Harga minyak dunia mencapai level tertinggi sejak November 2018

Daftarhargakomoditi.web.id – Kinerja yang baik didorong oleh sentimen positif dari pembicaraan perdagangan AS dan China yang akan segera menghasilkan kesepakatan. Meskipun, dibayangi oleh rekor baru pasokan minyak AS.

Mengutip Reuters, Minggu (24/2), harga berjangka minyak mentah Brent telah mencapai 67,73 dolar AS per barel, level tertinggi tahun ini, pekan lalu. Namun, harga referensi minyak turun 5 sen menjadi US $ 67,12 per barel. Dalam satu minggu, Brent telah naik 1,2%.

Harga minyak dunia mencapai level tertinggi sejak pertengahan November 2018 pekan lalu (22/2). Pada saat yang sama menerbitkan kenaikan mingguan untuk tahun kedua berturut-turut.

Sementara harga minyak West Texas Intermediate naik 30 sen menjadi US $ 57,26 per barel, setelah mencapai US $ 57,81 per barel. Level tertinggi untuk tahun ini. Sedangkan untuk minggu ini, harga WTI mencatat kenaikan 3%.

Sehubungan dengan negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina, para pejabat senior kedua negara bertemu pada hari Jumat untuk menyelesaikan pembicaraan selama seminggu. Kedua belah pihak kemudian berjuang untuk mencapai kesepakatan sebelum batas waktu 1 Maret.

Presiden Lipow Oil Associates di Houston, AS, Andy Lipow mengatakan, harga minyak dan juga pasar saham telah naik untuk mengantisipasi bahwa China dan AS akan mencapai kata sepakat dalam perundingan dagang.

“Selain itu, kami melihat ada pengetatan pasokan minyak dari seluruh dunia yang dihasilkan dari pengurangan produksi OPEC [Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi] dan non-OPEC,” katanya dikutip dari Reuters.

Sejauh ini, kedua tolak ukur acuan harga minyak dunia telah melesat pada tahun ini, usai OPEC dan sekutu-sekutunya termasuk Rusia memangkas produksinya demi mencegah pasokan global berlimpah.

Baca juga : Penyebab Pasokan global minyak berpotensi tertekan dalam 6 bulan ke depan

Namun, lonjakan produksi minyak mentah AS selama ini, sebagian telah mengimbangi pemotongan tersebut.

Produksi minyak mentah AS pekan lalu naik ke rekor 12 juta barel per hari karena stok disiapkan untuk minggu kelima berturut-turut, ke level tertinggi sejak Oktober 2017.

Selain itu, ekspor minyak mentah AS juga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Demikian menurut laporan Energy Information Administration [EIA], minggu lalu.

“Kami melihat total produksi minyak mentah AS mencapai 13 juta per barel pada akhir tahun, dengan rata-rata 12,5 juta barel per hari,” tulis Citibank setelah EIA meliris laporannya.

Akan tetapi, firma jasa energi Baker Hughes melaporkan, perusahaan-perushaan energi AS telah mengurangi empat rig minyak yang beroperasi pada pekan lalu, setelah tiga pekan menambah tiga peralatan bor minyak tersebut.

Sementara itu, persediaan minyak mentah di Texas Barat turun ke level terendah dalam 4 bulan, usai pipa tambahan mulai mengangkut minyak mentah dari ladang serpih terbesar AS ke Gulf Coast. Sebagian besar untuk ekspor. Penyedia data pasar Greenscape menunjukkan hal tersebut.

Dengan melonjaknya pasokan AS, Goldman Sachs pmemperkirakan, suplai non-OPEC akan tumbuh sebesar 1,9 juta barel per hari pada tahun ini. Lebih dari mengimbangi potongan OPEC.

Artinya harga minyak banyak tergatung pada permintaan, yang menurut Goldman diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,4 juta barel per hari pada tahun ini. Bank investasi global tersebut pun memproyeksikan harga rata-rata Brent di kisaran US$60-US$65 per barel pada tahun ini dan tahun depan.