Selama Ramadan Kemarin Harga Pasar Normal

Selama Ramadan Kemarin Harga Pasar Normal

Daftarhargakomoditi.web.id – Selama Ramadan harga pangan di pasar tetap normal Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menjelaskan jika tahun ini tidak ada kenaikan yang kian melonjak tinggi masi teratasi kenormalan harga pangan di pasar di tahun ini. Pedanganag mengatakan, bahwa kenaikan harga bahan makanan masih terjadi sebelum lebaran. Namun kenaikannya masih dalam batas rasional.

“Dalam kondisi Ramadan dan menjelang Lebaran, distribusi menjadi kunci. Banyak yang mau lebaran di kampung, kemudian para pedagang juga banyak mudik. Pasti efeknya ke harga-harga yang kemudian naik. Ada semacam ongkos Lebaran yang harus dibebankan ke konsumen,” ujar dia di Jakarta,

Tulus menilai, upaya pemerintah dalam menjaga kestabilan harga pangan saat Ramadan dan Lebaran sudah cukup baik, meski belum maksimal. Ke depan, pemerintah harus terus mendorong produksi pangan dan meningkatkan efektivitas distribusi agar produk pangan hasil petani bisa sampai ke tangan konsumen dengan harga yang terjangkau.

“Demi mengendalikan harga saat Ramadan dan Idul Fitri pemerintah ke depannya harus menata jalur distribusi,” kata dia.

Baca juga : Harga Bawang Di pastikan 35 Ribu Oleh Kemendag

Daya Beli
Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijana. Dari kunjungannya ke daerah selama Ramadan dan jelamg Lebaran lalu, harga pangan cenderung stabil. Namun, Azam menyayangkan daya beli masyarakat yang dinilai lebih rendah dibandingkan saat Ramadan dan hari raya Idul Fitri 2018. Meski demikian, lanjut dia, kestabilan harga pangan ini secara tak langsung berpengaruh dengan stabilitas politik Indonesia. Stabilitas harga pangan ini bisa sedikit meredam gejolak politik, khususnya di daerah, pasca pengumuman pemenang Pemilu oleh KPU pada 21 Mei 2019 lalu.

“Sebab, stabilitas pangan goyang. maka akan menaikkan eskalasi politik. Tapi buktinya tidak, masyarakat tenang,” tandas dia.

Harga Bawang Di pastikan 35 Ribu Oleh Kemendag

Harga Bawang Di pastikan 35 Ribu Oleh Kemendag

Daftarhargakomoditi.web.idHarga bawang di pastikan akan tetap di 35 ribu di pasar modren dan akan diusahakan untuk menurunkan jika memungkinkan agar konsumen bisa lebih menikmati berbelanja dalam pasar modren ujar, Kementrian dagang.

“Di retail modern harus menjual Rp 35 ribu per kilo jadi siapapun itu retail modernnya,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahja Widayanti dalam kunjungannya ke Giant Ekstra Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat, 10 Mei 2019.

Impor bawang putih sebelumnya dilakukan pemerintah lantaran harga bawang putih di pasaran mencapai Rp 80 hingga Rp 100 ribu. Sebelum adanya impor, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian mencoba melakukan operasi pasar dan harga bisa diturunkan hingga kisaran Rp 60 ribu per kilo.

Tjahja melanjutkan, setidaknya 500 ton bawang putih impor digelontorkan khusus untuk retail modern. Besaran yang sama juga akan digelontorkan pada Juni mendatang, atau saat momentum lebaran. “Nanti kalau itu kurang, bisa ditambah lagi,” kata dia.

Store Manager Giant Bintaro, Tri Luthfi, mengatakan harga bawang putih sebelumnya dijual seharga Rp 50 ribuan. Dengan adanya stok bawang putih impor yang baru masuk ke toko mereka, maka harganya dijual Rp 35 ribu per kilogram. “Ini berlaku di semua store Giant,’ ujarnya.

Baca juga : Kota Madiun Harga Bawang Putih Turun

Selain di retail modern, Kemendag juga telah menggelontorkan bawang putih impor ke pasar-pasar tradisional. Namun dari pantauan, harga belum bergerak turun terlalu jauh. Dari laman hargapangan.id, harga bawang putih sedang masih dijual di kisaran Rp 57.650 per kilo.

Tjahja mengatakan memang masih ada pedagang yang menyimpan beberapa barang dengan perolehan harga lama, yang masih tinggi. “Kami tolerir sedikit buat mereka, tetapi setelah itu dia harus jual Rp 32 ribu di pasar rakyat,” ujarnya.

