Impor di Atas Kebutuhan Biasanya Bikin Harga Gula Petani Ambruk

Impor di Atas Kebutuhan Biasanya Bikin Harga Gula Petani Ambruk

Daftarhargakomoditi.web.id – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakin pabrik yang beroperasi di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) mampu memproduksi gula berkualitas dalam kapasitas besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro mengatakan, saat ini pabrik gula di PTPN terus menggenjot jumlah produksi agar mampu mencatatkan harga jual yang baik di pasaran.

Pabrik gula BUMN mampu melakukan pengolahan gula mentah atau raw sugar menjadi gula kristal putih. Wahyu mengatakan, beberapa pabrik gula yang kapasitas gilingnya besar sangat siap untuk mengolah raw sugar.

“Kemampuan pabrik-pabrik ini sudah dilakukan perhitungan oleh lembaga yang independen tentang kemampuan pabrik-pabrik tersebut,” ujar Wahyu

Kemampuan produksi pabrik-pabrik menjadi perhatian utama. Itu karena berkaca dari tahun lalu, harga gula petani sangatlah rendah. Menurut dia, harga lelang terbentuk jauh di bawah HPP yang diusulkan atau diharapkan petani.

Wahyu menjelaskan, saat itu pemerintah mengambil kebijakan, semua gula petani dibeli oleh Bulog dengang harga yg disepakati sebesar Rp 9.700 net. Namun, karena petani harus menerima harga tersebut dengan nominal bersih, maka Bulog harus membeli Rp 10.000 per kg yang sudah termasuk pajak.

Maka dari itulah, agar hal serupa tak terjadi tahun ini, pemerintah menyarankan agar tahun giling 2019 menggunakan sistem beli tebu petani.

“Artinya, kata dia, tidak ada lagi sistem bagi hasil gula. Ini bertujuan untuk menghilangkan dikotomi adanya gula milik petani dan gula milik pabrik,” ujar dia.

Baca Juga : Palestina Minta RI Bebaskan Lebih Banyak Komoditi dari Bea Masuk

Impor Gula Mentah

Wahyu mengatakan, dugaan sementara mengindikasikan harga gula tani yang rendah juga terjadi karena adanya permainan dalam impor gula mentah. Kebijakan impor ini sendiri di luar kewenangan Kementerian BUMN. Menurut Wahyu, diduga jumlah raw sugar impor untuk dunia industri melebihi kebutuhan yang sesungguhnya.

“Sehingga gula untuk industri tersebut merembes ke pasar gula konsumsi, ketika menjadi gula rumah tangga, harganya pun sulit disaingi oleh gula dengan bahan baku dari petani,” ujar dia.

Wahyu menjelaskan, untuk menghindari hal serupa terjadi, BUMN juga sebenarnya bisa saja terlibat dalam melakukan impor gula mentah. Dia mengatakan, jika ijin impor diberikan maka BUMN baru boleh bergerak.

“Kami tidak bisa impor kalau tidak dapat izin kuota impor. Adapun izin ini direkomendasikan oleh Kementerian Perdagangan, lalu putusan impornya ada di Kemenko Perekonomian. Jika mereka izinnya impor, maka boleh impor,” ujar dia.

Keperluan Gula Mentah

Direktur Utama PTPN III Holding Dolly Pulungan mengungkapkan, gula mentah yang diperlukan untuk memenuhi masa giling 2019 mencapai 525 ribu ton. Dolly menyebutkan, PTPN III akan mengikuti instruksi pemerintah dalam penggunaan gula mentah yang dibutuhkan. Menurut dia, untuk mengisi margin yang masih kosong, gula mentah lokal ataupun impor bukan masalah.

“Itu nanti akan ditentukan oleh pak Menteri Perdagangan, kami siap saja karena yang penting produksi gula kami tetap bisa ikut menjaga harga gula stabil di pasaran dan juga PTPN III bisa mendapatkan keuntungan untuk melanjutkan produksi gula,” kata dia.

Palestina Minta RI Bebaskan Lebih Banyak Komoditi dari Bea Masuk

Palestina Minta RI Bebaskan Lebih Banyak Komoditi dari Bea Masuk

Daftarhargakomoditi.web.id – Palestina kembali meminta Indonesia untuk membebaskan 61 komoditi ekspornya dari bea masuk. Hal itu disampaikan Moga Simatupang, Sekretaris Direktorat Jenderal Negosiasi Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan Indonesia.

