China Kalahkan Komponen HP Indo

China Kalahkan Komponen HP Indo

daftarhargakomoditi.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  China Kalahkan Komponen HP Indo. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai China Kalahkan Komponen HP Indo

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, mencatat impor Indonesia pada September 2019 sebesar USD 14,26 miliar. Mayoritas impor masih disumbang oleh China sebesar USD 3,8 miliar.”Pada September komoditas utama yang kita impor dari Tiongkok adalah handphone tanpa baterai kemudian notebook,” ujarnya di Kantor BPS, Jakarta, Selasa.Menurut data BPS, selain impor handphone tanpa baterai Indonesia juga mengimpor barang-barang lain dari negara tirai bambu tersebut. Beberapa di antaranya seperti mesin pesawat mekanik, peralatan listrik, besi baja, perabotan hingga penerangan rumah.

“Untuk beberapa negara impor non-migas kita mengalami peningkatan. Impor dari China mengalami peningkatan USD 142,6 juta dari bulan Agustus ke bulan September 2019,” jelasnya.Selain China, negara lain pemasok barang impor ke Indonesia adalah Ukraina, Korea Selatan, Singapura dan Jepang. Keempat negara tersebut mengimpor serelia, transmisi, emas dan mesin pesawat mekanik.”Impor kita dari Ukraina mengalami peningkatan, dari Ukraina ini kalau kita bedah ke dalam barangnya adalah serelia dan juga mesin pesawat mekanik. Ekspor dari Korea Selatan juga mengalami peningaktan USD 140 juta. Sementara dari Jepang, beberapa transmisi dan mesin. Dari Singapura adalah emas,” katanya.

Impor September 2019 Naik 2,41 Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju impor September 2019 mencapai USD14,26 miliar. Laju impor tersebut mengalami penurunan sebesar 2,41 persen dibandingkan dengan September 2018 yang sebesar USD14,61 miliar.Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, laju impor migas di September 2019 mengalami penurunan, sebaliknya pada impor non migas mengalami peningkatan. Secara bulanan, sektor migas mengalami penurunan 2,36 persen menjadi sebesar USD1,59 miliar dari USD1,63 miliar di Agustus 2019.

Baca Juga :Sewa Kapal Asing 97 Triliun.

“Untuk impor di sektor non migas tercatat mengalami kenaikan. Dari Agustus 2019 sebesar USD12,54 miliar menjadi USD12,67 miliar di September 2019,” jelas dia.Pada komoditas non migas yang mengalami peningkatan nilai impor terbesar yakni serelia sebesar USD25,5 juta, kapal laut dan bangunan terapung USD102,8 juta, kendaraan dan bagiannya USD97,2 juta, bahan kimia organik USD27,9 juta, serta kapas USD22,1 juta.Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan nilai impor terbesar yakni gula dan kembang gula sebesar USD66 juta, kapal terbang dan bagiannya USD53,9 juta, tembaga USD47,4 juta, benda-benda dari besi dan baja USD31,9 juta, serta binatang hidup USD27,7 juta.Adapun secara sepanjang Januari-September 2019 kinerja impor Indonesia tercatat mencapai USD126,12 miliar. Realisasi ini lebih rendah 9,12 persen dari periode Januari-September 2018 yang sebesar USD126,12 miliar.

Sewa Kapal Asing 97 Triliun

Sewa Kapal Asing 97 Triliun

daftarhargakomoditi.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  Sewa Kapal Asing 97 Triliun. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Sewa Kapal Asing 97 Triliun

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brdojonegoro menyebut bahwa kerugian Indonesia akibat aktivitas ekspor dan impor menggunakan kapal asing mencapai USD 6,9 miliar atau setara dengan Rp 97,98 triliun (kurs Rp 14.200). Kerugian itu terjadi di sektor angkutan laut (see freight).