Kota Madiun Harga Bawang Putih Turun

Kota Madiun Harga Bawang Putih Turun

Daftarhargakomoditi.web.id – Kota Madiun harga bawang putih sudah mulai turun dan tidak bertahan lagi seperti waktu remadan yang dulunya Rp 50.000. Berikut ini Daftarhargakomoditi.web.id akan memberikan ulasannya dibawah ini.

“Hari ini sudah Rp 34 ribu,” kata Jayem salah seorang pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Mejayan Baru, Jumat, 10 Mei 2019.

Ia memperkirakan harga bawang putih akan terus turun hingga Rp 25 ribu – Rp 30 ribu. Sebab, sesuai informasi yang diterima dari pihak distributor di Nganjuk, stok komoditas itu sudah mulai normal. “Tidak langka lagi seperti sebelumnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan dan Usaha Mikro Kabupaten Madiun Anang Sulistijono, menilai penurunan harga itu merupakan dampak dari droping bawang putih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Menurut dia, daerah yang mendapat kiriman komoditas itu adalah Kota Madiun, Kota Kediri, Kota Malang, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kota Blitar, dan Kota Surabaya. Masing – masing daerah itu mendapatkan jumlah alokasi berbeda dari bawang putih yang merupakan stok lama. “Bukan yang impor” ujar Anang.

Meski tidak mendapat kiriman, namun bawang putih itu juga menyasar Kabupaten Madiun. Ini karena jejaring antarpedagang maupun dengan distributor. “Saya kira sesama pedagang memberi tahu tentang adanya kiriman bawang putih di delapan kota. Maka dimanfaatkan pedagang sehingga harga mulai turun,” kata Anang.

Baca juga : Sampai Akhir Tahun Stoc Beras Masih Teratasi

Penurunan harga diprediksi akan terus terjadi hingga beberapa hari ke depan. Sebab, dalam waktu dekat Pemprov Jawa Timur akan kembali melakukan droping bawang putih. Berdasarkan informasi yang diterima Anang, sebanyak 150 kontainer pengangkut komoditas impor sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. “Sekitar tiga hari lagi kemungkinan sudah dikirim ke daerah-daerah setelah masa karantina,” ujar dia.

Sampai Akhir Tahun Stoc Beras Masih Teratasi

Sampai Akhir Tahun Stoc Beras Masih Teratasi

Daftarhargakomoditi.web.id – Info dari pemerintahan untuk sekarang stoc beras dari petani Indonesia menurut pemerintahan sangat aman dan tidak ada masalah walaupun menuju sampai akhir tahun ini tetap dapat teratasi dengan baik.

Pembentukan harga beras di tingkat konsumen merupakan mekanisme pasar yang secara fundamental dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan. Namun demikian, Sesditjen Tanaman Pangan, Maman Suherman, menyatakan, kenaikan harga beras tidak langsung berkorelasi karena kurangnya produksi padi, tetapi lebih dipengaruhi oleh rantai pasok.

Berdasarkan data Angka Ramalan (ARAM) I, produksi padi 5 tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata 4,07 persen.

“Perhitungan yang telah disinkronkan antara Kementan dan BPS tersebut, menunjukkan bahwa produksi padi nasional pada 2018, diperkirakan 83,04 juta ton gabah kering giling (GKG). Apabila dikonversi ke beras menjadi 48,29 juta ton beras, sedangkan konsumsi beras diperkirakan 30,37 juta ton beras. Ini menunjukkan supply beras nasional masih aman sampai akhir tahun,” terang Maman.

Ia juga menambahkan, angka produksi beras bukan semata-mata hitungan Kementan, melainkan harus selalu berkoordinasi dengan BPS dalam peghitungan angka produksi.

“Selain itu, kami juga mencatat langsung riil kondisi di lapangan. Kami berkoordinasi dengan petugas pengumpul data tanam/panen dinas pertanian kabupaten/kota yang bertugas di tiap kecamatan, yang setiap harinya melaporkan luas tambah tanam padi. Jadi tidak benar dikatakan bahwa angka produksi hanya di atas kertas,” tegas Maman.

Terkait musim kemarau, produksi gabah di petani sangat berkaitan dengan ketersediaan air. Bagi lahan irigasi, air tersedia sepanjang tahun. Jikapun ada kekurangan saat kemarau panjang, kebutuhan air dapat dibantu pompa, baik dari bantuan pemerintah pusat/daerah maupun mandiri. Namun demikian, Maman menyatakan, kekeringan tidak melanda seluruh negeri, karena ada wilayah/daerah yang kondusif untuk ditanami. Ketika tanam kondusif, Kementan membantu percepatan dengan bantuan alat dan mesin pertanian untuk pengolahan tanah dan tanam.