Di antara ke-61 produk yang dimohon Palestina untuk dibebaskan bea ekspor adalah mur, baut, dan sabun.

Moga mengatakan, saat ini telah ada dua komoditi Palestina yang dibebaskan penuh dari tarif, yakni kurma dan zaitun.

“Kementerian perdagangan telah menerima permohonan tersebut, tapi kita perlu melakukan preferential trade agreement tidak seperti yang sebelumnya kita lakukan dengan MoU,” kata Moga Simatupang di Hotel Borobudur, Jakarta,

“Selain produk mereka bisa masuk 0 persen, kita berharap ada penurunan tarif produk kita ke sana,” lanjutnya.

Saat ini, nilai jual-beli Indonesia dengan Palestina telah mencapai US$ 3,5 juta, menurut data dari BPS. Indonesia mengekspor US$ 2,8 juta sementara impor RI dari Palestina baru US$ 717.000. Dengan demikian Jakarta masih surplus dari Ramallah.

Adapun komoditas Indonesia yang dibeli Palestina di antaranya adalah kopi, roti, peralatan toko roti, piring, kayu, dan karet vulkanisir.

Baca Juga : Kemarau Panjang Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 110 Ribu per Kg

Jajaki Kerja Sama Perdagangan yang Lebih Luas

Untuk meningkatkan nilai perdagangan bilateral, Kedutaan Besar Palestina di Jakarta mengadakan workshop bertajuk Export Led Prosperity Made in Palestine yang digelar Kamis, Kegiatan itu bermanfaat untuk membuka wawasan para pemangku bisnis dan kebijakan di Indonesia terhadap berbagai dimensi perekonomian yang ada di Palestina.

“Kami bertujuan untuk bisa memperkuat perekonomian kedua negara, Palestina dan Indonesia, sehingga kita bisa bersama-sama dalam mengembangkan perekonomian yang ada,” kata Duta Besar Palestina Zuhair Al Shun dalam sambutan lokakarya.

“Saya mengundang Bapak dan Ibu sekalian untuk datang ke Palestina, sehingga dapat menyaksikan langsung bagaimana potensi-potensi perekonomian yang ada di Palestina,” lanjutnya.

Dalam seminar ini hadir sejumlah delegasi misi dagang Ramallah, di antaranya adalah Jawad Al Muty yang mewakili Kementerian Perekonomian Nasional Palestina, perwakilan Palestine Trade Center (Paltrade), Ola Hammouda dari Palestine Investment Promotion Agency, serta Hammad Sadeq dari Palestinian Industrial Free Zones.

Dalam lokakarya ini, Palestina berharap aktor bisnis Indonesia dapat mengidentifikasi secara detail produk apa saja yang mereka anggap berpotensi bagus dalam perdagangan.

Selain perwakilan sejumlah perusahaan, dalam acara ini hadir pula JICA dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Kemarau Panjang Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 110 Ribu per Kg

Kemarau Panjang Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 110 Ribu per Kg

Daftarhargakomoditi.web.id – Musim kemarau berkepanjangan rupanya turut mendongkrak harga berbagai macam komoditas sayuran di pasar tradisional. Khususnya untuk cabai, harganya kini melambung sampai di atas Rp 110 ribu per kg. lagi dan lagi harga cabai kembali melambung naik sehingga membuat para pedagang sayur dipasar setempat cukup kesulitan untuk mendapatkan keuntungan.sudah berminggu minggu namun harga cabai tak kunjung turun juga. Akankah harga cabai kembali normal seperti semula ?

Seperti yang diungkapkan Nur (59 tahun), seorang pedagang sayuran di Pasar Kwitang Dalam, Jakarta Pusat. Dia menceritakan, harga cabai rawit merah saat ini dijualnya Rp 110 ribu per kg sejak sekitar 4 hari lalu.

“Cabai rawit (merah) sekarang dapatnya dari pemasok Rp 105 ribu (per kg), dijual Rp 110 ribu (per kg). Saya cuman dapat (untung) Rp 5 ribu perak. Udah ada 4 hari harganya segini,” terang dia

“Biasanya paling mahal Rp 70 ribu (per kg). Tapi pernah Rp 125 ribu harganya, sekitar 5 bulan lalu. Ini semua gara-gara musim kemarau,” dia menambahkan.

Sama seperti cabai rawit merah, komoditas cabai lainnya seperti cabai merah keriting dan rawit hijau juga harganya terus melambung sejak beberapa hari terakhir.