“Defisit USD 6,9 miliar berasal dari pelayanan ekpor impor memakai kapal asing,” ujar Bambang saat ditemui di Jiexpo Kemayoran, Jakarta.Dia merincikan pelayanan ekspor impor dengan kapal asing berperan 60 persen terhadap total defisit angkutan laut sebesar USD 6,9 miliar. Sedangkan sisanya meliputi pelayanan domestik dengan kapal asing 2 persen, penggunaan kapal dengan asuransi asing 11 persen dan lainnya 27 persen.“Defisit neraca jasa transportasi kita senilai USD 8,8 miliar. Nah, 80 persen itu bersumber dari sea freight yang USD 6,9 miliar tadi,” imbuh dia.Di samping itu, kerugian lain yang di dapat Indonesia jika terus menerus menggunakan kapal asing yakni tidak tercatatnya sistem devisa negara.“Jadi dia ketika kita ekspor itu kita inflow, defisa buat kita, berapa semisal. Ketika membawa barangnya ekspornya kapalnya kapal asing, langsung dicatat sebagai outflow (devisa keluar),” terang dia.

Ekspor Indonesia Turun 1,29 Persen
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2019 mencapai USD 14,10 miliar. Nilai tersebut turun 1,29 persen apabila dibandingkan dengan Agustus 2019 dan turun 5,74 persen dibanding September 2018.Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2019 mencapai USD 14,10 miliar. Nilai tersebut turun 1,29 persen apabila dibandingkan dengan Agustus 2019 dan turun 5,74 persen dibanding September 2018.
“Total nilai ekspor pada September 2019 sebesar USD 14,10 miliar. Turun 1,29 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto di Kantornya, Jakarta,.
Suhariyanto merinci, ekspor migas menyumbang sebesar USD 0,83 miliar sedangkan ekspor non migas menyumbang 13,27 miliar. Kedua komponen tersebut sama sama mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Baca Juga :Ekspor RI Kalah Sama Impor

“Dengan nilai ekspor USD 14,10 miliar, kompisisi ekspor menurut sektornya, untuk ekspor migas turun 5,17 persen secara month to month dan secara year on year turun tajam menjadi 37,13 persen,” jelasnya.

Menurut sektor, ekspor non migas menyumbang 94,11 persen dari total ekspor pada September 2019. Masing-masing sektor non migas seperti pertanian, pengolahan dan pertambangan menyumbang USD 0,36 miliar, USD 10,85 miliar dan USD 2,06 miliar.

“Sama seperti bulan-bulan sebelumnya, ekspor masih perlu terus diperhatikan,” tandas Suhariyanto.

Ekspor RI Kalah Sama Impor

Ekspor RI Kalah Sama Impor

daftarhargakomoditi.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  Ekspor RI Kalah Sama Impor. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Ekspor RI Kalah Sama Impor

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, impor tanaman pangan segar sepanjang semester I 2019 mencapai Rp 35,5 triliun. Angka tersebut masih jauh lebih miliar pada Januari-Juni 2019. Adapun secara volume, ekspor beragam komoditas tanaman tersebut mencapai 14,9 ribu ton, jauh tertinggal dibanding impor yang tercatat sebesar 8 juta ton.
Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Suwandi mengatakan pihaknya berkomitmen terus mendorong ekspor. Karena, ekspor komoditas pangan segar Indonesia telah menembus hingga 29 negara. “Ekspor beras, jagung, kacang tanah, ubi jalar, dan lainnya mencapai US$ 12 juta ke 29 negara,” kata dia .Dari 10 komoditas pangan yang diekspor, volume terbesar dicatat oleh komoditas ubi jalar (4.856 ton), kacang hijau (3.378 ton), kedelai (2.831 ton), dan talas (1.910 ton).Adapun, ekspor ditujukan untuk beberapa negara, seperti Jepang, Hongkong, Korea, Tiongkok, Thailand, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia dan Arab

Baca Juga : Holtikultura Jadi Target Ekspor Baru

Selain komoditas tadi, Kementan juga mencatat beberapa komoditas potensial yang bisa didorong untuk ekspor, contohnya beras organik, ketan hitam, beras premium, dan beras tarabas. Kemudian, kacang hijau, talas, ubi jalar, dan janggel jagung. Sedangkan untuk komoditas impor, berdasarkan catatan Kementan, impor berasal dari kelompok komoditas tanaman pangan lainnya sebesar 5,8 juta ton atau US$ 1,6 miliar. Adapun impor terbesar lain, berasal dari komoditas kedelai (1,31 juta ton), jagung (580 ribu ton), dan kacang tanah (186 ribu ton)