Begitu juga saat panen, dipercepat dengan menggunakan mesin combine harvester dan bantuan alat pengering pasca panen. Kementan juga terus mendorong kecukupan produksi beras di perbatasan, dengan memberikan bantuan rice milling unit (RMU), agar petani tidak membeli beras dari luar wilayah.

Baca juga : Tembus Rp 50.000 Selama Menjelang Puasa Ramadan

Harga Beras Masih Stabil
Terkait dengan isu kenaikan harga beras, di tempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP), Gatut Sumbogodjati, mengatakan, yang perlu dicermati lagi adalah alur perdagangan beras memiliki rantai perdagangan yang cukup panjang. Rantai itu dimulai dari petani, pedagang pengumpul, penggilingan, industri beras, pasar induk, pedagang grosir, pasar retail baik pasar modern, pasar tradisional, sampai dengan warung/kios.

“Rantai pasok inilah yang menyebabkan disparitas harga di tingkat petani dengan konsumen,” tambah Gatut.

Tembus Rp 50.000 Selama Menjelang Puasa Ramadan

Tembus Rp 50.000 Selama Menjelang Puasa Ramadan

Daftarhargakomoditi.web.idMenjelang Lebaran kemarin membuat harga bawang putih paling tertinggi di tahun ini mencapai Rp 50.000  hal ini juga memberatkan konsumen sehingga mengurangi belanjaan bawang putih. Berikut ulasan lengkapnya.

Harga bawang putih di pasar tradisional, Pasar Legi Blitar, Telah menyentuh harga Rp 50 ribu per kilogram. Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak mengalami kenaikan selama satu bulan terakhir.

Mujiyati, seorang pedagang bawang di Pasar Legi Blitar mengatakan, bahwa harga bawang putih tiba-tiba melompat hari ini menjadi Rp 50 ribu atau naik sekitar Rp 6 ribu dibandingkan harga sehari sebelumnya.

“Kemarin Senin saya masih bisa jual Rp 44 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram,” ujar Mujiyati.

Mujiyati mengatakan, kenaikan terjadi lantaran pasokan bawang putih dari distributor besar yang memasok bawang putih ke Pasar Legi volumenya terus menurun. Mujiyati mengatakan, harga tersebut sudah dua kali lipat dibanding harga bawang putih dalam posisi normal yaitu antara Rp 24 ribu hingga Rp 25 ribu. Berdasarkan pantauan di pasar tradisional lain di Kota Blitar, yaitu Pasar Pon, kenaikan harga yang sama juga terjadi pada bawang putih.

“Iya, naik drastis yang bawang putih. Stok di pemasok menipis,” ujar Sulistiyani, pedagang bawang di Pasar Pon.

Harga bahan pangan mengalami kenaikan di Blitar dan sekitarnya sejak sekitar sebulan lalu sebagai dampak dari kenaikan kebutuhan menjelang bulan puasa Ramadan. Kenaikan harga diawali oleh bawang merah dan bawang putih, kemudian daging ayam dan daging sapi. Namun dari pantauan Suara.com, harga bawang merah menunjukan tren stabil di angka Rp 34 ribu per kilogram. Harga tersebut turun sekitar Rp 5 ribu per kilogram setelah sebelumnya sempat mendekati harga Rp 40 ribu per kilogram. Akhir pekan lalu, Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Kediri, Nasrullah mengatakan, kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan harga sayur mayur memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap kenaikan inflasi di daerah-daerah sekitar Kediri.

Baca juga : Wakil Bupati Banyuwangi Katakan Tidak Ada Harga Naik Di Pasar

Adapun harga beberapa komoditas bahan pangan lain di Pasar Legi per Selasa yang mengalami kenaikan adalah daging ayam Rp 33.000 per kilogram dan daging sapi Rp 120.000 per kilogram.

Wakil Bupati Banyuwangi Katakan Tidak Ada Harga Naik Di Pasar

Wakil Bupati Banyuwangi Katakan Tidak Ada Harga Naik Di Pasar

Daftarhargakomoditi.web.id – Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama-sama melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap harga kebutuhan pokok di beberapa pasar di Banyuwangi, Rabu (22/2). 05/2019). Ketika Rogojampi tiba di pasar, Yusuf mengunjungi toko kelontong, pedagang sayur dan penjual daging.