“Cabai merah keriting Rp 80 ribu (per kg). Udah sekitar dua minggu, biasanya Rp 60-70 ribu (per kg). Kalau cabai rawit hijau dapatnya (dari pemasok) Rp 80 ribu (per kg), dijual Rp 85 ribu (per kg),” papar Nur.

Baca Juga : Jelang Akhir Pekan Harga Daging Ayam Naik

Harga Dari Pemasok

Cerita serupa ikut dilontarkan seorang pedagang lain di pasar yang sama, Toyyibah (44 tahun). Meski secara harga jual sedikit dibawah Nur, namun sang pedagang tetap mengeluhkan harga cabai yang belum terkontrol.

“Cabai rawit merah sekarang dapatnya (dari pemasok) Rp 75 ribu per kg. Jualnya Rp 80 ribu per kg. Masih naik, masih tinggi,” ujar Toyyibah.

“Kalau cabai merah keriting jualnya Rp 70 ribu per kg, dapat dari sononya Rp 65 ribu. Kemarin malah sempat dapatnya Rp 80 ribu (per kg). Rawit hijau (harga jualnya) Rp 80 ribu (per kg). Pada tinggi semua sekarang harga cabai,” pungkasnya.

Jelang Akhir Pekan Harga Daging Ayam Naik

Jelang Akhir Pekan Harga Daging Ayam Naik

Daftarhargakomoditi.web.id – Memasuki akhir pekan, harga daging ayam terpantau naik di pasar tradisional Pondok Gede, Bekasi. Hal ini dirasakan oleh para pedagang di pasar tersebut salah satunya, Tardi (50). Harga daging ayam itu kerap membauat Tardi dan pedagang pedagang lain kesulitan karena naik nya harga tak kunjung selesai.

Tardi mengaku saat ini menjual harga daging ayam yang berukuran besar mencapai Rp 50 ribu per ekor. Padahal sebelumnya, hanya dijual Rp 45 ribu per ekor.

Sementara untuk ayam yang berukuran sedang yang mulanya hanya Rp 30 ribu per ekor menjadi Rp 35 per ekor. Sedangkan, untuk daging ayam yang berukuran kecil menjadi Rp 30 ribu per ekor dari yang sebelumnya hanya Rp 28 ribu per ekor.

Pedagang Ayam Lainnya Turut Keluhkan Hal yang Sama

Senada dengan Tardi, pedagang ayam lain di pasar yang sama bernama Nur (54) mengatakan melonjaknya harga daging ayam ini naik akibat dari harga ayam hidup per ekornya yang juga turut naik sejak lima hari lalu.

“Sekarang harga per ekor ayam hidupnya itu Rp 26 ribu per kg, sebelumnya Rp 21 ribu per kg,” ujar Nur.

Nur juga menambahkan ketidak stabilan harga ayam ini sering terjadi, bahkan menurutnya harga ayam naik cenderung lebih lama dibandingkan saat harganya turun.

“Iya ini paling nanti naik Rp 5 ribu selama seminggu atau duaminggu, nanti turun tuh dua hari tapi cuma Rp 500 terus nanti naik lagi deh berapa ribu,” tuturnya.

Baca Juga : Harga Sayur Mahal Keuntungan Pedagang Menipis

Harga Telur dan Daging Sapi Turun

Berbeda dengan ayam, harga telur ayam dalam negeri justru mengalami penurunan. Ipin (45), seorang pedagang telur di pasar Pondok Gede mengatakan bahwa telur ayam dalam negeri turun harga Rp 1.000 sejak sepekan ini.

“Turun nih mba sekarang jadi Rp 23 ribu per kg. Sudah tujuh hari turunnya. Tadinya kan Rp 24 ribu per kg,” kata Ipin.

Sedangkan untuk harga daging sapi saat ini terpantau masih normal dikisaran Rp 110 ribu per kg. Kata Ipin saat itu.

Harga Sayur Mahal Keuntungan Pedagang Menipis

Harga Sayur Mahal Keuntungan Pedagang Menipis

Daftarhargakomoditi.web.id – Masuk akhir pekan, harga beberapa komoditas sayuran di pasar tradisional terpantau tinggi. Hal itu membuat para pedagang hanya sedikit mengambil untung yaitu di kisaran Rp 1.000-2.000 saja. keuntungan yang didapat relatif kecil sehingga membuat para pedagang kesulitan, dan jika ingin mendapatkan keuntungan sedikit lebih besar maka kemungkinan sayur sayuran yang ia jual tidak akan laku.

