Australia mengeluh tentang lamanya pemrosesan batubara di pelabuhan Tiongkok

Daftarhargakomoditi.web.id – Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham mengatakan waktu pemrosesan untuk pengiriman batubara Australia telah meningkat menjadi hampir 40 hari, dari sekitar 25 hari. Menurutnya, ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemerintah Australia mengeluh tentang lamanya pemrosesan batubara di pelabuhan Cina. Mereka juga mencari klarifikasi dari pejabat di Canberra dan Beijing mengenai masalah ini.

Penundaan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa China bereaksi terhadap larangan Australia terhadap Huwaei Technologies, yang dapat memengaruhi pasar batubara global dan memengaruhi dolar Australia.

“Masalah internal China, termasuk masalah lingkungan dan perlindungan industri batubara lokal, mungkin juga memainkan peran [dalam hal ini],” katanya, dikutip Daftarhargakomoditi, Minggu (24/2).

Mengenai hal tersebut, Birmingham enggan membesar-besarkannya. Menurutnya kedua negara hingga kini masih memiliki hubungan dagang yang baik.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, spekulasi bahwa masalah penundaan tersebut karena pertengkaran diplomatik tidak membantu.

“Saya pikir risiko besar dari hal tersebut akan menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran di sektor pertambangan dan sumber daya kami,” katanya kepada Australian Associated Press, mengutip dari Daftarhargakomoditi.

Sementara itu, pada Jumat (22/), Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak ada larangan impor batu bara dari Australia. Untuk lamanya proses administrasi karena upaya pejabat bea cukai untuk menganalisis dan memantau kualitas batu bara impor.

Sebelumnya, laporan mengenai polemik impor batu bara Australia ke China ini dinilai tidak begitu berdampak pada pasar.

Dilansir dari Daftarhargakomoditi, Jumat (22/2), harga batu bara kokas keras premium di pasar spot yang dikirim dari Australia naik 3,8% pada Kamis (21/2) menjadi US$215,09 per ton, tertinggi sejak 2 januari. Demikian menurut perusahaan penyedia data Fastmarkets MB.

Baca juga : Harga minyak dunia mencapai level tertinggi sejak November 2018

Kabar pelarangan impor batu bara Australia ke China mengemuka, setelah Reuters melaporkan, pelabuhan Dalian, di Negeri Panda itu melarang impor komoditas tersebut.

Hal tersebut juga sehari setelah pasar dilanda pengurangan pasokan oleh Anglo American Plc yang menutup tambang produksi terbesarnya di Queensland, Australia.

Daniel Hynes, analis di Australia & New Zealand Banking Group Ltd mengatakan, jika terdapat larangan batu bara kokas, maka seharusnya berpengaruh pada pasar. Namun, katanya, sejauh ini bukan hal tersebut persoalannya.

“Batu bara kokas premium sebenarnya naik [harganya]. Obroal kami dengan klien dan orang-orang kami di lapangan menunjukkan bahwa [impor] batu bara masih berjalan,” katanya sambungan telepon, mengutip dari Daftarhargakomoditi, Jumat (22/2).

Australia merupakan produsen batu bara termal terbesar kedua di dunia, setelah Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Perindustrian, Inovasi, dan Sains Australia, volume ekspor batu bara termal negara tersebut diproyeksikan mencapai 209 juta ton pada periode 2019-2020. Adapun pada periode 2017-2018, volume ekspornya mencapai 203 juta ton.

China menjadi salah satu negara tujuan ekspor terbesar batu bara Australia. Volume ekspor komoditas itu ke China mencapai 30 juta ton pada 2017-2018, tumbuh tipis 3,4% dibandingkan volume ekspor 2016-2017 sebesar 29 juta ton.

Dalam laporan itu disebutkan, ekspor batu bara ke China melambat pada September dan Oktober tahun lalu disebabkan oleh pembatasan impor, depresiasi yuan, dan rebound dalam produksi domestik.