Dari hasil sidak tersebut, diketahui harga komoditas pangan di Banyuwangi selama Ramadan relatif stabil. Bahkan, harga sebagian komoditas harganya turun. Misalnya bawang putih, yang sebelum bulan puasa harganya Rp 80 ribu/kg, kini turun di kisaran Rp 25 ribu/kg. Komoditas lain seperti bawang merah, cabai, semua stabil bahkan cenderung turun.

Adapun harga barang kebutuhan pokok Pasar Rogojampi antara lain Rp 25 ribu/kg untuk bawang merah, cabai rawit Rp 10 ribu/kg, dan minyak goreng Rp 12,5 ribu/liter. Selain itu, daging sapi dijual Rp 115 – 120 ribu/kg, daging ayam Rp 30 – 32 ribu per kg, dan telur 21 – 23 ribu/kg. Kestabilan harga tersebut dibenarkan oleh sejumlah pedagang, salah satunya Asiyah pedagang telur di Pasar Rogojampi. Menurutnya, permintaan telur dari konsumen meningkat dua kali lipat selama Ramadan. Dari yang biasanya 25 peti telur per hari, kini dia harus menyediakan stok 50 peti per harinya.

“Meski permintaan meningkat, namun harga stabil bahkan cenderung turun. Turun Rp 1.000, dari yang semula Rp 22 ribu kini Rp 21 ribu per kilogram. Padahal, permintaan akan telur terus meningkat,” ucap Aisyah.

Meski harga kebutuhan pokok cenderung stabil, Yusuf tetap memerintahkan jajarannya untuk fokus mengawal agar tak ada lonjakan berarti.

“Pasar murah tetap dijalankan kerjasama dengan Bulog. TPID tetap kami minta terus mengawasi pergerakan harga untuk bisa menjaga harga. Kalau memang dibutuhkan, Bulog tadi menyatakan sudah siap untuk membuka lebih banyak pasar murah,” kata dia.

Baca juga : Jokowi Minta Menteri Jaga Harga Pangan Jelang Ramadhan

Sementara itu, Kepala Bulog Subdivre V Banyuwangi, David Susanto, menambahkan bahwa untuk menjaga stabilitas harga, pihaknya akan terus menggelar Operasi Pasar (OP) hingga menjelang Lebaran. Saat ini, OP digelar di tiga titik bersama Dinas Peridustrian dan Perdagangan Banyuwangi.

“Operasi terus kita gelar keliling Banyuwangi. Selain juga tentatif, kalau ada warga yang meminta untuk mengadakan pasar murah di arealnya, kita siap buka di sana,” ujarnya.

Khusus stok beras, di gudang Bulog saat ini ada 52 ribu ton beras. Jumlah ini, ucap David, bisa mencukupi stok hingga enam bulan ke depan karena Banyuwangi memasuki musim panen padi pada Juni.

“Untuk beras dijual dengan harga Rp 9.000/kg. Bahkan, di pasaran banyak ditemui harga beras di bawahnya. Kita juga ada stok komoditas lainnya yang cukup untuk kebutuhan Lebaran. Seperti gula pasir kita jual Rp 11 ribu, minyak goreng Rp 10.500/liter, gula pasir Rp 11.000/kg, tepung terigu Rp 8.500/kg,” kata dia.

Jokowi Minta Menteri Jaga Harga Pangan Jelang Ramadhan

Jokowi Minta Menteri Jaga Harga Pangan Jelang Ramadhan

Daftarhargakomoditi.web.id – Pemerintah Jokowi berusaha mengendalikan harga kebutuhan pokok di tingkat petani dan masyarakat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membangun pusat penyimpanan dingin untuk berbagai produk makanan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, dengan pembangunan cold storage ini maka akan menguntungkan para petani. Sebab, petani telah memasuki panen raya, setidaknya ada suatu tempat penyimpanan besar untuk hasil tani.

“Cabai turun harganya bawang merah, kemudian ayam, telur. Ini menjadi perhatian serius agar petani bisa berporduksi dan untung. Petani sederhana, bagaimana bisa untung. Mungkin satu bulan lalu masalah peternak ayam dan telur karena harga jatuh,” katanya saat ditemui di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Kamis (25/4/2019).

“Nah solusi permanen kami tawarkan adalah membangun cold storage untuk produk-produk pertanian kita yang mudah rusak,” tutur Amran.