Nur (59 tahun), salah seorang pedagang di Pasar Kwitang Dalam, Jakarta Pusat, mengatakan, pihak pemasok telah mematok harga tinggi untuk beberapa komoditas seperti oyong, terong dan pare.

“Seperti oyong dan terong. Dapatnya (dari pemasok) Rp 13 ribu (per kg), jualnya Rp 14 ribu (per kg). Pare juga. Dapat Rp 13 ribu (per kg), jual Rp 14 ribu (per kg). Cuman seribu perak (untungnya),” keluh Nur

Hal senada turut disuarakan oleh Toyyibah (44 tahun), pedagang sayurandi pasar yang sama. Meski bisa mendapat harga beli yang sedikit lebih rendah, ia tetap memasang harga jual pada kisaran Rp 14 ribu per kg.

“Sayuran kayak timun naik juga. Dari sana (pemasok) dapatnya Rp 12 ribu per kg, jualnya Rp 14 ribu. Terong dan pare juga sama. Dapat Rp 12 ribu per kg, jual Rp 14 ribu,” jelas dia.

Baca Juga : Perdagangan Sepi Harga Emas Turun Tipis

Harga Bawang Terkendali

Di sisi lain, lonjakan harga tak diikuti oleh komoditas bawang yang masih terkendali. Nur menyampaikan, harga bawang merah dan bawang putih kini masih terhitung murah.

“Kalau bawang murah. Bawang merah dari sononya (pemasok) dapat Rp 30 ribu (per kg), dijual Rp 32 ribu (per kg). Kalau bawang putih (bulat) jualnya Rp 35 ribu (per kg), yang cutting Rp 40 ribu (per kg),” paparnya.

Sementara Toyyibah menuturkan, harga bawang merah dan bawang putih yang diperdagangkannya masih standar, yakni pada kisaran Rp 30-40 ribu per kg.

“Untuk bawang merah dapatnya Rp 25 ribu per kg, jualnya Rp 30 ribu. Turun sih enggak, standar aja. Kalau bawang putih bulat dapat Rp 25 ribu per kg jual Rp 30 ribu. Cutting dapatnya Rp 35 ribu per kg, jual Rp 40 ribu,” tuturnya.

Perdagangan Sepi Harga Emas Turun Tipis

Perdagangan Sepi Harga Emas Turun Tipis

Daftarhargakomoditi.web.id – Harga emas turun pada perdagangan Kamis karena investor mengunci keuntungan sebelum keluarnya data pendapatan non-pertanian AS. Selain itu, reli di pasar saham juga menghentikan penguatan harga emas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

harga emas di pasar spot turun 0,3 persen ke level USD 1.414,95 per ounce. Sedangkan harga emas berjangka AS turun 0,2 persen ke level USD 1.417,70 per ounce.

“Investor sudah sangat lama memegang emas, tetapi masih belum terdorong ke level tertinggi yang baru,” kata analis ABN AMRO Georgette Boele.

“Sebenarnya saat ini investor tengah merindukan berita yang sangat positif untuk mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi,” tambah dia.

Dengan bursa saham AS ditutup karena libur tanggal merah, pasar emas menjadi kurang cair dan investor lebih fokus kepada data penghasilan non-pertanian di AS. Data tersebut akan menjadi indikator penentuan penurunan suku bunga Bank Sentral AS pada pertemuan Juli nanti.

Ekonom memperkirakan pendapatan non-pertanian meningkat 160 ribu pada Juni dibandingkan dengan 75 ribu pada Mei.

Di sisi teknis, harga emas di pasar spot menguji level resistance di USD 1.435 per ounce, yang mengarah ke kenaikan di kisaran USD 1.443 – USD 1.456.

Baca Juga : Perang Dagang Bikin Harta Orang Kaya di Dunia Hilang Hingga 28 Triliun

Perdagangan Sebelumnya

Harga emas stabil didorong reli bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street. Hal ini membuat data tarik komoditas logam berkurang.

Sementara itu, kekhawatiran pertumbuhan global dan prospek kebijakan moneter yang dovishterus mendukung harga emas.

Harga emas di pasar spot stabil di posisi USD 1.416,98 per ounce pada pukul 1.33 PM EDT (17.33 GMT). Sebelumnya harga emas sentuh posisi USD 1.435,99 yang merupakan level tertinggi sejak 25 Juni. Harga emas berjangka AS naik satu persen ke posisi USD 1.420,90 per ounce.