Impor kelompok ini berasal dari beberapa negara, beberapa seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea, Tiongkok, Thailand, hingga Malaysia. Direktur Amerika II Kementerian Luar Negeri, Darianto Harsono, menjelaskan, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama dan pemasok bahan pangan ke wilayah Amerika Selatan. Kunjungan Presiden Argentina ke Indonesia membawa angin segar di wilayah kawasan amerika lainnya, khususnya untuk produk pangan organik yang sangat diminati warga Amerika Selatan.
Kunjungan Presiden Argentina ke Indonesia membawa angin segar di wilayah kawasan amerika lainnya, khususnya untuk produk pangan organik yang sangat diminati warga Amerika Selatan. Kemenlu mendorong dan mengoptimalkan seluruh potensi untuk mendorong agar peningkatan ekspor komoditas pertanian terus meningkat. “Dalam 3 tahun terakhir data menunjukkan peningkatan yang signifikan dan ini akan kita dorong terus, dengan menampilkan produk pertanian berlabel healty,” katanya.

Holtikultura Jadi Target Ekspor Baru

Holtikultura Jadi Target Ekspor Baru

daftarhargakomoditi.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  Holtikultura Jadi Target Ekspor Baru. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Holtikultura Jadi Target Ekspor Baru.

Nilai Tukar Petani (NTP) komoditas hortikultura berada di posisi paling tinggi. Untuk itu produknya dijadikan prioritas untuk percepatan ekspor. NTP komoditas hortikultura berada di atas 100% dan nilai PDB-nya berada di urutan kedua setelah perkebunan.

“Saat ini ekspor dan investasi di bidang hortikultura menjadi prioritas. Berbicara defisit neraca perekonomian Indonesia solusinya adalah investasi atau melalui eskpor. Hal paling mendasar untuk dilakukan adalah melakukan mapping negara mana saja yang memiliki minat terhadap produk hortikultura Indonesia. Dengan demikian aspek hulu ke hilir harus melibatkan semua stakeholder,” ujar Deputi Bidang Agribisnis Kemenko Perekonomian Yuli Sri Wiranti.Hal tersebut disampaikan Yuli dalam rapat koordinasi yang digelar Ditjen Hortikultura guna menggali hambatan dalam investasi dan ekspor pertanian. Rapat koordinasi ini dihadiri oleh Deputi Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Deputi Bidang Pelayanan Penaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal serta 200 pelaku usaha.

Yuli menyatakan tanggung jawab ini tidak hanya berada di bawah Kementerian Pertanian atau Kemenko Perekonomian saja. Meskipun demikian pihaknya akan mengkoordinasikan 10 kementerian teknis guna sama-sama membuat program yang sama dalam hal mendorong ekspor.

“Dengan adanya grand design yang sedang digarap Kementerian Pertanian, perlu digarap mana komoditas yang masuk sektor lokal atau pasar ekspor. Petani akan dikoordinir, tidak lagi menggarap sendiri komoditas ekspornya karena itu akan menyulitkan. Bicara ekspor maka berbicara efisiensi skala besar. Arahan Pak Presiden sudah jelas, yakni mendorong ekspor. Ini tentunya semua bersama-sama akan bergandengan tangan mencari solusi terkait,” tambah Yuli.Menurut Yuli, beberapa hal yang paling dikeluhkan pelaku usaha yaitu terkait besarnya biaya transportasi, terutama bea kargo. Permasalahan lainnya ialah fungsi lahan di mana para petani Indonesia umumnya masih banyak yang belum memiliki lahan sendiri.

Baca Juga :Rokok Ngebul 13 T

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Yasid Taufik, pihaknya sudah menyiapkan sistem dan fasilitas yuang mendorong pengembangan iklim investasi yang baik. Mulai dari sistem perizinan terpadu melalui Online Single Submission (OSS), pengembangan investasi terintegrasi, dan pengembangan pendidikan atau pelatihan vokasi investasi.Sedangkan menurut Direktorat Deregulasi Penanaman Modal BKPM Ricky Kusmayadi, menyatakan bahwa produk hortikultura secara kualitas sudah baik. Ricky mengingatkan Kementerian Pertanian perlu membuat road map arah pengembangan hortikultura.