Menurutnya, selama ini belum ada tempat penyimpanan dingin yang besar untuk hasil pertanian. Kebanyakan para petani justru menyimpan di tempat masing-masing, sehingga hasil panen yang dihasilkan pun menjadi rusak. Secara otomatis itu juga yang akan mempengaruhi harga jual pangan.

“Ini kan sederhana sebenarnya. Kalau ada penyimpanan ini. Kalau panen puncak kita menyerap dan memberi harga yang menguntungkan petani. Pada saat off season, panen rendah, paceklik, ini dikeluarin. Sehingga ke depan inflasi terjaga sepanjang masa,” katanya.

“Sekarang sudah dibangun di Brebes untuk bawang, kapasitasnya 380 ton sudah jadi, bawang merah dan cabai. Kami sampaikan ke Bulog agar menyerap langsung dari petani” sambungnya.

Di sisi lain, Amran juga memastikan beberapa komoditas pangan seperti daging, beras, cabai, ayam, gula, bawang hingga yang lainnya dipastikan semua terjaga stoknya. Bulog sendiri, kata dia sudah mulai menggelontorkan ke beberapa pasar.

“Sudah digelontorkan. sekarang bulog punya stok tadi,” pungkasnya.

Baca juga : Harga Daging Dan Telur Naik Jelang Ramadan

Jelang Ramadan, Jokowi Minta Para Menteri Jaga Harga Pangan
Tak lama lagi, bulan suci Ramadan tiba. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para menteri untuk menjaga stabilitas harga pangan agar umat Islam bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang.

“Ini sudah rutin. Mengingatkan agar stabilitas harga pangan dicek, dikontrol, agar tidak terjadi lonjakan harga, sehingga umat Islam bisa menjalankan ibadah, menyongsong Lebaran dengan tenang,” kata Jokowi, seperti dikutip dari Antara, Selasa (23/4/2019).

Menurut Jokowi, stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan selama puasa harus dilakukan agar dapat terjangkau dengan mudah oleh masyarakat. “Sehingga stabil dan masyarakat bisa nyaman menjalankan ibadah puasa dan ibadah dengan tenang,” katanya. Selain itu, Kepala Negara juga meminta bawahannya, yakni para menteri, kepala lembaga, seperti Panglima TNI dan Kapolri serta Kepala Badan intelijen Naisonal (BIN) menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat pascapemungutan suara Pemilu 2019.

“Saya minta menteri, kepala lembaga, Panglima dan Kapolri, BIN minta stabilitas keamanan dan ketertiban terus dijaga agar kondisi yang ada betul-betul kondusif,” katanya

Menurut Jokowi, kondisi saat ini wajar terjadi riak-riak kecil usai pesta demokrasi, tapi jangan menganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Hal ini diungkapkan Presiden Jokowi menanggapi beberapa kejadian usai pemungutan suara pada 17 April 2019.

Harga Daging Dan Telur Naik Jelang Ramadan

Harga Daging Dan Telur Naik Jelang Ramadan

Daftarhargakomoditi.web.id – Sebelum bulan suci Ramadhan, harga produk makanan naik. Ini tercermin dari harga ayam dan telur, yang terpantau naik di pasar Pondok Gede, Bekasi. Saat ini, kisaran harga daging ayam berukuran sedang mencapai Rp. 55 ribu per ekor, dari sebelumnya hanya sekitar Rp. 50 ribu per kepala.

Setiap hari ayamnya naik seribu per ekor, sudah dua minggu,” ujar Tardi, salah satu pedagang ayam di Pasar Pondok Gede.
Sedangkan untuk ayam yang berukuran kecil mencapai Rp 28 ribu per ekor, dari yang mulanya hanya Rp 25 ribu, dan untuk yang berukuran sedang naik Rp 2.000 per ekor menjadi Rp 32 ribu. Sedangkan untuk harga ayam hidup yang berukuran kecil yang mulanya hanya Rp 20 ribu per ekor menjadi Rp 25 ribu per ekornya. Sementara yang berukuran besar saat ini Rp 23 ribu per kilogram (kg). Namun meskipun naik, Tardi mengaku penjualannya terbilang normal dan tidak menurun.

Hal yang sama diungkapkan oleh pedagang ayam lainnya, salah satunya Mus. Ia mengaku saat ini meskipun ayam sedang mengalami kenaikan namun tidak membuat warungnya sepi. Tidak jauh berbeda dengan Tardi, harga daging ayam per ekor diwarung miliknya mencapai Rp 55 ribu per ekor, dari sebelumnya hanya Rp 50 ribu per ekor. Sedangkan yang berukuran sedang mencapai Rp 40 ribu per ekor, dari sebelumnya hanya Rp 35 ribu per ekor.