Bursa saham AS menguat dengan masing-masing indeks saham menguat ke posisi tertinggi. Hal ini seiring harapan tumbuh kalau the Federal Reserve atau bank sentral AS lebih lembut karena serangkaian data memberikan lebih banyak bukti perlambatan ekonomi.

Harga emas berbalik arah setelah bursa saham AS dibuka, tetapi kemudian stabil. “Harga emas memiliki kinerja cukup kuat dalam dua hari terakhir dan penurunan ini hanya ikuti arus,” ujar Analis TD Securities, Daniel Ghali, seperti dikutip dari laman Reuters,

Perang Dagang Bikin Harta Orang Kaya di Dunia Hilang Hingga 28 Triliun

Perang Dagang Bikin Harta Orang Kaya di Dunia Hilang Hingga 28 Triliun

Daftarhargakomoditi.web.id – Pertama kali dalam tujuh tahun, kekayaan para miliarder di seluruh dunia turun hingga USD 2 triliun atau Rp 28.298 triliun (USD 1 = Rp 14.149). Ini tak terlepas dari dampak perang dagang yang terjadi para tahun lalu.

Data berasal dari World Wealth Report 2019 yang dirilis Capgemini. Dalam laporan itu, para miliarder atau disebut high-net-work-individual (HNWI) atau individual dengan kekayaan tinggi. Turut dijelaskan bahwa orang terkaya di Asia Pasifik kena dampak penurunan kekayaan yang terparah.

“Di tengah turunnya kekayaan global yang signifikan, para HNWI di wilayah Asia Pasifik dan Eropa adalah yang paling terdampak karena pasar yang menurun dan melambatnya pertumbuhan ekonomi (terutama di Asia Pasifik). Asia Pasifik memikul setengah dari USD 2 triliun menurunnya kekayaan global, sementara Eropa memikul satu-seperempat penurunan global,” ujar Anirban Bose, Financial Strategic Business Unit CEO & Group Executive Board Member dari Capgemini.

China terkena dampak penurunan kekayaan yang besar, yakni setara 25 persen dari total global. Populasi HNWI alias orang terkaya di China juga merosot dari 1,2 juta pada 2017, menjadi 1,1 juta orang pada 2018.

Jumlah populasi orang terkaya di Jepang dan Korea Selatan juga menurun. Pada tahun 2017, dua negara itu masing-masing memiliki 3,16 juta dan 243 ribu populasi HNWI, tahun 2018 mereka hanya punya 3,15 juta dan 235 ribu.

Sementara, Indonesia mengalami kenaikkan, yakni pada 2017 memiliki 124 ribu orang terkaya, dan tahun 2018 terdapat 129 ribu orang.

Penurunan kekayaan didominasi oleh para Ultra-HNWI mereka yang memiliki kekayaan di atas USD 30 juta (Rp 424.4 miliar).

“Kebanyakan penurunan kekayaan HNWI global berasl dari segmen orang yang lebih kayak, para Ultra-HNWI mengemban 75 persen penurunan, dan miliarder tingkat menengah memikul 20 persen penurunan kekayaan global,” jelas Bose.

Baca Juga : Neraca Dagang Surplus USD 200 Juta Ini Kata Sri Mulyani

Klasifikasi Kekayaan HNWI

Dalam laporan ini, para orang terkaya dibagi menjadi tiga klasifikasi, yakni:

(USD 1 = Rp 14.116)

1. Ultra-HNWI dengan kekayaan di atas USD 30 juta (Rp 423 miliar)

2. Mid-Tier Millionaires dengan kekayaan antara USD 5 juta – USD 30 juta (Rp 7 miliar – Rp 423 miliar)

3. Millionaires Next Door dengan kekayaan USD 1 juta – USD 5 juta (Rp 14,1 miliar – Rp 70 miliar)

Orang kaya versi World Wealth Report adalah yang memiliki kekayaan di atas USD 1 juta (Rp 14,1 miliar). Yang dihitung adalah harta yang bisa diinvestasikan (investable asset) seperti seperti uang, tabungan, dan saham.

World Wealth Report 2019 juga ragu ekonomi dunia akan bisa kembali stabil di tengah perang dagang dan beragam masalah geopolitik lain seperti Brexit dan krisis Venezuela. Akibatnya, investasi pun diprediksi akan melambat.

