negara uang lelang sekian, dulu belinya dilelang. Nanti kita tinggal minta selisihnya,” paparnya.Perum Bulog berencana mengekspor 100 ton beras renceng ke Arab Saudi hari ini. Namun, rencana itu tertunda karena masih ada administrasi ekspor yang masih harus diurus di Kementerian Perdagangan (Kemendag).”Seyogyanya memang hari ini diberangkatkan ke Arab Saudi. Tapi masih ada administrasi yang belum lengkap sehingga masih harus dilengkapi,” ungkap Buwas di Gudang Bulog, Jakarta Utara, Kamis (27/2/2020).Saking semangatnya, ketika ada permintaan ekspor Buwas langsung bergegas memerintahkan pegawainya mengirim ke Arab Saudi. Sampai-sampai, ia lupa masih harus mengajukan izin ekspor ke Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto.”Ternyata ekspor itu tidak mudah, karena ada prosedur. Kalau saya tadinya ekspor ya tinggal ekspor saja. Rupanya, lupa saya kalau ada Menteri Perdagangan, lupa saya. Karena itu kan kewenangannya Kementerian Perdagangan, ya wajar. Lupa saya, nah itu tak boleh,” kata Buwas disambut gelak tawa orang-orang di ruangan.

Baca Juga : Filipina Stop Impor Honda Beat Dari AHM

Buwas menjelaskan, beras yang terancam busuk tersebut dijual dengan harga Rp 5.000 per kilogram (kg), sedangkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras Bulog Rp 7.300, maka selisih Rp 2.300 nya harus diganti pemerintah.”Karena ini merupakan CBP maka kita ajukan selisih harga tadi, dengan harga jualnya. Itu sudah ada aturannya. Jadi bukan berarti saya meminta-minta atau mengemis-ngemis juga. Dan semua ini titik akhirnya ada di Menkeu. Kan yang bayar, uangnya, kan ada di Menkeu. Kemarin Bu Menkeu sudah bilang akan dirapatkan dan dihitung. Tadi ya hitungannya selisih kalau dijual dengan harga murah,” kata Buwas.

Namun, dalam melaksanakan lelang tersebut Buwas akan menunggu kepastian bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati siap mengganti selisih penjualan.”Nanti tunggu Bu Menkeu jika ada kebijakan bahwa negara akan membayar selisihnya. Hari ini tidak bisa apa-apa. Saya tahu Bu Menkeu sudah menyiapkan ini, hanya keputusannya belum, menunggu rakortas,” tandas dia.Menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto, sejauh ini pengajuan ekspor tak ada masalah. Bahkan, pihaknya pasti akan memudahkan pengajuan ekspor.

“Kalau ekspor kita akan mudahkan semua lah. Nggak ada masalah,” tegas Agus ketika ditemui di kantornya, Jakarta Pusat.Terkait rencana ekspor beras Bulog, ia belum melihat dokumen pengajuannya. Namun, ia memastikan ekspor tersebut akan dipermudah.”Saya rasa ekspor ini nggak ada masalah ya. mungkin saya belum lihat ada dokumennya yang masuk,” ungkapnya.Sebagai informasi, Beras renceng itu dijual dengan kemasan 200 gram. Harga asumsi per kilogram (kg) beras tersebut Rp 15.000.