“Naiknya sih sudah agak lama, tapi ya itu sedikit-sedikit naik setiap harinya,” tutur Mus.

Tidak hanya harga daging ayam saja yang terpantau naik. Saat ini, harga telur ayam pun terpantau mulai naik meskipun tidak naik banyak seperti harga sang ayam.

“Naik Rp 1.000 per kg, tapi masih standar sih naiknya,” ujar salah satu pedagang telur Ipin.

Saat ini harga telur di warungnya yaitu Rp 24 ribu per kg, yang sebelumnya Rp 23 ribu per kg. Sama seperti daging ayam, meskipun harganya naik namun pembeli telur cenderung lebih banyak dibandingkan saat harganya normal.

“Biasanya orang-orang dari kampung banyak yang beli mba soalnya kan di sana stoknya enggak ada,” tambahnya.

Baca juga : Kemendag Pastikan 5000 Pasar Tercapai

Jelang Ramadan, Satgas Pangan Polri Cek Harga dan Stok Bahan Pokok
Jelang Ramadan, Satgas Pangan Polri mulai bergerak melakukan pengecekan ketersediaan stok bahan pokok di masyarakat. Termasuk juga menjaga kestabilan harga di pasar pada skala nasional.

“Karena menjelang Ramadan, kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan pokok ini pasti mengalami peningkatan,” tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2019).

Satgas Pangan Polri tentunya, lanjut dia, bekerja sama dengan setiap stakeholder terkait dalam operasi jelang Ramadan tersebut.

“Ketersediaan pangan harus cukup dengan harga-harga harus stabil. Itu yang dipersiapkan Polri dalam rangka menghadapi event nasional ke depan,” jelas dia.

Selain itu, polisi telah merancang Operasi Ketupat yang berlangsung selama Ramadan. Terlebih, pada bulan puasa ada gelaran penetapan hasil Pemilu 2019 yang jatuh pada 22 Mei.

“Dirancang berapa kekuatan personel yang dibutuhkan. Tentunya juga untuk kegiatan pentahapan pemilu. Penetapan hasil suara pemilu secara nasional tanggal 22 itu juga diantisipasi secara maksimal,” Dedi menandaskan.

Kemendag Pastikan 5000 Pasar Tercapai

Kemendag Pastikan 5000 Pasar Tercapai

Daftarhargakomoditi.web.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) optimis bahwa program pengembangan dan revitalisasi 5.000 pasar publik dapat dicapai pada akhir 2019. Program ini dilaksanakan untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di seluruh wilayah Indonesia.

Inspektur Jenderal Kemendag, Srie Agustina mengatakan, dari target 5.000 pasar rakyat yang di‎bangun dan direvitalisasi selama periode 2015-2019, hingga 2018 telah tercapai 4.200-an pasar. Hingga akhir tahun ini, diharapkan sisa pasar yang belum direvitalisasi bisa segera dirampungkan.

“Dari target 5.000 pasar itu, sudah tercapai 4.200 pasar,” ujar dia dalam Kongres Nasional Assessment Center Indonesia (KNACI) ke-5 di Jakarta.

Menurut Srie, revitalisasi pasar yang dilakukan oleh Kemendag selama ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing dari pasar tradisional di tengah tumbuhnya pasar-pasar modern di tanah air. Sehingga diharapkan pasar rakyat ini mampu meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

“Upaya untuk menumbuhkan ekonomi dengan melakukan revitalisasi pasar rakyat di seluruh Tanah Air supaya sama dengan pasar modern. Jadi lebih bersih dan tertata,” kata dia.

Terget Revitaslisasi Pasar Selama Lima Tahun
Sebelumnya, Kemendag menargetkan mampu merevitalisasi 5.248 pasar rakyat dalam 5 tahun atau untuk periode 2015 hingga 2019. Khusus di 2019 ini Kemendag menargetkan 1.037 unit pasar rampung terbangun. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, tahun ini merupakan tahun terakhir untuk mencapai target pembangunan atau revitalisasi 5.000 pasar rakyat.

“Hingga periode dari 2015-2018, sudah sebanyak 4.211 pasar telah berhasil direvitalisasi. Tahun ini kami targetkan 1.037 pasar rampung. Ada rencana untuk buat pasar induk baru di 2019, tapi jumlahnya tidak banyak,” ungkap dia.