10 Negara dengan Orang Kaya Terbanyak

Daftar negara dengan populasi orang terkaya atau HNWI terbanyak:

1. AS: 5,3 juta orang

2. Jepang: 3,1 juta orang

3. Jerman: 1,3 juta orang

4. China: 1,1 juta orang

5. Prancis: 635 ribu orang

6. Britania Raya: 556 ribu orang

7. Swiss: 384 ribu orang

8: Kanada: 362 ribu orang

9: Italia: 275 ribu orang

10. Australia: 266 ribu orang

neraca-dagang-surplus-usd-200-juta-ini-kata-sri-mulyani

Neraca Dagang Surplus USD 200 Juta Ini Kata Sri Mulyani

Daftarhargakomoditi.web.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2019 mengalami surplus sebesar USD 0,2 miliar atau USD 200 juta. Realisasi surplus ini tipis dibandingkan dengan posisi Mei 2019 yang tercatat sebesar USD 0,21 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya akan terus memperhatikan perkembangan ekspor impor yang memberi dampak pada neraca dagang. Pemerintah akan melihat bagaimana dampak surplus bulan lalu, terhadap posisi neraca dagang secara tahunan.

“Kita lihat nanti keseluruhan tahun saja ya, tiap tahun kan kita lihat ada yang sifatnya berpengaruh dari musiman ada juga yang sifatnya adalah tren,” ujar Sri Mulyani di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta

Sri Mulyani mengatakan, saat ini Presiden Joko Widodo meminta seluruh menteri kabinet kerja agar bersama-sama menurunkan defisit neraca dagang. Artinya, pemerintah menyadari masih ada pekerjaan besar dalam hal menggenjot kinerja ekspor.

“Yang paling penting Presiden tetap meminta kepada setiap menteri bersungguh-sungguh dalam menangani masalah neraca perdagangan ini. Artinya ekspor harus terus digenjot, dan seluruh policy kita di kementerian lembaga, kebijakan-kebijakan di semua kementerian lembaga,” jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menambahkan, pihaknya sebagai bendahara negara dan pembuat kebijakan fiskal akan terus berupaya menciptakan iklim positif bagi industri dalam negeri.

“Bagi kami di Kementerian Keuangan berarti kita bicara tentang perpajakan, pajak, bea cukai dan peraturan peraturan lain yang mungkin mempengaruhi kinerja ekspor. Kita akan terus menerus bekerja sama dengan instansi lain dalam mendukung ekspor dan menciptakan industri dalam negeri yang lebih kuat,” tandas Sri Mulyani.

Baca Juga : Neraca Dagang Surplus Menko Darmin Tetap Waspadai Impor Migas

Ketegangan Perang Dagang Mereda, Defisit Dagang RI Bakal Tembus USD 10 Miliar

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menganggap, ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang mereda tak akan banyak berdampak bagi Indonesia.

Sebaliknya, defisit perdagangan Indonesia justru akan semakin melebar hingga USD 10 miliar.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira mengatakan, perang dagang AS-China masih berisiko mengalami eksalasi di tengah upaya Presiden Donald Trump memainkan strategi politiknya jelang Pilpres AS 2020.

Posisi China yang masih bertahan juga disebutnya menyulitkan Negeri Paman Sam untuk menghasilkan kesepakatan yang win-win solution.

“Dampaknya kinerja ekspor Indonesia masih akan tertekan sampai akhir tahun. Defisit perdagangan diperkirakan menembus USD 10 miliar. Lebih tinggi dari tahun 2018 lalu di USD 8,5 miliar,”

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan RI pada Mei 2019 mengalami surplus hingga USD 210 juta. Akan tetapi, Bhima menuturkan pencapaian itu hanya bersifat temporer.

“Surplus kemarin cuma temporer, lebih disebabkan anjloknya impor bahan baku dan barang modal karena industri mengurangi kapasitas produksi. Jadi kecil kemungkinan akan surplus lagi,” ujar dia.

Dia pun menuturkan, pokok masalah utama saat ini adalah bea tarif masuk. Dalam hal ini, Trump menyatakan masih ada potensi AS untuk tetap melanjutkan kenaikan bea masuk dan pajak yang jumlahnya mencapai USD 350 miliar.

“Selama tarif bea masuk belum diturunkan signifikan, permintaan bahan baku dan komoditas dari Indonesia untuk manufaktur AS dan China akan menurun,” tegas dia.