Contohnya buah-buahan yang masing-masing komoditas perlu membuat klaster-klaster tertentu secara seragam sehingga dapat diketahui hitungan biaya transportasinya.”Untuk masalah investasi, kami akan duduk bareng-bareng dengan Kementerian Pertanian, Kemenko, dan kementerian terkait untuk mereview besaran minimum investasi,” ujar Ricky.Adapun menurut Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto, mengharapkan hasil koordinasi ini mampu mengidentifikasi permasalahan investasi hortikultura.”Target Grand Design Hortikultura 2020-2024 adalah pengembangan buah dan sayuran dalam skala luasan besar. Dalam satu kawasan akan lahir satu jenis varietas seragam, One Village, One Variety. Dengan demikian dilakukan pengawalan benih, OPT dan kawasan yang melibatkan Bupati dan Pemda setempat,” jelas Anton.

Rokok Ngebul 13 T

Rokok Ngebul 13 T

daftarhargakomoditi.web.id Pada artikel kali ini kami akan memberikan artikel mengenai  Rokok Ngebul 13 T. Berikut ini artikel yang memberikan ulasan dan pembahasan mengenai Rokok Ngebul 13 T

Sepanjang 2018, penerimaan cukai rokok menembus hingga Rp 153 triliun atau lebih tinggi dibanding perolehan di 2017 sebesar Rp 147 triliun. Penerimaan cukai rokok pada tahun lalu, berkontribusi mencapai 95,8% terhadap cukai nasional.Untuk itu, Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada paguyuban MPS, sebagai wadah yang menaungi 38 perusahaan produsen Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan bermitra dengan PT HM Sampoerna. Mereka yang berlokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini mampu memproduksi 15 miliar batang per tahun dengan mempekerjakan karyawan lebih dari 40.000 orang.”Keberpihakan pemerintah saat ini terhadap industri SKT sangat jelas, sehingga pekerjaan (linting rokok kretek) itu ada terus dan berkelanjutan. Kita pun lihat mereka masih bertahan di tengah era industri 4.0. Karena di Indonesia, penerapan teknologi industri 4.0 berjalan secara paralel dan harmonis dengan industri yang menggunakan teknologi sebelumnya,” tutur Airlangga.

Selain itu, program kemitraan antara PT HM Sampoerna dengan SRC, sebagai wadah usaha kecil menengah (UKM) retail yang telah dibentuk di 34 provinsi meliputi 408 Kabupaten/Kota dan melibatkan lebih dari 60.000 mitra dagang, ini juga merupakan contoh program pemberdayaan UKM khususnya peritel tradisional di tingkat nasional.”Program ini menunjukkan kepedulian Sampoerna kepada UKM untuk dapat berkembang bersama- sama melalui peningkatan kapasitas dan menciptakan ekosistem komersial yang inklusif, yang pada akhirnya mewujudkan kemandirian perekonomian baik di tingkat daerah maupun nasional,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, IHT menjadi bagian sejarah bangsa dan budaya Indonesia, khususnya rokok kretek. Pasalnya, merupakan produk berbasis tembakau dan cengkeh yang menjadi warisan inovasi nenek moyang dan sudah mengakar secara turun temurun.”Ini sesuai visi dan misi Kabinet Kerja, yang mengupayakan dengan seluas-luasnya untuk memanfaatkan sumber daya dalam negeri melalui pengembangan sektor manufaktur, salah satunya industri hasil tembakau dalam skala industri kecil dan menengah (IKM) seperti MPS,” imbuhnya.Ia menilai, MPS tidak menutup kemungkinan bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan lain, walaupun saat ini baru bermitra dengan PT H M Sampoerna.

Baca Juga :Komoditas Pangan Pertanian Infrastruktur

“Kami berharap, pola kemitraan seperti ini bisa menjadi contoh dan dapat semakin ditingkatkan di masa mendatang, sehingga pembangunan industri nasional menjadi semakin andal dan tangguh di tahun-tahun yang akan datang,” ungkapnya.Lebih lanjut, terkait dengan IHT, pemerintah terus berusaha untuk membuat kebijakan yang dapat diterima oleh semua pihak. Beberapa peraturan terkait industri rokok, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

Selain itu, ada Peraturan Presiden RI No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Terbuka dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Regulasi ini ditindak lanjuti dengan Peraturan Menteri Perindustrian No.64 tahun 2014 tentang Pengawasan dan Pengendalian Usaha Industri Rokok.”Peraturan-peraturan tersebut merupakan kebijakan yang menjadi jalan tengah dalam menjamin kepastian berusaha IHT dengan tetap menjaga aspek penyerapan tenaga kerja dan menjamin aspek kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

1 2