Dengan target 1.037 pasar rakyat rampung, dipastikan target pemerintah dalam membangun 5 ribu pasar rakyat akan tercapai. Adapun rincian pasar rakyat yang dibangun pemerintah pada 2015 sebanyak 1.023 pasar, di tahun 2016 sebanyak 793 pasar, di 2017 sebanyak 851 pasar, dan di 2018 sebanyak 1.544 pasar. Dia menambahkan, untuk total dana yang akan dibutuhkan dalam membangun 5.248 pasar itu mencapai Rp 3,1 triliun.

“Total dana yang digunakan untuk revitalisasi pasar ini sekitar Rp 3,1 triliun,” tandasnya

Baca juga : Jelang Ramadan Harga Bawang Putih Turun

Kemendag Anggarkan Rp 1,1 Triliun Revitalisasi 1.037 Pasar di 2019
Dalam memperkuat ekonomi rakyat, Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus melanjutkan program revitalisasi pasar rakyat. Adapun target revitalisasi pasaroleh Kemendag selama periode 2015-2019 yaitu sebanyak 5.000 pasar rakyat. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti menuturkan, pemerintah telah merevitalisasi pasar rakyat sebanyak 4.211 unit yang dianggarkan melalui dana alokasi khusus dan tugas pembantuan. Tahun ini, direncanakan pembangunan pasar rakyat sebanyak 1.037 unit.

“Pasar rakyat merupakan sektor penggerak ekonomi kerakyatan. Dengan revitalisasi, eksistensi pasar rakyat akan tetap kuat dan daya saingnya terhadap toko-toko modern dapat meningkat sehingga dapat memajukan ekonomi kerakyatan,” ujarnya di Gedung Kemendag, Rabu (20/2/2019).

Dia menjelaskan, revitalisasi pasar rakyat tak hanya sekedar pembenahan bangunan fisik, tetapi juga nonfisik yang terkait dengan pengelolaan pasar dan integrasi dengan sektor-sektor lain.

“Pembenahan fisik tentu dapat meningkatkan citra pasar rakyat yang semula kumuh, becek, dan kotor menjadi bersih dan nyaman untuk dikunjungi, tetapi juga harus didukung dengan revitalisasi nonfisik yang meliputi revitalisasi manajemen, revitalisasi ekonomi, dan revitalisasi sosial,” ujarnya.

Jelang Ramadan Harga Bawang Putih Turun

Jelang Ramadan Harga Bawang Putih Turun

Daftarhargakomoditi.web.idHarga bawang putih mulai turun awal pekan ini. Sebelumnya, harga komoditas sudah mencapai Rp. 60 ribu per kilogram (kg). Hal ini diungkapkan oleh Johan, salah satu pedagang Pasar Pondok Gede, Bekasi. Dia menegaskan, saat ini harga bawang putih berada di kisaran Rp 56 ribu per kg.

Meskipun masih jauh dari harga normal, menurut Johan harga tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan Rp 60 ribu per kg. Hal senada juga diungkapkan oleh pedagang lain, yaitu Ali. Dia menyatakan harga bawang putih di warung miliknya saat ini berkisar Rp 58 ribu per kg.

“Masih mahal tapi standar sih dibanding kemarin. Sudah turun tiga harian,” ujar Ali pada Daftarhargakomoditi.web.id, di Bekasi, Senin (29/4/2019).

Selain bawang putih, bawang merah juga mengalami penurunan harga. Saat ini harga bawang merah berkisar Rp 32 ribu hingga Rp 38 ribu per kg. Tidak hanya itu, harga tomat pun juga sudah mulai turun sejak lima hari belakangan ini.

“Tomat udah agak turun Rp 16 ribu per kg, kan sebelumnya harganya Rp 18 ribu pee kg,” kata Ali.

Sementara itu, harga bawang bombay masih enggan turun di harga Rp 26 ribu per kg, yang sebelumnya hanya Rp 18 ribu per kg. Sedangkan untuk harga komoditas sayuran masih terpantau normal belum ada kenaikan sama sekali. Namun beberapa pedagang memprediksi harga-harga sayuran akan naik menjelang Ramadan.