Menurut dia, kunci bertahan di era perang dagang adalah membuat insentif pajak dan non-pajak bagi industri yang mau lakukan relokasi atau peningkatan basis produksi di indonesia.

“Contohnya ekspor tekstil dan pakaian jadi justru meningkat ordernya. Pemerintah tinggal melakukan pemetaan industri apa yang potensial dan jemput bola tawarkan insentif. Jangan terlambat karena Vietnam sudah gencar jemput bola ke perusahaan yang berbasis di China,” imbuhnya.

“Bagi sektor yang terkena imbas negatif misalnya komoditas sawit, karet, batu bara, perlu didorong serapan domestiknya. Program B20 bisa dipercepat implementasinya dengan gandeng PLN untuk bahan bakar pembangkit tenaga diesel,” dia menandaskan.

Neraca Dagang Surplus Menko Darmin Tetap Waspadai Impor Migas

Neraca Dagang Surplus Menko Darmin Tetap Waspadai Impor Migas

Daftarhargakomoditi.web.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2019 surplus USD 0,2 miliar. Meski realisasi surplus ini turun tipis dibandingkan dengan posisi Mei 2019 yang tercatat sebesar USD 0,21 miliar, namun ini menjadi catatan positif setelah pada April 2019 mengalami defisit terdalam sebesar USD 2,5 miliar.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, meski pada Juni 2019 mengalami surplus namun tetap perlu waspada terhadap sektor migas. Sebab neraca perdagangan sangat dipengaruhi pada tingkat ekspor-impor di sektor migas.

“Benar-benar urusan di migas, Itu kan bulan Maret atau April lalu bener-bener urusan migas dan yang sebenarnya buat neraca dagang positif atau negatif banyak sekali dipengaruhi migas,” ujarnya saat ditemui di Kantornya, Jakarta,

Berdasarkan data BPS, pada Juni 2019 sektor migas mengalami defisit sebesar USD 966,8 juta. Defisit migas terdiri dari nilai minyak mentah yang mengalami defisit USD 263,8 juta dan hasil minyak defisit USD 933,4 juta. Namun pada gas tercatat surplus USD 230,4 juta.

Kendati begitu, Mantan Direktur Jenderal Pajak tersebut optimistis neraca perdagangan Indonesia kedepannya bisa berlanjut surplus, di tengah kondisi perekonomian global yang masih bermasalah. “Memang ekonomi dunia perdagangan sedang masalah. Walaupun tidak banyak itu menunjukkan tedensi makin berlanjut dan akan surplus,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala BPS mengatakan laju ekspor dan impor pada Mei 2019 memang mengalami penurunan. Meski demikian, nilai kinerja ekspor jauh lebih tinggi. Hal ini membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus.

Di mana, nilai impor sebesar USD 14,53 miliar atau turun 5,62 persen dari bulan sebelumnya. Sedangkan, ekspor tercatat sebesar USD 14,74 miliar atau naik sebesar 12,42 persen dari bulan April 2019.

“Setidaknya ini masih bagus dibandingkan defisit, meskipun dalam posisi ideal dengan menggenjot ekspor dan mengendalikan impor,” katanya.

Baca Juga : Harga Naik Omzet Pedagang Daging Sapi Turun

Impor Indonesia Turun 20,70 Persen pada Juni 2019

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju impor Indonesia pada Juni 2019 mencapai USD 11,58 miliar. Angka ini turun 20,70 persen bila dibandingkan dengan Mei 2019 yang tercatat USD 14,61 miliar.

Sementara apabila dibandingkan dengan realisasi impor pada Juni 2018 justru mengalami kenaikan sebesar 2,80 persen. Setahun lalu, total impor Indoensia di angka USD 11,27 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, penurunan impor pada Juni 2019 ini didorong karena penurunan impor pada migas maupun nonmigas. Masa cuti dan libur bersama Lebaran 2019 menjadi alasan penurunan impor tersebut karena perdagangan libur.

“Cuti panjang yang selama 9 hari di Juni 2019 itu sangat berpengaruh terhadap laju imporIndonesia,” ujar Suhariyanto saat memberi keterangan pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta,

Impor sektor migas turun 21,50 persen. yakni dari USD 2,18 miliar pada Mei 2019 menjadi USD 1,71 miliar pada Juni 2019. Lalu impor nonmigas turun 20,55 persen dari USD 12,42 miliar pada Mei 2019 menjadi USD 9,87 miliar di Juni 2019.

Pria yang akrab disapa Kecuk tersebut menyatakan, pada komoditas nonmigas yang mengalami penurunan impor terendah adalah plastik dan barang dari plastik USD 131,8 juta, ampas atau sisa industri makanan USD 166,7 juta, besi dan baja USD 213 juta, mesin dan peralatan listrik USD 376,8 juta, mesin-mesin atau pesawat mekanik USD 399,6 juta.

Sedangkan komoditas yang mengalami peningkatan impor tertinggi yakni alumunium USD 143,2 juta, perhiasan atau lermata USD 232,6 juta, gula dan kembang gula USD 16,7 juta, kain rajutan USD 13,5 juta, serta kendaraan bermotor atau komponen, terbongkar USD 10,3 juta.

Harga Naik Omzet Pedagang Daging Sapi Turun

Harga Naik Omzet Pedagang Daging Sapi Turun

Daftarhargakomoditi.web.id – harga daging sapi dan ayam di pasar tradisional seperti di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, terus menukik naik. Melambungnya harga jual bertolak belakang dengan sisi penjualan yang justru semakin berkurang.

“Naik terus harga daging, tapi jualannya memble,” ujar Albar (45), salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta,

Menurut kesaksian Albar, kenaikan harga daging sapi sudah terjadi sejak dari kandangnya. Dia mengaku harus mengeluarkan modal sebesar Rp 108 ribu untuk satu kg daging sapi dari pihak penyetor, untuk selanjutnya ia jual di angka Rp 110 ribu per kg.

Daging Ayam Juga Naik

Lonjakan serupa juga turut disuarakan pedagang daging ayam di pasar yang sama. Zulaika (43) mengatakan, daging ayam filet yang ditawarkannya kini telah naik jadi Rp 50 ribu per kg sejak dua hari lalu.

“Daging ayam potong atau filet Ini Rp 50 ribu. Sebelumnya Rp 45 ribu. Baru dua hari ini segitu,” tutur dia kepada Liputan6.com.

Untungnya, melambungnya harga daging ayam potong tak turut diikuti oleh sisi tubuh ayam lainnya yang biasa dikonsumsi. Zulaika menyatakan, bagian tubuh seperti jeroan dan ceker ayam masih dijualnya di harga normal.

“Jeroan Rp 24 ribu (per kg). Dijual ngikutin harga pasar aja, enggak naik enggak turun. Kalau ceker Rp 30 ribu per kg. Standar,” tukas dia.

Baca Juga : Pengembang Ini Tawarkan Rumah Seharga Rp 200 Juta

Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu per Kg

Pedagang sayur di pasar tradisional terus mengeluhkan harga komoditas cabai yang melambung sejak lepas Lebaran Idul Fitri 2019 kemarin. Seperti yang terjadi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, di mana tingginya harga modal kini membuat harga jual cabai mencapai angka Rp 100 ribu per kg.

“Cabai lagi naik. Sudah Rp 80 ribu (per kg) sekarang harga modalnya, dijual Rp 100 ribu (per kg),” keluh Uus (50), salah seorang pedagang di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta,

Uus mengatakan, ketetapan harga tersebut sudah terjadi sejak sekitar satu pekan terakhir. Nominal harga itu berlaku bagi seluruh produk cabai yang dijualnya, yakni cabai rawit merah, cabai rawit hijau dan cabai merah keriting.

Selain Uus, seorang pedagang lain di pasar serupa yakni Surati (50) juga melontarkan argumen serupa terkait harga cabai. Bedanya, ia menawarkan barang seperti cabai rawit merah dengan harga lebih rendah.

“Cabai rawit merah jualnya Rp 80 ribu (per kg), modalnya Rp 70 ribu (per kg). Sudah lama ini (kenaikan harganya), abis lebaran naik terus. Biasanya normalnya ini Rp 40 ribu (per kg),” jelas dia.

Sementara untuk komoditas cabai lain yakni cabai merah keriting dan rawit hijau, Surati menjualnya sama rata di angka Rp 70 ribu per kg.

Di samping produk cabai, sayuran lain yang harga jualnya menekan pun yakni timun, kentang, dan terong. Untuk timun dan kentang, Uus melaporkan, harganya kini Rp 18 ribu per kg, naik dari harga normal yang kisaran Rp 10-12 ribu per kg.

1 2 3