Ada Menteri yang Belum Restui Bulog Impor Bawang Putih
Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) belum bisa mengimpor 100.000 ton bawang putih untuk memenuhi kebutuhan menjelang Ramadan. Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengungkapkan pelaksanaan impor tertunda karena belum mendapatkan restu dari seorang menteri. Budi Waseso menjelaskan, sebenarnya Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sudah memutuskan untuk menugaskan Perum Bulog mengimpor 100.000 ton bawang putih karena kebutuhan pasokan di pasaran.Menurut Budi Waseso, semua harga komoditas pangan menjelang Bulan Ramadan, sudah stabil karena stok dan pasokan melimpah, seperti beras. Namun terdapat satu komoditas pangan yang harganya masih fluktuatif dan pasokannya memang terhambat, yakni bawang putih.

Bulog diperintahkan menyediakan stok bawang putih dan itu sudah diputuskan di Rapat Koordinasi dipimpin Menko Perekonomian, tetapi ada salah satu menteri yang cara berpikirnya berbeda,” ungkapnya seperti dikutip dari Antara, Minggu (28/4/2019). Buwas, sapaan akrab Budi Waseso mengatakan akhirnya keputusan untuk impor bawang putih hingga hari ini belum bisa dilaksanakan. Hal itu juga, kata dia, yang membuat harga bawang putih di pasaran melejit pasalnya permintaan membludak sedangkan pasokan tidak memadai.

“Perintah kan sudah ada tetapi dibatalkan sepihak ya tanya yang membatalkan,” ujar dia tanpa menyebut identitas menteri tersebut.

Harga bawang putih di pasaran saat ini sudah mencapai Rp 60.000 per kilogram (Kg). Padahal, ujar Buwas, normalnya hanya Rp25.000 per Kg.

“Saya tidak tahu karena apa bisa batal. Sampai hari ini kasihan kan masyarakat, akibatnya jadi seperti itu. Sekarang ancamannya harga bawang putih meningkat dan itu yang memicu inflasi karena kebutuhan bawang putih,” jelasnya.

Jika izin tersebut terbit segera diterbitkan, Buwas berjanji akan segera mengeksekusinya. Dia juga akan menjual dengan harga standar dan tidak mencari keuntungan lebih karena ini adalah penugasan bukan tujuan komersial.

“Kita kan untuk penugasan sehingga masyarakat mendapatkan harga dan kualitas baik bawang putih dengan harga murah,” tandasnya.

Baca juga : Harga Minyak Dunia Menguat Karena OPEC

Kementan Pastikan Pasokan Cabai dan Bawang Merah Selama Ramadan Aman
Kementerian Pertanian memastikan pasokan cabai dan bawang merah dari beberapa daerah penghasil selama bulan suci Ramadhan hingga Idul Fitri tahun ini sangat mencukupi. Harga bawang merah dan cabai juga diprediksi kembali normal.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk menjaga pasokan dan stabilisasi harga, dua komoditas hortikultura yakni cabai dan bawang merah kami jamin aman, sangat mencukupi kebutuhan,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, disela-sela pertemuan pengamanan pasokan dan stabilisasi harga aneka cabe dan bawang menyambut Ramadhan dan Idul Fitri 2019 di Bogor, Jumat (26/4/2019).

Dia menjelaskan, kecukupan pasokan tersebut berasal dari panen raya bawang merah dan cabai yang terjadi di sentra-sentra besar pada Mei – Juni 2019. Terkait pasokan bawang putih, Suwandi memastikan akan segera terisi dari impor. Kementan sudah menerbitkan rekomendasi impor yang disusul dengan terbitnya izin impor dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) sejumlah sekitar 115 ribu ton.

“Terkait bawang putih, Kementan bersama dengan Kemendag kompak memastikan pasokan akan segera normal seiring dengan mulai diterbitkannya Surat Persetujuan Impor kepada beberapa importir. Artinya, pasokan cukup untuk kebutuhan puasa dan lebaran nanti. Surat rekomendasi impor berikutnya juga akan segera menyusul,” ucap Suwandi.

Lanjutnya, harga bawang merah saat ini sudah kembali normal. Harga di pasar induk sudah dibawah Rp 20 ribu per kilo. Pasokannya pun terjamin karena sentra-sentra besar, seperti Brebes, Nganjuk, Demak, Grobogan, dan Bima, saat ini sudah memasuki panen.

“Pasokan dan harga di Pasar Induk juga terpantau normal. Tren pasokan dan harga stabil ini akan terus berlanjut sampai lebaran nanti. Cabai rawit dan keriting pun sangat aman. Untuk jenis TW atau cabai merah besar dalam beberapa hari ke depan juga akan terkoreksi normal seiring panen di Parakan, Muntilan, hingga Pujon Malang. Aman semua,” kata Suwandi.